Giuliano Bifolchi: Iran Makin Tangguh di Tengah Gempuran Barat
https://parstoday.ir/id/news/world-i190458-giuliano_bifolchi_iran_makin_tangguh_di_tengah_gempuran_barat
Pars Today - Analis geopolitik Italia mengatakan: "Tehran berupaya, di samping menjaga keamanan regional, meningkatkan tekanan pada Washington dan sekutunya."
(last modified 2026-05-26T13:58:35+00:00 )
May 26, 2026 20:45 Asia/Jakarta
  • Giuliano Bifolchi, analis geopolitik Italia
    Giuliano Bifolchi, analis geopolitik Italia

Pars Today - Analis geopolitik Italia mengatakan: "Tehran berupaya, di samping menjaga keamanan regional, meningkatkan tekanan pada Washington dan sekutunya."

Dalam wawancara eksklusif dengan Pars Today, Giuliano Bifolchi, analis geopolitik Italia, mengkaji dimensi strategis, politik, dan geopolitik dari ketegangan terbaru di Teluk Persia dan konfrontasi yang lebih luas antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

 

Bifolchi, yang merupakan Direktur Penelitian di SpecialEurasia dan pakar masalah Rusia, Asia Tengah, Kaukasus, dan kawasan pasca-Soviet, percaya bahwa krisis saat ini melampaui sekadar konfrontasi militer dan mencerminkan persaingan yang lebih luas atas pengaruh regional, keamanan energi, dan pembentukan narasi internasional. Dalam wawancara ini, ia membahas strategi pencegahan (deteren) Iran yang terus berkembang, signifikansi strategis Selat Hormuz, perpecahan politik di Washington dan Tel Aviv, meningkatnya peran diplomatik Tiongkok di Teluk Persia, dan pentingnya kerja sama energi yang muncul di kawasan.

 

Teks lengkap wawancara ini adalah sebagai berikut:

 

1. Mengingat perkembangan terbaru di Selat Hormuz, bagaimana Iran berupaya untuk menjaga keamanan regional dan pada saat yang sama merespons tekanan eksternal dengan tegas? Tanda-tanda apa yang menunjukkan bahwa kebijakan Iran telah melampaui sekadar pencegahan (deteren) dan mencapai penggunaan aktif kemampuan strategisnya?

 

Iran telah berupaya menjaga keamanan regional melalui strategi yang menggabungkan pencegahan dan tekanan militer yang terukur. Awalnya, pendekatan Tehran terutama didasarkan pada pencegahan, berfokus pada pengembangan infrastruktur militer, sistem rudal, dan kemampuan strategis; kemampuan yang dirancang untuk menghadapi potensi ancaman dari Amerika Serikat dan Israel. Tujuan dari pendekatan ini adalah untuk menciptakan semacam keseimbangan pertahanan untuk mencegah konfrontasi langsung.

 

Namun, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa kebijakan Iran telah melampaui pencegahan semata. Tehran tidak hanya menunjukkan kepemilikan aset dan kapasitas strategis militer, tetapi juga menunjukkan kesiapan dan kemampuan operasionalnya untuk menggunakannya. Ini termasuk mengirimkan pesan tentang kesiapan untuk menargetkan tidak hanya fasilitas militer AS dan Israel, tetapi juga pangkalan militer negara-negara Arab Teluk yang bersekutu dengan Washington. Dengan cara ini, Iran berupaya memberikan tekanan pada Amerika Serikat, baik secara langsung maupun tidak langsung, melalui mitra regional AS.

 

Tindakan-tindakan ini menunjukkan masuknya Iran ke tahap baru dalam strategi militer dan posisi geopolitiknya. Iran sekarang, alih-alih hanya mengandalkan pencegahan defensif, menunjukkan kemampuannya untuk menggunakan kekuatan dan menggunakan kemampuan rudalnya sebagai alat untuk tekanan regional. Perubahan ini menunjukkan doktrin yang lebih tegas yang bertujuan untuk mendefinisikan ulang perhitungan strategis di Teluk Persia dan menunjukkan fakta bahwa setiap eskalasi ketegangan di kawasan dapat meluas melampaui konfrontasi langsung Iran-AS atau Iran-Israel.

