Paket Berita Sore
Trump: Saya Tidak Memikirkan Perdamaian
-
Donald Trump, Presiden AS
Pars Today – Presiden Amerika Serikat dalam pernyataannya mengatakan bahwa ia tidak lagi merasa berkewajiban untuk hanya memikirkan perdamaian.
Menurut laporan Pars Today, sejumlah isu seperti presiden Amerika Serikat dan tabu perdamaian, krisis di Eropa dalam menghadapi ancaman Trump, badai di Gaza, konflik di Suriah, serta pernyataan ketua parlemen Iran mengenai kerusuhan terbaru di negara tersebut merupakan beberapa berita yang dibahas dalam paket berita Pars Today yang dikutip dari berbagai kantor berita.
Reuters | Trump memberi tahu Norwegia bahwa ia tidak lagi merasa berkewajiban untuk hanya memikirkan perdamaian
Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, dalam sebuah pesan kepada Perdana Menteri Norwegia menyatakan bahwa ia tidak lagi merasa “wajib hanya memikirkan perdamaian” karena ia tidak dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian, dan ia kembali mengulangi permintaannya untuk menguasai Greenland. Jonas Gahr Støre, Perdana Menteri Norwegia, dalam sebuah pernyataan mengatakan bahwa nota tersebut—yang telah dibagikan secara luas oleh pemerintah Amerika Serikat kepada negara‑negara lain—merupakan tanggapan terhadap pesan singkat dirinya dan Alexander Stubb, Presiden Finlandia, kepada Trump. Dalam pesan itu, mereka menentang keputusan Presiden Amerika Serikat untuk memberlakukan tarif terhadap sekutu‑sekutu Eropa karena penolakan mereka terhadap upaya Washington menguasai Greenland.
The Guardian | Uni Eropa memiliki alat yang diperlukan untuk menghadapi ancaman tarif Trump terkait Greenland
Dalam kelanjutan ketegangan antara Eropa dan Amerika Serikat mengenai upaya Washington untuk menguasai Greenland, Perdana Menteri Greenland menyatakan bahwa pernyataan terbaru Donald Trump “tidak menbubah dukungan" terhadap hak menentukan nasib sendiri bagi Greenland.
Jens‑Frederik Nielsen, Perdana Menteri Greenland, mengatakan bahwa pernyataan terbaru Trump “tidak mengubah” konsensus yang telah terbentuk dalam mendukung hak Greenland untuk menentukan masa depannya sendiri.
Dalam sebuah unggahan di Facebook, disertai foto‑foto demonstrasi pekan lalu di Greenland, ia menegaskan: “Kami tidak akan tunduk pada tekanan. Kami tetap berpegang pada dialog, rasa hormat, dan hukum internasional.”
Al Jazeera | Badai baru sedang menuju Gaza dan akan menggandakan penderitaan ribuan pengungsi
Di Gaza, yang penduduknya masih bergulat dengan dampak dukungan Amerika Serikat terhadap Israel dalam perang terhadap warga kawasan diperkirakan sebuah badai baru akan melanda wilayah tersebut.
Tareq Abu Azzoum, koresponden Al Jazeera, melaporkan dari Gaza pada hari Senin bahwa “ratusan ribu keluarga pengungsi masih hidup di tenda‑tenda robek dan rumah‑rumah tanpa atap, terpapar hujan, udara dingin, dan malam‑malam yang membekukan.”
Abu Azzoum menegaskan bahwa penderitaan ini secara langsung disebabkan oleh pembatasan yang diberlakukan Israel, karena Israel tidak mengizinkan “masuknya unit‑unit hunian portabel pra‑fabrikasi dan bahan bangunan penting untuk perlindungan menghadapi musim dingin,” serta tidak mengizinkan aliran bebas bantuan kemanusiaan dasar yang sangat dibutuhkan.
CNN | Pasukan Suriah telah merebut wilayah luas yang sebelumnya berada di bawah kontrol Kurdi
Dalam lanjutan laporan dari Asia Barat, diberitakan bahwa hanya dalam waktu dua hari, tentara Suriah dengan dukungan milisi suku berhasil mengusir pasukan Kurdi dari wilayah‑wilayah luas di utara Suriah yang telah mereka kuasai selama lebih dari satu dekade. Di antara kota‑kota yang kini berada di bawah kontrol tentara Suriah adalah Raqqa. Selain itu, sebagian besar cadangan minyak Suriah, untuk pertama kalinya dalam lebih dari sepuluh tahun, kini berada di bawah kontrol pemerintah Damaskus.
Press TV | Ghalibaf: Serangan teroris terbaru terhadap Iran mirip dengan serangan Pager Israel di Lebanon
Dari Iran dilaporkan bahwa Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran, menyatakan bahwa serangan teroris terbaru bergaya ISIS terhadap Iran memiliki tujuan yang serupa dengan serangan teroris yang dilakukan Israel dengan perangkat pager di Lebanon pada September 2024.
Ghalibaf pada hari Senin (19/1/2026) dalam sidang parlemen menambahkan bahwa rencana yang telah disusun sebelumnya mencakup “kekerasan telanjang dan terorganisasi, serangan teroris dan bersenjata, kerusuhan sipil yang sangat brutal, serta pembantaian kejam terhadap ribuan warga sipil, anggota Basij, dan pasukan kepolisian serta keamanan.” (MF)