Upaya Kemandirian Keamanan Eropa; Akankah Berhasil?
-
Pidato Kanselir Jeman Friedrich Merz,
ParsToday - Pada hari pertama Konferensi Keamanan Munich, para pemimpin Eropa menekankan perlunya menciptakan kerangka keamanan Eropa yang lebih kuat.
Melaporkan dari ParsToday, Minggu, 15 Februari 2026, pada hari pertama Konferensi Keamanan Munich ke-62 yang berlangsung Jumat, 13 Februari, dengan fokus pada masa depan tatanan dunia dan perang Ukraina, para pemimpin Eropa menekankan urgensi kemandirian dan kekuatan Eropa dalam menjamin keamanan bersama.
Hari pertama konferensi dihadiri tokoh-tokoh politik dan militer terkemuka dari seluruh dunia. Suasana pertemuan lebih dari apa pun diwarnai oleh kekhawatiran terhadap masa depan tatanan dunia, ketegangan transatlantik, dan perang Ukraina. Sementara para pemimpin Eropa menekankan perlunya mendefinisikan ulang peran benua Eropa dalam keamanan bersama, pejabat Amerika berupaya menyampaikan pesan meyakinkan tentang kelanjutan dukungan kepada sekutu Barat.
Kanselir Jerman, Friedrich Merz, dalam pidatonya menegaskan bahwa tatanan berbasis aturan dan hukum internasional sudah tidak ada lagi. Ia menyatakan dunia telah memasuki era "persaingan kekuatan besar". Seraya mengkritik kebijakan Amerika Serikat, ia menyebut negara tersebut telah kehilangan posisi kepemimpinannya di dunia.
Merz juga menekankan perlunya menciptakan kerangka keamanan Eropa yang lebih kuat. Dalam pidatonya mengenai program strategis Berlin, ia menegaskan target agar angkatan bersenjata Jerman secepat mungkin menjadi angkatan bersenjata konvensional terkuat di benua Eropa. Namun, banyak keraguan menyelimuti target ini mengingat berbagai masalah seperti birokrasi Jerman yang rumit, tidak adanya budaya militerisme di kalangan pemuda Jerman, dan yang terpenting, masih adanya kekurangan parah di angkatan bersenjata Jerman akibat pengabaian selama bertahun-tahun.
Presiden Prancis, Emmanuel Macron, juga menyatakan bahwa kini saatnya Eropa, alih-alih hanya bergantung pada Amerika atau pihak lain, menjelma menjadi "kekuatan geopolitik" yang sesungguhnya, yaitu kekuatan dengan strategi independen dalam keamanan, pertahanan, dan pengambilan keputusan global, bukan sekadar blok ekonomi.
Ia menegaskan arsitektur keamanan Eropa saat ini, yang merupakan warisan Perang Dingin, sudah tidak relevan lagi. Mulai sekarang harus dipikirkan dan didiskusikan masa depan keamanan Eropa serta potensi peran kekuatan nuklir dan pertahanan bersama. Macron menambahkan bahwa Eropa harus memasuki isu-isu global dengan kepercayaan diri yang lebih besar, berbicara mengenai perang Ukraina dan hubungan dengan Rusia, serta menjalankan peran ini sendiri, alih-alih membiarkan pihak lain (misalnya Amerika) membangun "arsitektur keamanan" untuknya.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, menjelang dimulainya Konferensi Keamanan Munich, melunakkan nadanya terhadap Eropa seraya memperingatkan tentang "momen penentu" dalam hubungan transatlantik.
Sebelum berangkat ke Munich, ia menyatakan, "Saya rasa kita berada pada momen yang menentukan. Dunia berubah sangat cepat di depan mata kita. Dunia lama tempat saya dibesarkan sudah tidak ada lagi, dan kita kini hidup di era geopolitik baru."
Rubio, seraya menegaskan keterikatan mendalam Amerika dengan Eropa, menambahkan bahwa masa depan mereka selalu dan akan selalu terkait satu sama lain, sehingga perlu didiskusikan masa depan tersebut.
Terlepas dari pernyataan pejabat tinggi Amerika ini, berbagai tren dan bukti menunjukkan menjauhnya Amerika dari Eropa dan meningkatnya perbedaan pendapat kedua pihak atas isu-isu seperti perang Ukraina dan keamanan Eropa.
Di sisi lain, meskipun pernyataan para pemimpin Eropa di Konferensi Keamanan Munich 2026 menunjukkan menguatnya keinginan akan "kemandirian strategis", realisasinya dalam jangka pendek tampaknya mustahil. Sejumlah alasan melatarbelakangi hal ini:
Pertama, terdapat kesenjangan kapasitas militer. Banyak negara Uni Eropa masih bergantung pada payung penangkal NATO, terutama kemampuan strategis Amerika Serikat dalam bidang intelijen, logistik, dan nuklir. Pengembangan kemampuan ini membutuhkan investasi berkelanjutan selama bertahun-tahun dan koordinasi industri; sesuatu yang tidak sejalan dengan siklus politik pendek dan keterbatasan anggaran .
Kedua, heterogenitas persepsi ancaman dan prioritas di dalam benua Eropa. Misalnya, negara-negara Eropa Timur memandang ancaman Rusia lebih mendesak dan lebih mengandalkan jaminan Washington, sementara beberapa pemerintah Barat berfokus pada manajemen krisis di kawasan sekitar dan keamanan ekonomi. Perbedaan persepsi ini mempersulit pembentukan strategi pertahanan tunggal . Bahkan di antara aktor-aktor besar seperti Jerman dan Prancis, tidak ada konsensus penuh mengenai tingkat kemandirian pertahanan dan peran penangkal nuklir .
Ketiga, hambatan industri dan teknologi. Kemandirian keamanan tidak mungkin tercapai tanpa rantai pasok pertahanan yang terintegrasi dan kompetitif. Industri pertahanan Eropa terfragmentasi dan didasarkan pada standar yang berbeda, proyek-proyek bersama sering kali mengalami penundaan dan pembengkakan biaya.
Selain itu, dalam bidang-bidang kunci seperti sistem pengintaian canggih, angkutan strategis, dan beberapa teknologi siber, kesenjangan dengan tingkat investasi dan pengalaman operasional Amerika masih signifikan.
Keempat, saling ketergantungan ekonomi dan politik dengan Washington menjadi faktor penghambat perpecahan total. Kerja sama intelijen, sanksi, dan koordinasi diplomatik dalam banyak krisis telah menunjukkan bahwa sinergi transatlantik menciptakan keuntungan operasional. Mengganti jejaring ini tidak hanya mahal, tetapi juga berisiko, terutama dalam situasi di mana lingkungan keamanan Eropa semakin tidak stabil.
Terakhir, legitimasi politik dari pergeseran semacam itu masih rapuh. Opini publik di banyak negara tidak menyambut baik peningkatan drastis belanja pertahanan atau pengalihan sumber daya dari kesejahteraan sosial ke sektor militer.
Akibatnya, meskipun wacana kemandirian keamanan menguat dan langkah-langkah bertahap akan diambil untuk memperkuat kapasitas lokal, serangkaian keterbatasan struktural, finansial, dan politik membuat kemungkinan tercapainya kemandirian penuh dari Amerika dalam waktu dekat menjadi kecil.(sl)