 

2. Bagaimana perbedaan politik di Amerika Serikat dan mendekatnya pemilu mempengaruhi pengambilan keputusan di Washington dan Tel Aviv tentang ketegangan regional? Dapatkah situasi ini menciptakan lebih banyak ruang bagi Iran untuk memajukan posisinya dengan tegas sambil menghindari perang skala penuh?

 

Perbedaan politik di dalam Amerika Serikat, bersama dengan mendekatnya pemilu paruh waktu, telah memberikan dampak signifikan pada proses pengambilan keputusan di Washington dan Tel Aviv. Bagi Donald Trump, pemilu 2026 memiliki signifikansi strategis yang tinggi karena akan sangat menentukan masa depan keseimbangan kekuatan di Kongres dan tingkat kekuatan politik pemerintahannya. Lanskap politik AS saat ini menunjukkan peningkatan tekanan internal, polarisasi masyarakat, dan ketidakpastian tentang pilihan kebijakan luar negeri pemerintah.

 

Dari perspektif ini, berkas Asia Barat sangat terkait dengan perhitungan politik internal. Meskipun pemerintahan Trump berusaha menampilkan citra kekuatan di arena internasional, perkembangan regional sejauh ini belum membuahkan keberhasilan strategis yang jelas bagi Washington. Dalam beberapa kasus, pejabat AS dan anggota pemerintahan telah menyajikan narasi yang kontradiktif tentang tujuan konflik di Asia Barat, yang menyebabkan ketidakpastian tentang tujuan sebenarnya dan prospek akhir perang.

 

Sementara itu, pemerintah Israel juga menghadapi tekanan internal yang serius. Benjamin Netanyahu masih menghadapi tantangan politik dan hukum, dan pada saat yang sama berusaha mempertahankan posisinya menjelang pemilihan mendatang. Akibatnya, baik Washington maupun Tel Aviv berada di bawah tekanan untuk memberikan hasil nyata yang dapat disajikan di dalam negeri sebagai kemenangan politik atau strategis.

 

Situasi ini dapat menciptakan dua skenario yang mungkin terjadi. Skenario pertama adalah Amerika Serikat akan berupaya mengelola ketegangan regional melalui kerangka diplomatik dan ekonomi, menampilkan de-eskalasi sebagai keberhasilan politik menjelang pemilu. Kemungkinan kedua adalah bahwa dengan meningkatnya tekanan pemilu, Washington dan sekutu regionalnya, terutama Israel, akan mencari pencapaian militer yang lebih jelas untuk memperkuat posisi politik internal mereka. Dalam situasi seperti itu, dukungan untuk intervensi militer lebih lanjut atau eskalasi ketegangan regional yang lebih luas dapat meningkat.

 

Pada saat yang sama, situasi ini dapat menciptakan lebih banyak ruang bagi Iran untuk memantapkan dan memperkuat posisi regionalnya sambil menghindari perang skala penuh. Tehran mungkin memperhitungkan bahwa Amerika Serikat dan Israel menghadapi kendala serius karena pertimbangan politik internal mereka serta risiko memasuki konflik berkepanjangan lain di kawasan tanpa jaminan pencapaian strategis.

 

3. Pada saat narasi media Barat berbeda dengan realitas lapangan, sejauh mana Iran telah berhasil memposisikan dirinya di opini publik global sebagai negara yang kuat tetapi pada saat yang sama tertekan dan menghadapi ketidakadilan?

 

Perbedaan penting harus dibuat antara narasi tradisional media Barat dan ruang informasi yang terbentuk di platform independen dan jejaring sosial. Sementara banyak media arus utama Barat masih menggambarkan Iran terutama sebagai aktor pengganggu stabilitas dan ancaman regional, ruang media alternatif dan platform digital telah memungkinkan Tehran untuk menyampaikan narasinya sendiri secara lebih langsung kepada khalayak internasional.

 

Dalam kerangka ini, perkembangan Asia Barat baru-baru ini telah menciptakan keuntungan strategis yang penting bagi Iran di bidang komunikasi dan opini publik. Tehran telah menjalankan apa yang bisa disebut kampanye komunikasi strategis yang relatif efektif melalui pernyataan resmi, pesan media, dan perilisan video serta gambar militer. Akibatnya, Iran telah mampu menjangkau bagian yang lebih luas dari opini publik global di luar kerangka media tradisional Barat.

