22 Perusahaan Bangkrut, Kanselir Jerman Imbau Kerja Keras
https://parstoday.ir/id/news/world-i185436-22_perusahaan_bangkrut_kanselir_jerman_imbau_kerja_keras
ParsToday - Jerman menjalani tahun 2026 dalam situasi kritis. Di satu sisi, angka kebangkrutan perusahaan mencapai level tertinggi dalam beberapa dekade terakhir. Di sisi lain, Kanselir negara ini dalam pernyataan kontroversial meminta warga bekerja lebih keras untuk mempertahankan kesejahteraan.
(last modified 2026-02-15T01:33:49+00:00 )
Feb 15, 2026 08:29 Asia/Jakarta
  • Perusahaan Jerman banyak yang bangkrut
    Perusahaan Jerman banyak yang bangkrut

ParsToday - Jerman menjalani tahun 2026 dalam situasi kritis. Di satu sisi, angka kebangkrutan perusahaan mencapai level tertinggi dalam beberapa dekade terakhir. Di sisi lain, Kanselir negara ini dalam pernyataan kontroversial meminta warga bekerja lebih keras untuk mempertahankan kesejahteraan.

Berdasarkan laporan terbaru Badan Statistik Federal Jerman yang dipublikasikan di kantor berita Bild, lebih dari 22 ribu perusahaan Jerman mengumumkan kebangkrutan dalam sebelas bulan pertama tahun 2025. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 10 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Melaporkan dari ParsToday, Minggu, 15 Februari 2026, meskipun statistik bulan November dengan 1.794 kasus menunjukkan penurunan 15 persen dibandingkan Oktober (2.108 kasus), Asosiasi Kamar Industri dan Dagang Jerman (DIHK) memperkirakan jumlah total kebangkrutan pada tahun 2025 akan melampaui angka 23 ribu perusahaan. Dengan kata lain, lebih dari 60 perusahaan di Jerman tutup setiap harinya.

Berdasarkan data yang dipublikasikan Bild, jumlah kerugian yang diderita kreditur pada periode ini diperkirakan mencapai 44,3 miliar euro. Volker Treier, ekonom senior DIHK, memperingatkan konsekuensi krisis ini.

"Di balik angka-angka ini, tidak hanya hilangnya semangat kewirausahaan dan inovasi yang tersembunyi, tetapi juga penurunan peluang kerja, kurangnya investasi, dan pelemahan fundamental berbagai wilayah di negara ini," ujarnya.

Badan Statistik Federal Jerman juga mengumumkan bahwa mulai tahun 2026, mereka akan menghentikan penyediaan angka prediktif untuk bulan-bulan mendatang.

Kanselir Jerman: "Bekerja Lebih Keras"

Di tengah krisis ekonomi yang mendalam ini, Kanselir Jerman Friedrich Merz dalam pidato terbarunya di salah satu negara bagian timur negara itu, dengan nada memperingatkan, mengatakan kepada publik, "Untuk mempertahankan kesejahteraan yang berkelanjutan, kita harus bekerja lebih keras."

Berdasarkan laporan Politico, Kanselir Jerman merujuk pada penurunan produktivitas di negara ini. Ia menilai keseimbangan kehidupan kerja dan pekan kerja empat hari tidak memadai untuk keluar dari krisis saat ini dan menekankan perlunya peningkatan jam kerja.

Dalam bagian lain pidatonya, Merz mengkritik tajam peningkatan hari cuti sakit dan menyerukan peninjauan kembali hak legal atas pekerjaan paruh waktu. Ia mengusulkan agar hak ini hanya dipertahankan untuk kondisi khusus seperti tanggung jawab pengasuhan atau melanjutkan pendidikan.

Politico dalam laporannya menambahkan bahwa usulan-usulan ini, terutama di kalangan wanita Jerman yang memiliki porsi signifikan dalam pekerjaan paruh waktu, menuai gelombang kritik luas. Pengguna media sosial dengan mengunggah meme dan konten lucu mengejek pendekatan Kanselir.

Jajak pendapat awal menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat Jerman menentang usulan-usulan ini. Hal ini terjadi sementara partai konservatif Kanselir menjelang pemilihan regional mengalami penurunan popularitas dalam bidang ekonomi dan kebijakan pasar tenaga kerja.

Para pakar ekonomi berpendapat bahwa krisis Jerman saat ini melampaui sekadar masalah jam kerja dan berakar pada penurunan investasi, melemahnya inovasi, dan tantangan struktural yang mendalam. Pemerintah Jerman tampaknya membutuhkan program komprehensif dan struktural untuk memulihkan produksi dan lapangan kerja, alih-alih kebijakan simbolis, guna keluar dari krisis ini.(sl)