"Seni Bertarung Tanpa Perang": Membaca Peta Jalan Iran Hadapi AS
https://parstoday.ir/id/news/opini-i191246-seni_bertarung_tanpa_perang_membaca_peta_jalan_iran_hadapi_as
Asghar Zebarjeddi, pakar media
(last modified 2026-06-10T07:46:48+00:00 )
Jun 10, 2026 14:44 Asia/Jakarta
  • Amerika Vs Iran
    Amerika Vs Iran

Asghar Zebarjeddi, pakar media

Manajemen strategis konflik merupakan salah satu isu paling strategis bagi suatu negara. Ia tidak selalu terkait dengan perang, melainkan mencakup seluruh bidang-bidang penentu nasib suatu negara. Manajemen strategis konflik adalah seni untuk terus-menerus mendefinisikan ulang lapangan permainan (game field) secara cair dan dinamis di ranah internasional.

Melansir IRNA, Pemimpin Besar Revolusi Islam, Yang Mulia Ayatullah Sayid Mojtaba Khamenei, dalam pesan peringatan 37 tahun wafatnya pendiri agung Revolusi Islam, Imam Khomeini (Rahmatullah 'Alaih), menyampaikan peringatan penting tentang perlunya menjaga kesalahan dalam sistem hitung-hitungan (device mohasebati) negara yang disebabkan oleh musuh.

Mengupas pesan yang sarat makna ini dari berbagai dimensi memang membutuhkan waktu lebih lama dan perhatian para pakar. Namun, apa yang ingin kami bahas dalam tulisan ini adalah menjawab pertanyaan penting: Dalam kondisi saat ini, apa proyek terpenting Republik Islam Iran yang perlu dijaga dari kesalahan hitung-hitungan? Jawabannya adalah: tampaknya fokus utama musuh adalah pada manajemen strategis konflik di Republik Islam Iran dan mempengaruhi sistem pengaturan dan pengambilan keputusan strategis negara. Hal ini akan saya bahas lebih lanjut di bawah.

Manajemen strategis konflik merupakan salah satu isu paling strategis bagi suatu negara. Ia tidak selalu terkait dengan perang, melainkan mencakup seluruh bidang-bidang penentu nasib negara. Manajemen strategis konflik adalah seni untuk terus-menerus mendefinisikan ulang lapangan permainan secara cair dan dinamis di ranah internasional. Di sisi lain, kemampuan merancang, mengarsiteki, dan mendiktekan aturan-aturan permainan baru kepada lawan merupakan fungsi dari pemahaman yang akurat tentang aturan, hubungan, dan hakikat kekuasaan.

Yang dimaksud dengan "lapangan permainan" adalah lingkungan interaksi berbagai faktor satu sama lain, yang mencakup ruang siber, antariksa, lingkungan ekonomi, informasi, dan teknologi. Sementara "permainan" berarti menghubungkan konflik dari satu bidang ke bidang lain dan mengombinasikannya dalam lingkungan-lingkungan tersebut.

Poin penting dalam manajemen strategis konflik adalah peran para manajer strategis negara dalam memahami, mengenali, mengevaluasi, dan menghitung elemen serta komponen yang mempengaruhi manajemen konflik yang optimal. Mereka harus berusaha, tanpa terlibat dalam emosi, dengan wawasan mendalam dan realisme, agar tidak bermain dalam permainan catur musuh, melainkan menciptakan dan menggantinya dengan permainan catur baru.

Ada kalimat terkenal di kalangan praktisi strategi yang mengatakan: "Seorang ahli strategi yang cerdas bukanlah orang yang bermain lebih keras, tetapi dia mengubah aturan permainan dan menciptakan permainan baru." Oleh karena itu, mendefinisikan medan-medan baru untuk persaingan dan menekan lawan adalah strategi utama para ahli strategi Iran dalam manajemen strategis konflik antara Iran dan AS.

Dalam manajemen strategis konflik, segala upaya dilakukan untuk menjauhkan negara dari perang, dan dengan kebijaksanaan, mencegah perluasan serta peluasan konflik. Tentu saja, ini sama sekali tidak berarti takut untuk berperang. Namun pesannya adalah bahwa ada akal budi yang lebih memilih perang di samping instrumen-instrumen lain untuk mengamankan kepentingan rakyat dan kawasan.

Untuk mencapai tujuan ini, menjadi pembuat permainan (bazi-saz), menciptakan opsi-opsi strategis, serta menetapkan dan mengukuhkan garis merah secara cerdas adalah hal yang sangat penting. Sebagai contoh, model manajemen konflik oleh AS di kawasan Asia Barat didasarkan pada membentuk berbagai jenis permainan kompleks, mulai dari "menjual perdamaian" (seperti Kesepakatan Ibrahim) hingga "menjual senjata" (kontrak-kontrak persenjataan baru), untuk mengatur tatanan kekuasaan di kawasan dan dunia.

