Asia Barat Tegang, Harga Minyak Mentah Naik 1,5 Persen
-
Harga minyak mentah naik
Pars Today - Harga minyak naik lebih dari 1,5 persen dalam perdagangan Asia pada hari Kamis (29/1/2026), menyusul kekhawatiran tentang meningkatnya ketegangan di Asia Barat.
Menurut laporan dari kantor berita Mehr yang mengutip Reuters, meningkatnya kekhawatiran tentang eskalasi ketegangan di Asia Barat dan gangguan terhadap pasokan minyak mentah ke pasar global menyebabkan harga minyak mengalami kenaikan lebih dari 1,5% selama tiga hari berturut-turut pada perdagangan hari Kamis (29 Januari) di pasar Asia.
Harga minyak mentah Brent, patokan minyak Laut Utara, hingga pukul 04:36 GMT hari Kamis naik 99 sen atau 1,5% menjadi 69,39 dolar AS per barel.
Sementara itu, minyak mentah patokan WTI Amerika Serikat juga naik satu dolar dan 6 sen atau 1,7%, menjadi 64,27 dolar AS per barel.
Harga kedua patokan minyak tersebut telah naik sekitar 5% sejak hari Senin (6 Februari) dan mencapai level tertinggi sejak 29 September (7 Oktober) tahun lalu.
Kenaikan harga minyak ini terjadi sementara Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengirimkan armada kapal laut besar ke kawasan Timur Tengah.
Priyanka Sachdeva, analis pasar senior di lembaga Philip Nova, mengatakan bahwa meskipun Bank Sentral AS mempertahankan suku bunga, dan indeks dolar AS sedikit meningkat, namun karena meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran serta kekhawatiran tentang gangguan pasokan, harga minyak tetap berada di level tinggi.
Bank Sentral AS pada hari Rabu (28/1/2026), seiring dengan tanda-tanda perbaikan ekonomi AS, memutuskan untuk mempertahankan suku bunga. Penurunan suku bunga biasanya membuat pembelian minyak lebih murah bagi konsumen, yang pada gilirannya meningkatkan permintaan dan harga.
Sachdeva menambahkan bahwa penurunan produksi minyak di AS akibat cuaca buruk di beberapa bagian negara tersebut dan penurunan yang mengejutkan dalam level penyimpanan minyak mentah AS serta dampaknya yang mengurangi kekhawatiran sementara tentang kelebihan pasokan telah menyebabkan kenaikan harga.
Penurunan yang tidak terduga dalam cadangan penyimpanan minyak mentah AS, sebagai konsumen minyak terbesar di dunia, juga telah mendukung harga.
Badan Informasi Energi AS pada hari Rabu (28 Januari) mengumumkan bahwa cadangan minyak mentah negara tersebut pada minggu yang berakhir 23 Januari (3 Februari) turun 2,3 juta barel menjadi 423,8 juta barel, sementara para analis dalam survei Reuters memperkirakan kenaikan 1,8 juta barel.
Beberapa analis masih memprediksi harga minyak yang lebih tinggi dalam beberapa bulan mendatang karena risiko geopolitik.
Analis dari Citibank pada hari Rabu mengungkapkan dalam sebuah catatan bahwa eskalasi lebih lanjut dalam ketegangan geopolitik bisa mendorong harga minyak Brent hingga 72 dolar AS per barel. (MF)