Khamenei: Guru Paling Penting di Perang Budaya, Buruh di Perang Ekonomi
https://parstoday.ir/id/news/iran-i189274-khamenei_guru_paling_penting_di_perang_budaya_buruh_di_perang_ekonomi
Pars Today – Pemimpin Besar Revolusi Islam, dalam pesannya menyambut Hari Buruh dan Hari Guru, menegaskan bahwa para guru adalah mata rantai paling efektif dalam perang budaya, sementara para buruh termasuk elemen paling efektif dalam perang ekonomi. Bahkan bisa dikatakan keduanya bagaikan tulang punggung bagi ranah budaya dan ekonomi.
(last modified 2026-05-02T07:15:55+00:00 )
May 02, 2026 18:13 Asia/Jakarta
  • Ayatullah Sayid Mojtaba Hosseini Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam
    Ayatullah Sayid Mojtaba Hosseini Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam

Pars Today – Pemimpin Besar Revolusi Islam, dalam pesannya menyambut Hari Buruh dan Hari Guru, menegaskan bahwa para guru adalah mata rantai paling efektif dalam perang budaya, sementara para buruh termasuk elemen paling efektif dalam perang ekonomi. Bahkan bisa dikatakan keduanya bagaikan tulang punggung bagi ranah budaya dan ekonomi.

Dilansir IRNA, 1 Mei 2026, berikut teks pesan Ayatullah Sayid Mojtaba Hosseini Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam, untuk Hari Buruh dan Hari Guru:

Bismillahirrahmanirrahim

Dua hari, 11 dan 12 Ordibehesht (1-2 Mei), adalah hari di mana posisi buruh dan martabat guru dihormati. Terlepas dari penghormatan seremonial yang sifatnya lisan, yang memang sudah selayaknya, kemajuan suatu bangsa bergantung pada dua sayap: ilmu dan amal.

Guru berperan di tahap awal pencapaian tujuan ini. Tanggung jawab besar mengajarkan pengetahuan, meningkatkan keterampilan, serta membentuk wawasan dan identitas generasi penerus ada di pundaknya. Para murid, mahasiswa, dan santri yang tumbuh bersama setiap guru, dalam waktu tak lama lagi akan mengamalkan keterampilan dan ilmu yang mereka pelajari. Boleh jadi dalam karakter, perilaku, dan ucapan mereka di berbagai bidang, dari kehangatan keluarga hingga tempat kerja dan jalanan, mereka akan menjadi cerminan perilaku dan ucapan gurunya.

Di sisi lain, ranah kerja adalah pentas seluas negeri, membentang dari dalam rumah, kantor, unit usaha, masjid, hingga ladang, bengkel, pabrik, tambang, dan berbagai jenis pekerjaan jasa. Semakin luas pentas ini dihiasi oleh dua unsur, kerja keras dan komitmen, yang merupakan pilar setiap kesuksesan besar, semakin terjamin kemajuan negara.

Kita tahu bahwa seorang buruh, berkat komitmen dan amal salehnya, kadang mencapai posisi yang membuatnya pantas, seperti tangan guru yang penuh kasih, untuk dicium tangannya yang terampil sebagai rasa syukur dan terima kasih. Ini adalah sesuatu yang dapat dipelajari dari para pendidik pertama setiap orang, yakni ayah dan ibunya, serta dari pengalaman bersama guru.

"Kini, setelah lebih dari 47 tahun perjuangan, Republik Islam Iran, dengan mengandalkan karunia Ilahi, telah membuktikan sebagian kemampuannya yang mengesankan kepada dunia dalam pertempuran militer melawan musuh-musuh kemajuan dan keunggulannya. Maka kini, dalam tahap jihad ekonomi dan budaya, Iran harus mengecewakan dan mengalahkan mereka."

Para guru adalah mata rantai paling efektif dalam perang budaya, dan para buruh termasuk elemen paling efektif dalam perang ekonomi. Bahkan dapat dikatakan keduanya adalah bagaikan tulang punggung bagi ranah budaya dan ekonomi. Oleh karena itu, mereka perlu menyadari sepenuhnya betapa pentingnya posisi khusus mereka, yang melampaui sekadar pekerjaan dengan imbalan upah.

Seiring dengan itu, perlu diperhatikan bahwa penghormatan lisan tahunan atau berkala, meskipun tepat dan pantas, tetapi penghargaan terhadap upaya kedua kelompok ini harus lebih dalam dan lebih nyata dari sekadar itu. Saya membayangkan, sebagaimana bangsa Iran yang tercinta telah menunjukkan dukungan yang layak kepada personel militer negaranya dengan hadir di berbagai tempat dan jalanan, maka sudah sepantasnya mereka juga menunjukkan dukungan kuat dalam membantu para guru dan buruh.

Antara lain, interaksi keluarga siswa dan mahasiswa dalam pengelolaan sekolah dan universitas perlu ditingkatkan. Juga dengan memprioritaskan konsumsi produk dalam negeri, kita harus mendukung buruh-buruh produktif. Khususnya para pemilik usaha yang terdampak, hendaknya sejauh mungkin menghindari pemutusan hubungan kerja dan pemisahan tenaga kerja, baik di unit produksi maupun unit jasa. Bahkan mereka harus memandang setiap buruh sebagai aset bagi unit produksi dan jasa tersebut. Tentu pemerintah juga hendaknya mendukung tindakan baik ini semampunya.

Iran yang tercinta, setelah bertahun-tahun berjuang dan tampil sebagai kekuatan militer, Insya Allah dengan karunia Ilahi akan melintasi jalan menuju puncak kemajuan dan keunggulan melalui penguatan identitas Islam-Iran yang semakin meresap dalam pikiran dan jiwa generasi muda oleh para pembimbing dan guru, serta dengan memprioritaskan konsumsi produk dalam negeri, yang merupakan hasil jerih payah buruh-buruh Iran. Dan ini tentu akan terwujud lebih cepat dan lebih baik dengan doa restu dan perantaraan Imam Zaman (semoga Allah menyegerakan kemunculannya), dengan izin Allah Ta'ala. Wassalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Sayid Mojtaba Hosseini Khamenei

11 Ordibehesht 1405 HS (1 Mei 2026)