Trump: Kesepakatan Terbatas atau Tunduk pada Tuntutan Tel Aviv?
https://parstoday.ir/id/news/world-i185342-trump_kesepakatan_terbatas_atau_tunduk_pada_tuntutan_tel_aviv
ParsToday – Fluktuasi pernyataan resmi Presiden Amerika Serikat mengenai Iran, mulai dari pengiriman armada kapal perang hingga wacana non-nuklir, serta isyarat kesiapan untuk kesepakatan yang hanya mencakup isu nuklir, mencerminkan ambiguitas strategis di Washington. Keraguan ini semakin mencuat di tengah kunjungan Perdana Menteri Rezim Zionis Israel ke Washington dan meningkatnya tekanan dari kelompok lobi pro-Israel.
(last modified 2026-02-13T09:20:05+00:00 )
Feb 12, 2026 16:30 Asia/Jakarta
  • Presiden AS Donald Trump
    Presiden AS Donald Trump

ParsToday – Fluktuasi pernyataan resmi Presiden Amerika Serikat mengenai Iran, mulai dari pengiriman armada kapal perang hingga wacana non-nuklir, serta isyarat kesiapan untuk kesepakatan yang hanya mencakup isu nuklir, mencerminkan ambiguitas strategis di Washington. Keraguan ini semakin mencuat di tengah kunjungan Perdana Menteri Rezim Zionis Israel ke Washington dan meningkatnya tekanan dari kelompok lobi pro-Israel.

Media Amerika Axios baru-baru ini melaporkan pernyataan Donald Trump tentang pengiriman armada maritim ke Asia Barat serta desakannya agar program rudal Iran dimasukkan dalam setiap kesepakatan potensial. Sikap ini kontras dengan pernyataan Trump sebelumnya yang menegaskan bahwa negosiasi hanya sebatas isu nuklir. Bahkan, Trump sempat merespons positif pertanyaan mengenai kemungkinan kesepakatan yang hanya mencakup isu nuklir.

Menurut laporan ParsToday yang dikutip dari IRNA, Wakil Presiden AS J.D. Vance menyatakan bahwa Trump telah menginstruksikan pejabat senior pemerintahannya untuk bekerja mencapai kesepakatan yang mencegah Iran memperoleh senjata nuklir. Para pengamat menilai perubahan tuntutan, dari kesepakatan komprehensif ke kerangka nuklir terbatas, dapat mengindikasikan kebimbangan atau taktik baru dalam kebijakan luar negeri Washington.

Republik Islam Iran berulang kali menegaskan bahwa kemampuan pertahanan dan program rudalnya bukanlah subjek perundingan. Menteri Luar Negeri Iran, Sayid Abbas Araghchi, dengan tegas menyatakan bahwa rudal Iran tidak dan tidak akan pernah menjadi bahan negosiasi. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei Hamaneh, dalam wawancara dengan PBS Amerika menegaskan bahwa Tehran siap berdialog dalam kerangka hukum internasional dan keanggotaannya pada NPT mengenai tingkat pengayaan dan stok nuklir. Ia kembali menekankan bahwa senjata nuklir tidak memiliki tempat dalam doktrin pertahanan Iran.

Perubahan nada Trump yang bertepatan dengan kunjungan Netanyahu ke Washington memperkuat spekulasi tentang pengaruh pertimbangan politik domestik dan tekanan lobi pro-Israel. Perdana Menteri rezim Zionis secara konsisten mendesak perluasan ruang lingkup negosiasi mencakup isu rudal dan pengaruh regional Iran.

Setelah pertemuan tiga jam dengan Netanyahu, Trump mengumumkan bahwa tidak ada keputusan akhir yang dicapai, tapi negosiasi dengan Iran harus dilanjutkan. Ia menegaskan bahwa jika memungkinkan, kesepakatan adalah opsi yang lebih diutamakan Washington. Dalam kesempatan tersebut, Trump juga merujuk pada serangan Juni 2025 terhadap fasilitas nuklir Iran dan mengklaim bahwa Tehran harus bersikap "lebih rasional".

Dengan demikian, Gedung Putih saat ini berada di persimpangan dua pilihan: melanjutkan tekanan maksimum dengan risiko eskalasi, atau fokus pada kesepakatan nuklir terbatas dan terkendali. Pilihan ini tidak hanya akan menentukan arah hubungan Tehran-Washington, tetapi juga stabilitas kawasan secara keseluruhan.(sl)