Katherine Romler Mundur, Namanya Muncul dalam Dokumen Epstein
-
Katherine Romler, kuasa hukum senior Goldman Sachs
ParsToday - Katherine Romler, kuasa hukum senior Goldman Sachs, mengundurkan diri setelah namanya terseret dalam dokumen terkait Jeffrey Epstein, miliarder Amerika yang telah divonis bersalah atas kasus kejahatan seksual.
Melaporkan dari Axios, IRNA pada Jumat, 13 Februari 2026, memberitakan Romler mundur dari jabatannya Kamis malam setelah namanya muncul dalam dokumen Epstein yang baru-baru ini dirilis secara terbuka oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat. Romler sebelumnya pernah menjabat sebagai penasihat Gedung Putih pada masa pemerintahan Barack Obama.
Romler, mantan penasihat Gedung Putih era Obama dan ketua bersama Komite Risiko Kredit Goldman, menjadi tokoh publik terbaru yang tersingkir setelah publikasi sekitar tiga juta dokumen terkait Epstein pada 30 Januari lalu.
Pengunduran diri Romler, yang akan efektif per 30 Juni 2026, dipicu oleh dokumen yang memuat email-email dari seseorang bernama "Katie Romler" dalam rentang waktu beberapa tahun. Dalam korespondensi tersebut, ia menyebut Epstein dengan panggilan "Paman Jeffrey."
Dalam salah satu email tahun 2018, "Katie Romler" berterima kasih kepada Epstein atas hadiah yang "menyenangkan dan penuh perhatian". Email lain pada Januari 2019 berbunyi: "Hari ini aku benar-benar terkejut dengan hadiah dari Paman Jeffrey! Sepatu bot dari Jeffrey, tas tangan, dan arloji!"
Romler dalam pernyataan tertulis yang dirilis Kamis malam mengatakan, "Tanggung jawab saya adalah mengutamakan kepentingan Goldman Sachs." Ia menyatakan "dengan menyesal" telah memberitahu CEO David Solomon mengenai niatnya mundur dari posisi Kepala Bagian Hukum dan Penasihat Umum.
David Solomon dalam pernyataannya memuji Romler sebagai "penasihat hukum yang luar biasa" selama masa baktinya di Goldman. Perusahaan disebutnya "sangat menghargai kontribusi serta nasihatnya yang bijaksana dalam berbagai isu hukum penting".
Jennifer Connelly, Juru Bicara Romler, menyatakan kepada CNN bahwa kuasa hukum senior tersebut "tidak melakukan kesalahan apa pun". "tidak memiliki sesuatu yang disembunyikan," dan tidak ada satu pun dokumen yang dipublikasikan "membuktikan sebaliknya".
Kasus korupsi besar Jeffrey Epstein, pengusaha Yahudi yang terbukti bersalah atas kejahatan seksual dan pencucian uang, telah membayangi politik Amerika selama bertahun-tahun dan menjadi ajang saling tuding antarpartai.
Setelah serangkaian pengungkapan dan publikasi sebagian dokumen Epstein, Donald Trump mendapat tekanan besar. Ia memberhentikan 20 staf Departemen Kehakiman yang terlibat dalam proses publikasi dokumen tersebut. Akhirnya, di bawah tekanan opini publik serta Kongres dan Senat, pemerintah AS memerintahkan rilis penuh berkas Epstein.
Dokumen yang dirilis pada 30 Januari 2026 ini terdiri dari tiga juta halaman, 180 ribu gambar, dan dua ribu video. Nama Trump tercatat sebanyak 38.000 kali dalam dokumen tersebut, meskipun ia membantah mengetahui aktivitas kriminal Epstein. Dokumen juga mengungkap detail mengenai penjara dan kematian Epstein, hubungannya dengan sejumlah tokoh ternama, serta transaksi keuangan dan surel terkait.(sl)