Protes Meluas di Albania: Lawan Proyek Menantu Trump
-
Protes di Albania
Pars Today - Ribuan pengunjuk rasa untuk hari kedua belas berturut-turut di Tirana dan kawasan pesisir Albania, memprotes pembangunan menantu Donald Trump di sebuah pulau di negara Eropa ini.
Melansir Pars Today dari IRNA, 12 Juni 2026, ribuan pengunjuk rasa untuk hari kedua belas berturut-turut di Tirana dan kawasan pesisir Albania, dalam protes terhadap pembangunan menantu Donald Trump di sebuah pulau di negara Eropa ini, menggelar demonstrasi di jalanan Tirana, ibu kota negara tersebut, melawan Jared Kushner dan istrinya Ivanka Trump, putri Presiden Amerika.
Para pengunjuk rasa, yang menggunakan simbol flamingo merah muda untuk protes mereka, menuntut pembatalan penuh proyek ini dan pencegahan pembangunan di kawasan lindung ini.
Dalam kaitan yang sama, para legislator Albania dengan mengundang Sejban Japaj, Menteri Lingkungan Hidup negara ini, ke parlemen, telah berdiskusi dan bertukar pikiran tentang proyek pariwisata kontroversial yang direncanakan untuk kawasan pesisir ini.
Meskipun tekanan meningkat, Edi Rama, Perdana Menteri Albania, telah membela proyek pariwisata Jared Kushner dan menganggapnya sebagai bagian dari upaya negaranya untuk menjadi destinasi pariwisata global yang penting.
Sikap ini semakin memicu kemarahan para pengunjuk rasa, dan menjadikan slogan "Albania tidak dijual" sebagai inti dari pertemuan-pertemuan jalanan. Mereka mengatakan bahwa pemerintah negara ini, dalam jalur menghubungkan ekonominya yang rapuh dengan para investor yang dekat dengan lingkaran kekuasaan di Amerika, telah mengabaikan kepentingan umum, lingkungan hidup, dan hak-hak warga negara.
Protes ini menyingkap paradoks yang familiar: pemerintah yang mengejar investasi asing sering kali benturan dengan aspirasi rakyatnya sendiri. Edi Rama membela proyek Kushner sebagai "pengembangan pariwisata", tetapi rakyatnya melihatnya sebagai "penjualan negara". Simbol flamingo merah muda yang dipilih para pengunjuk rasa menarik, bukan simbol agresif, tapi simbol keindahan alam yang mereka perjuangkan. Dan fakta bahwa protes sudah berlangsung 12 hari berturut-turut menunjukkan bahwa ini bukan kemarahan sesaat, tapi gerakan yang mengakar. Ironi terbesar? PM Rama sebelumnya menuduh Iran berada di balik protes ini, sekarang rakyatnya sendiri yang turun ke jalan, bukan karena konspirasi asing, tetapi karena mereka tidak mau negaranya dijual kepada menantu presiden asing.(Sail)