Pawai 22 Bahman Jadi Penolakan terhadap Intervensi Amerika
-
Ruhollah Lak Aliabadi, anggota Majelis Syura Islam Iran
ParsToday - Anggota Majelis Syura Islam Iran menegaskan bahwa negosiasi yang cerdas tanpa mengabaikan kekuatan pertahanan merupakan strategi utama negara dalam menghadapi situasi kritis saat ini.
Ruhollah Lak Aliabadi, anggota Majelis Syura Islam Iran, dalam wawancara dengan Kantor Berita Majelis, Sabtu, 14 Februari 2026, merujuk pada kondisi regional dan internasional yang kritis, menekankan bahwa untuk mengamankan kepentingan nasional, tidak cukup hanya mengandalkan satu jalur. Diplomasi, operasi militer, dan ekonomi merupakan satu kesatuan yang saling terkait.
Menurut laporan ParsToday, Aliabadi menegaskan pentingnya penguatan simultan antara diplomasi dan kekuatan pertahanan. Ia menyatakan Republik Islam senantiasa berupaya mencegah terjadinya perang, namun jika perang dipaksakan, bangsa Iran akan berdiri dengan kekuatan penuh.
Aliabadi mengingatkan bahwa diplomat Iran menguasai baik medan pertempuran maupun diplomasi. Amerika Serikat, dengan memanfaatkan perang media dan politik "wortel dan tongkat", berupaya mempengaruhi opini publik. Namun Iran telah menunjukkan kemampuannya merespons perang hibrida ini secara cerdas. Ia menegaskan kemampuan rudal dan masalah pertahanan merupakan garis merah Iran, dan menyerah dalam hal ini adalah kesalahan strategis.
Bahonar: Pawai 22 Bahman Penolakan Besar Kebijakan Intervensi AS
Mohammad Reza Bahonar, Sekretaris Jenderal Masyarakat Insinyur Islam Iran, menyatakan pawai rakyat Iran pada 22 Bahman merupakan "penolakan" besar terhadap kebijakan intervensi dan sanksi zalim Amerika. Pesan tegas ini menyatakan bahwa bangsa Iran tidak tunduk pada pemaksaan dan tidak menggantungkan nasibnya pada kehendak kekuatan asing.
Ia menambahkan bahwa kehadiran luas masyarakat, termasuk mereka yang bergulat dengan masalah ekonomi tetapi tetap berpegang pada cita-cita nasional, merupakan pengakuan praktis atas kecintaan bangsa terhadap Revolusi Islam dan pemeliharaan Iran yang bersatu.
Bahonar mengatakan dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah media berbahasa Persia yang berseberangan berupaya menampilkan citra Iran yang terisolasi dan putus asa. Namun, gambar jutaan peserta pawai 22 Bahman telah menantang narasi mereka dan menunjukkan bahwa masyarakat Iran, meskipun memiliki perbedaan pandangan, tetap membela kedaulatan dan integritas teritorialnya dalam menghadapi ancaman eksternal.
Ameli: Patuh kepada Pemimpin, Rakyat Menggagalkan Godaan Musuh
Sayid Saeid Reza Ameli, Dekan Fakultas Studi Dunia Universitas Tehran, Jumat malam dalam wawancara khusus televisi Iran menggambarkan kehadiran jutaan orang dalam pawai 22 Bahman 1404 HS sebagai perwujudan "keagungan peradaban bangsa Iran".
Dengan menekankan ketahanan 47 tahun bangsa Iran melawan sistem hegemoni, ia menyatakan, "Semua penilaian dunia tentang Iran adalah bahwa meskipun menghadapi tekanan berat, kehadiran dan ketahanan bangsa ini pada momen-momen historis menunjukkan eksistensi yang beridentitas."
Ameli merujuk pada pencitraan media yang berseberangan dengan Iran dan mengatakan, "Meskipun suasana sarat propaganda dan upaya musuh untuk menggoda masyarakat, rakyat dengan indah mematuhi panggilan Pemimpin Revolusi dan menampilkan kehadiran peradaban mereka pada peringatan ke-47 kemenangan revolusi."
Dengan menyoroti kehadiran seluruh lapisan masyarakat, dari anak kecil hingga lanjut usia, dalam pawai 22 Bahman, ia mengatakan, "Keluarga Iran dalam epik agung ini menjadi simbol kohesi sosial dan loyalitas terhadap cita-cita revolusi dan kepemimpinan."
Beheshtipour: Isu Utama Negosiasi adalah Mengakhiri 'Pengayaan Nol'
Hassan Beheshtipour, pakar hubungan internasional, Jumat dalam wawancara dengan ISNA mengenai negosiasi Iran-AS menyatakan bahwa pihak Amerika masih menekankan pembahasan isu rudal dan regional, dan tetap pada tuntutan pengayaan nol. Sementara Iran siap menunjukkan fleksibilitas dalam isu nuklir, namun kecil kemungkinan mundur dalam isu rudal karena menyangkut aspek pertahanan.
Terkait tenggat waktu satu bulan Trump, Beheshtipour mengatakan penetapan tenggat waktu dimaksudkan agar negosiasi tidak berlarut-larut, dan Iran pun tidak ingin membuang-buang waktu. Trump menginginkan kesepakatan yang berbeda dengan JCPOA, tapi secara keseluruhan kedua pihak tampaknya bergerak menuju solusi bersama.
Kayhan: Perang dengan Iran Bukan Perkara Mudah
Harian Kayhan dalam kolom berita khususnya mengutip Richard Haass, pakar dan mantan ketua Dewan Hubungan Luar Negeri AS, yang menyatakan bahwa perang dengan Iran bukan perkara mudah karena negara ini memiliki berbagai kemampuan untuk melakukan balasan beragam.
Haass menegaskan penggunaan kekuatan militer terbatas terhadap Iran tidak akan membuahkan hasil besar, dan hal terakhir yang diinginkan Trump adalah perang besar-besaran dengan Iran. Ia menambahkan Iran memiliki berbagai kemampuan untuk membalas terhadap pelayaran, pasukan AS di kawasan, dan Israel.(sl)