Genosida Zionis Meluas dari Gaza Hingga Tepi Barat
-
Pasukan rezim Zionis di Tepi Barat
ParsToday - Sumber-sumber berita melaporkan 54 warga Palestina terluka dalam serangan pasukan Zionis di Nablus, Tepi Barat.
Dalam serangan pasukan pendudukan Zionis dan pemukim di lingkungan Telfit, Kegubernuran Nablus, Tepi Barat, sebanyak 54 warga Palestina terluka. Menurut laporan ParsToday, Sabtu, 14 Februari 2026, sumber-sumber Palestina melaporkan terjadinya bentrokan antara pasukan Zionis dan pemuda Palestina di lingkungan tersebut. Pasukan Zionis menggunakan gas air mata untuk membubarkan para pemuda Palestina.
Koresponden Al Jazeera melaporkan bahwa pasukan pendudukan Israel menembakkan gas air mata dan peluru tajam secara langsung ke arah tim media Al Jazeera di Talfit, Nablus.
Tembakan Gas Air Mata ke Arah Jemaah di Timur Laut Ramallah
Sementara itu, sumber-sumber lokal melaporkan pasukan militer rezim Israel menembakkan gas air mata ke arah jemaah saat menggerebek lingkungan Kafr Malik di timur laut Ramallah.
Sumber-sumber Palestina menyatakan, bertepatan dengan pelaksanaan salat Jumat di Masjid Al-Aqsa, sekelompok pemukim bersenjata Zionis menyerbu area Al-Ghali di depan Bab Al-Asbath, salah satu gerbang Masjid.
Hamas: Netanyahu Lakukan Pembersihan Etnis terhadap Bangsa Palestina
Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) dalam sebuah pernyataan menyatakan serangan brutal pemukim dan pasukan militer Zionis terhadap desa Talfit di selatan Nablus dan berbagai wilayah Tepi Barat, yang disertai perusakan properti, peneror warga Palestina, dan penembakan langsung hingga melukai sejumlah warga, merupakan agresi kriminal dan kelanjutan dari aksi terorisme terorganisir yang dikelola rezim Zionis.
Pernyataan tersebut menegaskan Benjamin Netanyahu secara sistematis menjalankan kebijakan pembersihan etnis terhadap bangsa Palestina. Dengan membiarkan pemukim bersenjata bertindak leluasa di bawah perlindungan militer Zionis, ia menciptakan ruang bagi aksi kekerasan di kota-kota, desa-desa, dan kamp-kamp pengungsi di Tepi Barat.
Hamas menyeru masyarakat internasional, Perserikatan Bangsa-Bangsa, Liga Arab, dan Organisasi Kerja Sama Islam untuk mengutuk kejahatan rezim pendudukan di Tepi Barat dan mengambil langkah-langkah pencegahan terhadap proyek-proyek Yahudisasi, pemindahan paksa, dan aneksasi yang dijalankan rezim Zionis.
Gerakan ini juga meminta bangsa Palestina di Tepi Barat serta seluruh kelompok dan arus politik untuk bersatu menghadapi kebijakan-kebijakan tersebut, mengaktifkan segala bentuk perjuangan dan perlawanan, serta menegaskan hak mereka untuk mengakhiri pendudukan dan mendirikan negara Palestina merdeka dengan Quds sebagai ibu kotanya.
Tepi Barat di Ambang Ledakan
Majalah Foreign Policy dalam artikel analitis karya Shira Efron, peneliti kebijakan Israel di RAND Corporation, memperingatkan bahwa Tepi Barat berpotensi menjadi front ledakan berikutnya di Asia Barat di tengah percepatan perubahan yang dilakukan pemerintahan Benjamin Netanyahu.
Menurut analisis ini, sementara kawasan dilanda krisis seperti ketegangan dengan Iran, kekerasan berkelanjutan di Gaza, Hizbullah Lebanon kembali mempersenjatai diri, dan dinamika internal Suriah, perkembangan di Tepi Barat kurang mendapat perhatian, padahal faktor-faktor ketidakstabilan politik dan keamanan tengah terakumulasi di sana.
Sejak 7 Oktober 2023, bertepatan dengan dimulainya Badai Al-Aqsa, kehadiran militer rezim Zionis di Tepi Barat meningkat, pos pemeriksaan meluas, dan operasi militer mengalami intensifikasi, khususnya di kamp-kamp pengungsi. Bersamaan dengan itu, laju pembangunan pemukiman dan legalisasi pos-pos ilegal semakin cepat, sementara kekerasan pemukim menjadi peristiwa hampir setiap hari.
Foreign Policy melaporkan kabinet keamanan rezim Zionis telah mengesahkan sejumlah langkah yang membawa aneksasi praktis ke tingkat legal, termasuk memudahkan penjualan tanah kepada pemukim dan memperluas kewenangan di Area A dan B. Menteri Keuangan Rezim Zionis, Bezalel Smotrich, menyatakan tujuan kebijakan ini adalah menghancurkan gagasan pendirian negara Palestina.(sl)