 

Pada saat yang sama, jelas bahwa sebagian besar opini publik, terutama di AS dan sebagian Eropa, masih mendukung Washington dan Tel Aviv serta melihat Iran sebagai ancaman keamanan. Namun, peristiwa beberapa bulan terakhir tampaknya telah membuat Tehran mendapatkan pendukung dan simpatisan baru, serta memperkuat narasi alternatif yang menggambarkan Iran sebagai negara yang tertekan, menghadapi permusuhan eksternal, dan menjadi sasaran ketidakadilan politik dan strategis.

 

Selain itu, kemampuan militer Iran di lapangan juga telah memperkuat persepsi ini di tingkat internasional. Secara khusus, operasi yang menargetkan fasilitas militer AS di negara-negara Teluk yang bersekutu serta tindakan terhadap kepentingan Israel telah menciptakan citra Iran yang menunjukkan bahwa meskipun ada sanksi, isolasi diplomatik, dan tekanan militer, negara ini mampu membebankan biaya yang signifikan kepada AS dan sekutu regionalnya. Hal ini telah memperkuat persepsi di antara sebagian opini publik global bahwa Tehran tidak hanya tahan terhadap tekanan eksternal tetapi juga merupakan kekuatan regional yang berpengaruh dan tangguh.

 

4. Sejauh mana peningkatan peran diplomatik Tiongkok di Teluk Persia dapat memainkan peran penyeimbang dan peredam ketegangan? Mengapa menjaga stabilitas dan menghormati peran regional Iran penting bagi Beijing secara strategis?

 

Peningkatan peran diplomatik Tiongkok di Teluk Persia mencerminkan baik kebutuhan strategis maupun ambisi geopolitik Beijing. Tiongkok sangat membutuhkan stabilitas di kawasan Teluk Persia karena keamanan ekonomi dan energinya bergantung pada aliran minyak dan gas yang tidak terputus dari Asia Barat, termasuk dari Iran. Ketergantungan ini menjadi lebih signifikan di tengah meningkatnya persaingan geopolitik dan ketidakstabilan regional.

 

Dari sudut pandang Beijing, Iran tidak hanya pemasok energi penting tetapi juga mitra geopolitik kunci dalam upaya Tiongkok yang lebih luas untuk memperkuat pengaruhnya dalam tatanan internasional. Akibatnya, penting bagi Tiongkok bahwa Tehran tidak sepenuhnya condong ke Barat, karena pergeseran semacam itu dapat melemahkan posisi Beijing di Asia Barat dan membatasi aksesnya ke salah satu mitra regionalnya yang paling penting.

 

Pada saat yang sama, Tiongkok berusaha memposisikan dirinya sebagai aktor yang bertanggung jawab dan mediator diplomatik, dan berupaya memainkan peran peredam ketegangan dengan menekankan dialog, de-eskalasi, dan menjaga jalur pelayaran tetap terbuka. Namun, peran praktis Tiongkok masih terbatas, karena Beijing tidak bersedia menerima biaya politik dan militer dari intervensi langsung.

 

Oleh karena itu, Tiongkok lebih berperan sebagai pendukung diplomasi dan pembangun stabilitas tidak langsung daripada kekuatan intervensionis, dan ini menunjukkan keterbatasan pengaruhnya meskipun kehadiran ekonomi dan politiknya di kawasan terus berkembang.

 

5. Bagaimana seharusnya ketiadaan sikap tunggal dari BRICS tentang keamanan maritim dan Selat Hormuz ditafsirkan? Apakah ini mencerminkan ketergantungan beberapa anggota pada kebijakan keamanan AS, sementara Iran terus menekankan kemandirian dan keamanan regional?

 

Ketiadaan sikap terpadu di BRICS tentang keamanan maritim dan Selat Hormuz mencerminkan keterbatasan struktural dan kontradiksi internal yang masih mendefinisikan organisasi ini. BRICS, seperti banyak lembaga internasional lainnya, meskipun signifikansi geopolitiknya meningkat, masih kurang memiliki visi strategis yang kohesif dan pendekatan tunggal terhadap krisis internasional besar.

