Dari Lebanon hingga PBB: Dunia Sambung Akhir Perang Iran-AS
https://parstoday.ir/id/news/world-i191550-dari_lebanon_hingga_pbb_dunia_sambung_akhir_perang_iran_as
Pars Today - Rakyat Lebanon selatan, setelah diumumkannya kesepakatan antara Iran dan Amerika serta berlakunya gencatan senjata, turun ke jalan-jalan untuk merayakan dan bergembira.
(last modified 2026-06-15T07:36:41+00:00 )
Jun 15, 2026 14:35 Asia/Jakarta
  • Kegembiraan rakyat Lebanon
    Kegembiraan rakyat Lebanon

Pars Today - Rakyat Lebanon selatan, setelah diumumkannya kesepakatan antara Iran dan Amerika serta berlakunya gencatan senjata, turun ke jalan-jalan untuk merayakan dan bergembira.

Melansir Pars Today dari IRIB, 15 Juni 2026, media-media Lebanon dengan menyiarkan gambar-gambar perayaan ini melaporkan bahwa gencatan senjata dicapai setelah kesepakatan yang diperoleh dengan syarat-syarat yang dipaksakan oleh Republik Islam Iran kepada pihak Amerika, dan telah mengakhiri konflik di Lebanon.

Bersamaan dengan itu, Hizam Al-Asad, anggota kantor politik Gerakan Ansarullah Yaman, menyebut kesepakatan ini sebagai tanda kemenangan Republik Islam Iran dan Poros Perlawanan, dan menekankan bahwa bangsa-bangsa merdeka di dunia telah menyadari bahwa Amerika bukanlah kekuatan yang tak terkalahkan.

Ali Al-Qahum, anggota kantor politik Gerakan Ansarullah Yaman juga, menyebut kesepakatan ini sebagai tanda kemenangan Iran dan kekalahan Amerika, dan menekankan bahwa rencana Zionis yang disebut "Timur Tengah Baru" telah gagal.

Syekh Khalid Al-Mulla, Ketua Jami'ah Ulama Ahlussunnah Irak, juga menggambarkan kesepakatan ini sebagai hasil dari keteguhan dan perlawanan.

Kementerian Luar Negeri Qatar dengan menyambut nota kesepahaman antara Tehran dan Washington, menyebutnya sebagai langkah penting dalam jalur penguatan perdamaian dan pertumbuhan ekonomi kawasan, serta menghargai upaya negara-negara penengah termasuk Pakistan.

Hakan Fidan, Menteri Luar Negeri Turki, dan Sanae Takaichi, Perdana Menteri Jepang, juga menyambut kesepakatan antara Tehran dan Washington, serta menyatakan harapan agar kesepakatan ini berujung pada pengakhiran perang dan penguatan perdamaian, stabilitas, dan keamanan di kawasan.

Bersamaan dengan itu, Emmanuel Macron, Presiden Prancis, dan Antonio Guterres, Sekretaris Jenderal PBB, menyambut kesepakatan antara Iran dan Amerika.

Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia dalam sebuah pernyataan bersama juga mendukung kesepakatan ini, serta menekankan kerja sama dengan Amerika, Iran, dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), dan perlunya menjaga stabilitas, kedaulatan, dan gencatan senjata yang berkelanjutan di Lebanon.

Sementara itu, sebagian pemukim Zionis menyebut kesepakatan ini sebagai pencapaian bagi Iran, dan mengumumkan bahwa orang-orang Iran telah membuat Trump bertekuk lutut.

Peta reaksi ini menunjukkan polarisasi yang sangat jelas. Di satu sisi, Poros Perlawanan, dari Lebanon selatan yang turun ke jalan hingga Ansarullah yang menyebut "kemenangan", merayakan ini sebagai momen bersejarah. Di sisi lain, pemukim Zionis mengakui dengan pahit bahwa "Iran membuat Trump bertekuk lutut." Di tengah-tengah, negara-negara Barat dan regional memilih bahasa diplomatis yang hati-hati: "menyambut", "menghargai", "berharap", tanpa pernah menyebut "kemenangan" atau "kekalahan." Namun yang paling menarik adalah posisi Qatar dan Pakistan: negara-negara penengah yang kini tampil sebagai pemain geopolitik yang dihormati. Dan sebutan "Timur Tengah Baru" yang dikatakan gagal oleh Ansarullah adalah referensi langsung ke rencana geopolitik lama yang kini harus dikubur.(Sail)