Krisis Politik di Israel; Gallant Sebut Netanyahu Pembohong
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i185372-krisis_politik_di_israel_gallant_sebut_netanyahu_pembohong
ParsToday - Benjamin Netanyahu dan Yoav Gallant, dua tokoh sentral Israel, kini terlibat dalam pertarungan sengit yang belum pernah terjadi sebelumnya. Keduanya saling berhadapan terkait penolakan tanggung jawab atas kekalahan besar 7 Oktober 2023.
(last modified 2026-02-13T09:08:49+00:00 )
Feb 13, 2026 16:07 Asia/Jakarta
  • Benjamin Netanyahu dan Yoav Gallant
    Benjamin Netanyahu dan Yoav Gallant

ParsToday - Benjamin Netanyahu dan Yoav Gallant, dua tokoh sentral Israel, kini terlibat dalam pertarungan sengit yang belum pernah terjadi sebelumnya. Keduanya saling berhadapan terkait penolakan tanggung jawab atas kekalahan besar 7 Oktober 2023.

Krisis politik dan keamanan di Wilayah Pendudukan pasca-7 Oktober 2023 tidak mereda. Sebaliknya, konflik ini memasuki fase yang lebih dalam dan penuh ketegangan. Menurut laporan ParsToday, Jumat, 13 Februari 2026, apa yang bermula sebagai kegagalan militer dan intelijen yang luar biasa kini berubah menjadi arena pertarungan wacana dan pertanggungjawaban. Dua tokoh utama berada di pusat pusaran ini: Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Perang Yoav Gallant.

Akar Konflik; dari Kabinet hingga Pemecatan

Perselisihan Netanyahu dan Gallant lahir dari rahim kekalahan itu. Ketika sejumlah komandan militer dan pejabat intelijen menerima tanggung jawab atas kegagalan 7 Oktober, Netanyahu justru menolak. Ia berupaya mengalihkan kesalahan kepada keputusan militer dan kabinet-kabinet sebelumnya. Gallant, yang saat itu menjabat Menteri Perang, berada dalam posisi yang sulit. Ketegangan keduanya sejatinya sudah membara sebelum 7 Oktober. Namun pemecatan Gallant pada akhir 2024 menjadi titik balik yang membuka pintu bagi konfrontasi terbuka.

Dokumen 55 Halaman; Upaya Netanyahu Menulis Ulang Sejarah

Percikan baru dalam pertarungan ini dipicu oleh dokumen setebal 55 halaman yang dirilis Netanyahu. Ia berusaha mengukuhkan narasinya tentang peristiwa menjelang 7 Oktober. Melalui publikasi selektif risalah rapat keamanan dan politik, Netanyahu mencitrakan diri sebagai politisi yang vokal dan keras terhadap Hamas. Ia menuding pihak lain meremehkan ancaman. Pengamat menilai dokumen itu bukan bentuk transparansi, melainkan manuver pengalihan isu. Netanyahu kembali menempatkan militer dan badan intelijen sebagai tersangka utama.

Gallant: "Netanyahu Pembohong"

Respons Gallant terhadap dokumen itu keras dan tak biasa. Dalam wawancara televisi, ia terang-terangan menyebut Netanyahu "pembohong". "Saat tentara Israel gugur di medan, perdana menteri hanya sibuk menyelamatkan kursinya sendiri", ujar Gallant. Ia menegaskan penerbitan dokumen itu adalah langkah terencana untuk mengarahkan amarah publik kepada komandan militer dan kepala badan keamanan dalam negeri. Gallant menuduh Netanyahu mengadu domba menteri kabinet dengan jenderal militer demi mengelak dari tanggung jawab.

Rafah; Sengketa Lain yang Memicu Ketegangan

Keputusan memasuki Rafah menjadi titik sengketa lain. Netanyahu mengklaim penundaan operasi disebabkan kekhawatiran militer. Gallant membantah. Ia menyebut penyebab utamanya adalah kekurangan peralatan dan fokus pada front utara. Gallant melontarkan pernyataan yang cepat viral: "Prioritas Netanyahu adalah dirinya sendiri, kemudian kabinetnya, dan terakhir Israel." Ia juga menyanggah klaim Netanyahu mengenai peran Amerika dalam kelangkaan amunisi.

Menjelang Pemilu; Pertarungan Opini Publik

Keluarnya Gallant dari kebisuan bukan kebetulan. Wilayah Pendudukan tengah bersiap menuju pemilu. Suasana politik kian terpolarisasi. Survei menunjukkan sebagian besar masyarakat Israel menginginkan akhir era Netanyahu. Dalam situasi demikian, pertarungan narasi menjadi krusial. Gallant memosisikan diri sebagai saksi dari dalam sistem yang tak lagi menutupi kebenaran.

Yang berlangsung di Wilayah Pendudukan saat ini bukan sekadar konflik elektoral. Ini adalah peperangan atas memori kolektif dan tanggung jawab sejarah. Banyak pihak membandingkan krisis ini dengan dampak perang 1973. Namun mereka menilai pukulan 7 Oktober lebih dalam dan permanen.

Kekalahan itu telah mencoreng citra militer dan pimpinan politik Israel. Kepercayaan publik merosot ke titik terendah. Dalam situasi ini, pertarungan narasi akan terus berlanjut. Setiap pihak berupaya memenangkan wacana sebagai kebenaran tunggal.

Pertanyaan besarnya kini: narasi siapa yang pada akhirnya akan membekas di benak masyarakat Israel, dan siapa yang harus membayar harga atas kekalahan paling telak dalam sejarah rezim ini.(sl)