Keberlanjutan militerisme baru AS sebagai kekuatan istikbari [angkuh/tirani] merugikan Republik Islam Iran dan mendorong negara ke dalam jebakan persamaan keamanan, yang menguras sumber daya, fasilitas, dan kapasitas negara dalam siklus keausan, bukannya kemajuan.

Pemahaman atas bagian dari model manajemen konflik AS ini memiliki sebuah "mata kaki yang rapuh" (pashneye aashil, titik lemah), yaitu perang hitung-hitungan (jang-e mohasebati). Perang ini bertujuan untuk mempengaruhi para pembuat keputusan, pengambil keputusan, opini publik, kelompok-kelompok penekan dan berpengaruh. Ia merupakan upaya untuk menciptakan gangguan dalam sistem hitung-hitungan dari sistem pengaturan dan pengambilan keputusan strategis.

Dengan kata yang lebih tepat: meracuni lingkungan informasi dan masukan-masukan informasi, memanipulasi data makro (big data), menciptakan algoritma baru untuk penyebaran dan analisis informasi, serta mengarahkan dan memperkuat perilaku kolektif yang tidak realistis (protes, ketidaknyamanan, kebahagiaan, atau kritik artifisial) yang berdampak pada hitung-hitungan dan estimasi.

Sasaran dari serangan ini adalah para elit, kalangan khusus (khawash), intelektual, kelompok-kelompok rujukan (marja'), tokoh-tokoh berpengaruh, berbagai media, tribune, dan elemen-elemen yang memiliki pengaruh. Oleh karena itu, kewaspadaan ekstra dalam perang hitung-hitungan di samping berbagai jenis perang informasi, perang psikologis, dan perang media sangatlah diperlukan.

Kita semua harus memahami dan menyepakati poin penting ini bahwa manajemen strategis konflik di negara ini adalah seni berperang tanpa perang dan mengelola hal-hal yang mungkin di tengah ketidakmungkinan; serta menegakkan kehendak dan kekuasaan tanpa keterlibatan fisik. Ini berarti menciptakan "perisai strategis" untuk membela negara dan memperoleh kepentingan nasional dengan menggunakan semua instrumen.

Karenanya, rasionalitas, kebijaksanaan, realisme, keberanian, kesabaran, ketepatan waktu, inisiatif, dan manajemen kekuasaan serta instrumen yang ada secara cerdas menjadi sangat penting. Kita harus sangat berhati-hati agar tidak terjebak dalam kebuntuan strategis, dan menciptakan ruang manuver dengan menciptakan opsi-opsi baru.

Prasyarat keberhasilan ini adalah mengidentifikasi titik-titik pengungkit (leveraging points) yang menjadi prioritas strategis, bukan masalah-masalah pinggiran. Salah satu poin pengungkit tersebut adalah merumuskan kebijakan-kebijakan dan konsekuensinya, strategi-strategi ofensif dan defensif dalam hitung-hitungan. Sudah jelas bagi kita semua bahwa musuh akan berusaha mencemari atau mempengaruhi jalur ini. Namun dalam pola penting pengelolaan makro negara ini, lembaga-lembaga intelijen, lembaga-lembaga pemberi nasihat dan pembuat keputusan harus dengan cerdas, tanpa bias dan politisasi, bersama dengan rakyat, dengan mematuhi semua pertimbangan, membantu sistem pengaturan yang besar ini.

Kepedulian, kekhawatiran, kebahagiaan, kritik, dan sindiran harus dilakukan di samping pujian, dengan merumuskan dan menyusun lampiran informasi-media yang berpusat pada perang hitung-hitungan. Dan setiap orang harus merumuskan serta mematuhi lampiran ini untuk diri mereka sendiri, baik secara individu maupun kolektif, sesuai dengan konteks lokal masing-masing.

Kesimpulannya, dalam situasi yang kompleks, ambigu, dan sensitif seperti ini, keberhasilan dalam manajemen strategis konflik lebih bergantung pada kualitas hitung-hitungan strategis, estimasi, prediksi, analisis sistem pengaturan, dan kemampuan negara dalam mengidentifikasi peluang serta ancaman secara tepat waktu daripada sekadar meningkatkan sumber daya kekuasaan. Dari perspektif ini, perang hitung-hitungan bukanlah isu sampingan, melainkan bagian penting dari persaingan strategis dan kedewasaan kekuatan-kekuatan besar di era baru.(Sail)