Bagaimana Perang dengan Iran Menguak Awal Penurunan Kemampuan Strategis AS?
-
Donald Trump
Pars Today - Perang terkadang menunjukkan pemenang dan pecundang sebenarnya, bukan di medan perang, tetapi di ruang pemikiran dan pusat-pusat strategis.
Majalah Foreign Policy dalam sebuah analisis tentang serangan AS terhadap Iran, membahas refleksi dari kecemasan yang meningkat di kalangan elit Amerika tentang kesenjangan antara ambisi global Washington dan kapasitas riilnya untuk mewujudkan tujuan-tujuan tersebut. Hal Brands, profesor hubungan internasional di Universitas Johns Hopkins, dalam laporan ini memperingatkan bahwa perang dengan Iran adalah ujian bagi kemampuan militer AS; sebuah ujian yang menunjukkan bahwa kekuatan militer terbesar di dunia pun menghadapi keterbatasan sumber daya, pengurasan kemampuan tempur, dan kesulitan dalam mengelola berbagai krisis secara simultan. Penilaian ini, sebenarnya merupakan kelanjutan dari peringatan yang sama yang telah berulang kali disampaikan di lembaga-lembaga pemikir (think tank) Amerika dalam beberapa tahun terakhir.
Lembaga pemikir RAND dalam beberapa laporannya tentang persaingan kekuatan besar telah menekankan bahwa Amerika Serikat tidak lagi dapat dengan yakin, seperti era pasca-Perang Dingin, terlibat dalam operasi militer di beberapa front besar secara bersamaan. Dari sudut pandang para peneliti lembaga ini, perang gesekan (perang atrisi) di Asia Barat, persaingan dengan Tiongkok di Asia Timur, dan dukungan terhadap Ukraina, semuanya didasarkan pada fondasi yang sama. Hanya dalam bidang persenjataan, keterlibatan AS di beberapa front menunjukkan bahwa cadangan persenjataan terbatas dan kapasitas industri tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan persaingan global jangka panjang.
Kekhawatiran yang sama juga terlihat dalam penilaian Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS). Para pakar pusat ini sebelumnya telah memperingatkan bahwa jika terjadi krisis mengenai Taiwan, AS akan menghadapi kekurangan rudal jarak jauh, pencegat pertahanan udara, dan amunisi presisi. Perang melawan Iran membawa kekhawatiran ini dari tingkat teoritis ke ranah praktis. Konsumsi besar rudal Tomahawk, pencegat SM-3, sistem THAAD, dan Patriot menunjukkan bahwa bahkan operasi terbatas pun dapat mempengaruhi kemampuan pencegahan (deteren) AS di wilayah lain di dunia.
Di sisi lain, pengalaman perang ini sekali lagi menghidupkan kembali pertanyaan lama tentang "kekaisaran yang terlalu meluas" (overstretched empire); sebuah konsep yang dikemukakan oleh Paul Kennedy, sejarawan terkemuka, beberapa dekade lalu dalam bukunya yang terkenal "The Rise and Fall of the Great Powers" (Muncul dan Runtuhnya Kekuatan-Kekuatan Besar). Ia berargumen bahwa kekuatan yang komitmen eksternalnya melampaui kemampuan ekonomi dan militernya, secara bertahap akan memasuki jalur pengurasan strategis. Saat ini, banyak analis percaya bahwa AS menghadapi risiko yang sama. Masalah ini menjadi lebih penting terutama mengingat persaingan dengan Tiongkok.
Ely Ratner, mantan pejabat Pentagon, telah berulang kali memperingatkan bahwa tantangan utama AS di abad ke-21 adalah menahan kekuatan Beijing yang semakin meningkat. Namun kenyataannya, Asia Barat terus menarik Washington kembali. Mulai dari Irak dan Afghanistan, hingga perang Gaza, krisis Laut Merah, dan sekarang konfrontasi dengan Iran, tidak satu pun dari ini yang mengizinkan strategi "berputar ke Asia" (pivot to Asia) untuk terwujud sepenuhnya.
Di Asia Timur, perkembangan ini juga diikuti dengan kekhawatiran. Beberapa pejabat Jepang dan Korea Selatan telah menyatakan keprihatinan tentang pemindahan sistem pertahanan AS ke Asia Barat. Di Taiwan, pertanyaan juga muncul bahwa jika krisis simultan terjadi di Asia, apakah Washington akan mampu memenuhi komitmen keamanannya?
Tentu saja, gambaran ini tidak berarti kemunduran total dan pasti Amerika Serikat. AS masih memiliki anggaran militer terbesar di dunia, jaringan koalisi yang luas, dan kapasitas teknologi yang paling besar. Namun keunggulan absolut masa lalu tidak lagi ada. Perang dengan Iran menunjukkan bahwa bahkan kekuatan adidaya pun terpaksa harus memilih; memilih antara prioritas, front, dan biaya yang tidak lagi tak terbatas.
Pada saat yang sama, perang ini juga membawa pelajaran penting tentang sifat pertempuran masa depan. Peran drone, sistem cerdas, perang berbasis jaringan, dan kecerdasan buatan menunjukkan bahwa supremasi militer tidak hanya bergantung pada jumlah kapal induk dan jet tempur. Kekuatan menengah juga dapat, dengan memanfaatkan teknologi baru, membebankan biaya berat pada aktor-aktor besar.
Salah satu hasil terpenting dari perang ini adalah bahwa perang Iran meletakkan cermin di depan kebijakan luar negeri AS; cermin yang tidak hanya menunjukkan kekuatan, tetapi juga keterbatasannya. Pertanyaan utama bagi Washington bukan lagi apakah ia memiliki kemampuan untuk melakukan intervensi atau tidak; tetapi di dunia yang dipenuhi dengan krisis simultan, perang mana yang benar-benar layak untuk diperjuangkan, dan seberapa besar harga yang harus dibayar Amerika Serikat untuk kepemimpinan globalnya. (MF)