 

Salah satu alasan utama untuk keragaman ini adalah perbedaan kepentingan di antara para anggota. Beberapa negara BRICS memiliki hubungan politik, ekonomi, dan keamanan yang penting dengan Amerika Serikat dan, dalam beberapa kasus, dengan Israel. Sebagai contoh, India memiliki hubungan strategis yang erat dengan Washington dan pada saat yang sama berusaha menjalankan kebijakan regional dan ekonomi independennya sendiri. Hal ini secara alami membatasi kemungkinan untuk mengadopsi sikap bersama dan konfrontatif tentang keamanan Teluk Persia atau kebijakan terkait Iran.

 

Pada saat yang sama, beberapa anggota mungkin juga secara tidak langsung diuntungkan oleh ketidakstabilan di Selat Hormuz. Sebagai contoh, Rusia dapat memperoleh keuntungan ekonomi dari gangguan di pasar energi global, terutama melalui kenaikan harga minyak dan gas yang memperkuat pendapatan energi dan leverage geopolitiknya. Akibatnya, kepentingan anggota BRICS di bidang-bidang seperti keamanan energi, krisis regional, dan hubungan dengan Barat tidak selalu selaras.

 

Perbedaan-perbedaan ini menunjukkan bahwa BRICS masih lebih merupakan platform koordinasi bagi kekuatan-kekuatan yang muncul daripada blok geopolitik yang sepenuhnya terintegrasi yang dapat merespons krisis internasional besar secara kolektif. Akibatnya, organisasi ini menghadapi kesulitan serius dalam merumuskan sikap tunggal tentang isu-isu sensitif seperti keamanan maritim di Teluk Persia.

 

6. Apa pesan yang disampaikan oleh kesepakatan kerja sama energi terbaru antara Iran, Irak, dan Pakistan tentang masa depan kerja sama regional? Dapatkah tren ini menjadi indikasi peningkatan peran Iran dalam manajemen energi regional dan jaringan transit?

 

Kesepakatan kerja sama energi terbaru antara Iran, Irak, dan Pakistan mengirimkan pesan strategis yang jelas: negara-negara ini berupaya memperdalam kerja sama regional langsung dan secara bertahap menciptakan jaringan energi yang setidaknya sampai batas tertentu independen dari pengaruh eksternal, terutama Amerika Serikat dan kerangka strategis yang dipimpin Barat.

 

Apa yang telah menjadi jelas selama ketegangan Asia Barat baru-baru ini adalah pembentukan tren yang dapat diamati, terutama di Irak, menuju penarikan strategis yang lebih besar dari Washington setelah bertahun-tahun keterlibatan militer, politik, dan diplomatik. Dalam kerangka ini, perluasan kerja sama antara Tehran, Baghdad, dan Islamabad dapat menunjukkan munculnya arsitektur baru di bidang energi regional di mana Irak memainkan peran yang lebih penting sebagai hub energi; hub yang menghubungkan Teluk Persia, Asia Selatan, dan jalur transit regional yang lebih luas.

 

Pada saat yang sama, tren ini menghadapi keterbatasan struktural yang penting. Bagi Iran, tantangan utamanya tetap pada tekanan dari AS, Israel, dan kemungkinan eskalasi ketegangan regional. Lebih dari itu, ketiga negara menghadapi ancaman keamanan internal dan lintas batas, terutama terorisme dan kegiatan pemberontakan, yang dapat secara langsung mempengaruhi infrastruktur energi dan mengganggu jaringan transit.

 

Juga, pembentukan blok energi semacam itu dapat menjadi sasaran tekanan eksternal selama periode ketegangan tinggi, dan semakin terintegrasinya koridor-koridor ini, semakin besar kerentanannya jika terjadi krisis regional.

 

Ketidakstabilan politik juga tetap menjadi faktor penentu; Irak menghadapi kerapuhan internal, Pakistan terlibat dalam ketegangan terkait Afghanistan, dan kedekatan Afghanistan dengan Iran juga mempengaruhi keterkaitan ketidakstabilan regional.

 

Terlepas dari tantangan-tantangan ini, peluangnya sangat signifikan. Jika dikelola dengan baik, kesepakatan ini dapat memulai kerangka kerja yang lebih kuat untuk kerja sama energi dan transit di kawasan, di mana Iran memainkan peran yang lebih sentral. Selain nilai ekonominya, kesepakatan ini juga mengirimkan pesan penting kepada para aktor internasional: Tehran, Baghdad, dan Islamabad sedang berupaya mendefinisikan agenda regional independen dan memainkan peran yang lebih aktif dalam membentuk masa depan kerja sama energi. (MF)