Iran Tak Percaya Janji AS: Bebaskan Dulu 30 Miliar Dolar, Baru Kita Bicara
https://parstoday.ir/id/news/iran-i190400-iran_tak_percaya_janji_as_bebaskan_dulu_30_miliar_dolar_baru_kita_bicara
Pars Today - Dalam negosiasi dengan AS, Iran telah mengubah tuntutan pembebasan asetnya yang diblokir menjadi prasyarat utama, sebuah langkah yang berakar pada pengalaman pahit masa lalu, dari pengkhianatan perjanjian nuklir hingga sanksi yang dijatuhkan kembali.
(last modified 2026-05-25T10:15:04+00:00 )
May 25, 2026 16:54 Asia/Jakarta
  • Bendera Iran dan AS
    Bendera Iran dan AS

Pars Today - Dalam negosiasi dengan AS, Iran telah mengubah tuntutan pembebasan asetnya yang diblokir menjadi prasyarat utama, sebuah langkah yang berakar pada pengalaman pahit masa lalu, dari pengkhianatan perjanjian nuklir hingga sanksi yang dijatuhkan kembali.

Menurut Fars News, 25 Mei 2026, bBagi mereka yang terbiasa bertransaksi di Pasar Besar Tehran, pelajaran dasarnya sederhana: dengan mitra yang ingkar janji, hanya uang tunai yang bisa dipercaya. Kini, di atas panggung global, Iran menerapkan logika yang sama.

Untuk memahami desakan Iran ini, sejarah harus dikaji ulang. Ingatan kolektif bangsa Iran penuh dengan janji yang dilanggar. Mereka ingat bagaimana, di tengah pembicaraan damai yang intensif, perang, entah itu Perang 12 Hari atau Perang Ramadan yang baru saja usai, tiba-tiba berkobar.

Mereka belum melupakan keputusan sepihak Trump untuk keluar dari JCPOA; sebuah kesepakatan yang dihiasi dengan cap kekuatan besar dan resolusi DK PBB, tetapi seperti dikutip oleh New Indian Express: "Hanya dengan satu goresan pena, semua jaminan itu lenyap, dan aset Iran kembali disandera."

Kenangan pahit ini telah mengubah diplomasi Iran selamanya. Tehran tidak lagi percaya pada "pembangunan kepercayaan".

Seorang pejabat yang mengetahui proses negosiasi mengatakan kepada Fars: "Tuntutan kami adalah pembebasan aset yang diblokir, bukan nanti, tetapi sekarang."

Trump, yang yakin Iran akan runtuh dalam hitungan hari setelah agresinya, kini berada di bawah tekanan terbesarnya. Beban untuk membuka kembali Hormuz, jalur vital bagi seperlima minyak dunia, membebani ekonomi global, dan tekanan harga bensin di dalam negeri AS kian memanas.

Iran sangat menyadari bahwa kehadirannya di meja perundingan sangat meringankan beban Trump. Ia juga tahu bahwa ia tidak akan memberikan kartu truf ini secara gratis.

Seorang analis, Rahman Salehi, berpendapat bahwa Iran tidak boleh membiarkan tuntutan beberapa miliar dolar ini menghalangi kesepakatan besar, karena mengakhiri blokade adalah kemenangan tersendiri.

Namun yang lain, Saeed Nik Sokhan, seorang profesor universitas, berpendapat: uang ini adalah hak sah rakyat Iran. Diplomat Iran tidak berhak melepaskannya. Kedua, Amerika harus membayar harga atas ingkar janjinya, karena ketahanan Iran lebih kuat dan AS lebih membutuhkan kesepakatan.

Menurut laporan dari sebuah think tank Universitas Tehran, aset beku Iran diperkirakan mencapai $20-30 miliar, cukup untuk meluncurkan program pembangunan besar yang akan mendorong ekonomi ke jalur pertumbuhan yang lebih tinggi.

Bagi AS, uang ini mungkin sekadar koreksi kesalahan. Bagi Iran, ini adalah pintu menuju lompatan ekonomi pasca-perang, sekaligus ujian apakah Washington benar-benar serius mengubah kebiasaannya memperlakukan perjanjian sebagai tisu basah.

Di pasar, jika pelanggan sering ingkar janji, Anda minta uang muka atau pembayaran penuh di depan. Iran, setelah puluhan tahun ditipu, kini melakukan hal yang sama di panggung global. Trump harus merogoh kocek, atau tidak ada kesepakatan. Ini bukan ketidakpercayaan, ini perlindungan diri.(Sail)