Analisis Situs GCT Soal Konfrontasi Rezim Zionis dengan Iran
https://parstoday.ir/id/news/world-i185410-analisis_situs_gct_soal_konfrontasi_rezim_zionis_dengan_iran
ParsToday - Situs Global Conflict Tracker (GCT) dalam sebuah artikel mengkaji dinamika konfrontasi rezim Zionis dengan Iran dan isu-isu terkait lainnya.
(last modified 2026-02-14T09:24:16+00:00 )
Feb 14, 2026 16:22 Asia/Jakarta
  • Hancurnya Institut Weizmann Israel akibat serangan rudal Iran selama Perang 12 Hari
    Hancurnya Institut Weizmann Israel akibat serangan rudal Iran selama Perang 12 Hari

ParsToday - Situs Global Conflict Tracker (GCT) dalam sebuah artikel mengkaji dinamika konfrontasi rezim Zionis dengan Iran dan isu-isu terkait lainnya.

Melaporkan dari ParsToday, Sabtu, 14 Februari 2026, situs GCT dalam artikel berjudul "Konflik Iran dengan Israel dan Amerika Serikat" mengulas berbagai aspek pertikaian antara Amerika Serikat dan rezim Zionis dengan Iran dalam satu dekade terakhir. Berikut adalah bagian terkait konfrontasi rezim Zionis dengan Iran periode 2023 hingga 2025 menurut situs tersebut, disajikan untuk memahami perspektif sebuah lembaga kajian Barat mengenai topik ini:

Dimulainya perang antara Israel, sekutu dekat Amerika Serikat, dan kelompok Hamas yang didukung Iran pada Oktober 2023 meningkatkan ketegangan antara Iran dan Israel. Kelompok-kelompok proksi Iran meningkatkan serangan mereka sebagai protes atas operasi militer Israel di Jalur Gaza, termasuk lebih dari dua ratus serangan terhadap target Amerika dan Israel di Irak dan Suriah. Sebagai respons, Amerika Serikat pada 26 Oktober 2023 menyerang dua fasilitas afiliasi Iran melalui serangan udara, dan pada 2 Februari 2024 menyerang delapan puluh lima target lain terkait Iran di kedua negara tersebut.

Houthi (Gerakan Ansarallah) di Yaman dan Hizbullah di Lebanon, keduanya merupakan gerakan poros perlawanan, juga melancarkan serangan dari Laut Merah dan perbatasan utara Palestina pendudukan dengan Lebanon, meningkatkan kekhawatiran akan meluasnya konflik secara regional.

Pada tahun 2024, konfrontasi Israel-Iran beralih dari permusuhan tidak langsung melalui kelompok proksi menjadi pertukaran serangan langsung. Pada 1 April, serangan udara Israel terhadap gedung konsuler Iran di Damaskus, Suriah, menewaskan dua jenderal dan lima penasihat militer. Iran merespons dengan meluncurkan lebih dari tiga ratus drone dan rudal. Ini adalah pertama kalinya Iran secara langsung menargetkan wilayah pendudukan Palestina.

Setelah gugurnya para pemimpin Hamas dan Hizbullah di tangan Israel, Iran pada Oktober 2024 meluncurkan seratus delapan puluh rudal balistik ke arah Israel. Israel kemudian melakukan serangan langsung terbesarnya terhadap Iran, menargetkan sistem pertahanan udara dan fasilitas produksi rudalnya.

Dengan kembalinya Donald Trump ke kursi kepresidenan pada tahun 2025, ia melanjutkan kampanye tekanan maksimum terhadap Tehran sambil memulai negosiasi mengenai program nuklir Iran. Ini merupakan dialog langsung pertama antara AS dan Iran sejak keluarnya Amerika Serikat dari kesepakatan nuklir JCPOA pada tahun 2018.

Israel sepenuhnya menentang negosiasi ini dan menegaskan komitmennya untuk membongkar program nuklir Iran. Pejabat Israel berargumen bahwa upaya rahasia Iran untuk mengembangkan senjata nuklir secara fundamental akan mengubah keseimbangan kekuatan regional dan merupakan ancaman langsung bagi kelangsungan hidup rezim Zionis.

Pada 12 Juni 2025, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan tidak dapat mengonfirmasi kepatuhan Iran. Keesokan harinya, Israel secara sepihak melancarkan serangan militer terhadap Iran, menargetkan fasilitas nuklir, pabrik rudal, pejabat militer senior, dan ilmuwan nuklir. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyebut serangan itu sebagai "tindakan perang," dan Iran merespons dengan meluncurkan gelombang drone dan puluhan rudal balistik.

Perdana Menteri Rezim Zionis, Benjamin Netanyahu menggambarkan operasi ini sebagai upaya terakhir untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir. Meskipun pemerintahan Trump melanjutkan negosiasi nuklir, Presiden AS semakin mendukung tujuan Tel Aviv dan menunjukkan kesiapannya untuk melakukan perubahan rezim di Teheran.

Setelah satu minggu pertukaran serangan udara antara Israel dan Iran, Amerika Serikat secara langsung terlibat dalam konflik dan pada 21 Juni menyerang tiga situs nuklir Iran di Fordow, Isfahan, dan Natanz. Pemerintahan Trump menyatakan bahwa serangan ini secara signifikan mengurangi kemampuan Iran untuk memperoleh uranium dengan pengayaan tingkat senjata. Namun, kepala badan pengawas nuklir PBB menilai program nuklir Iran hanya terhambat beberapa bulan.

Trump menjadi presiden AS pertama yang menyerang program nuklir negara lain dan pertama yang secara terbuka berpartisipasi dalam serangan rezim Zionis terhadap pesaing. Iran pada 23 Juni merespons dengan serangan rudal terhadap pasukan Amerika yang ditempatkan di Pangkalan Udara Al-Udeid di Qatar, tidak ada laporan korban jiwa. Trump mengumumkan gencatan senjata pada hari yang sama. Meskipun kedua pihak saling menuduh melanjutkan serangan, gencatan senjata sebagian besar tetap bertahan.(sl)