"Setelah Baku Hantam, Kembali ke Pelukan": Kisah Retaknya Hubungan Trump-Netanyahu
-
Presiden AS Donald Trump
Pars Today - Surat kabar The Washington Post dalam sebuah laporan tentang nota kesepahaman Iran dan Amerika menulis bahwa Donald Trump kini merayakan kembalinya ke kondisi sebelum 28 Februari; sebuah situasi yang menurut sejumlah pakar adalah kemunduran yang sesungguhnya.
Melansir IRNA, 15 Juni 2026, Pars Today melaporkan bahwa kesepahaman antara Iran dan AS terbentuk di saat Trump berusaha mengakhiri perang yang mahal tersebut. Meskipun retorika di hari-hari awal perang menyerukan penghancuran kekuatan Republik Islam, kini ia hanya berusaha membuka kembali Selat Hormuz.
Trump pada hari Minggu mengumumkan berakhirnya kampanyenya terhadap Iran dengan kalimat: "Kapal-kapal dunia, hidupkan mesin kalian! Biarkan minyak mengalir!"
Menurut kolumnis The Washington Post, sebenarnya Trump sedang merayakan kembalinya ke kondisi sebelum 28 Februari (9 Esfand 1404), sehari sebelum serangan AS dan Israel ke Iran.
Laporan ini menyatakan, "Berkat perlawanan rakyat Iran dalam beberapa bulan terakhir, telah terjadi keretakan sedemikian rupa antara presiden AS dan Benjamin Netanyahu, perdana menteri Israel, sehingga Trump pada sebuah acara ulang tahunnya yang ke-80 di depan para jurnalis melontarkan makian kepada Netanyahu."
Di bagian lain laporan ini disebutkan, "Presiden AS, berbeda dengan retorikanya sebelum perang dimulai, kini tidak lagi berbicara tentang perubahan rezim di Iran. Ia justru memusatkan perhatian pada negosiasi dengan Teheran dan mundur dari setiap tindakan militer yang dapat membahayakan perdamaian, seperti yang terjadi pada hari Minggu ketika ia mengkritik Netanyahu karena menyerang Dahiyeh Lebanon."
The Washington Post selanjutnya merujuk pada penolakan sejumlah pendukung setia Trump terhadap kesepakatan dengan Iran, termasuk Mark Levin, pembawa acara radio dan komentator konservatif Amerika, yang menuntut publikasi rincian nota kesepahaman ini.
Senator Lindsey Graham, tokoh dekat Trump lainnya dan pendukung setia serangan militer ke Iran, setelah pengumuman kesepahaman antara Iran dan AS, menyebut J.D. Vance sebagai "arsitek kesepakatan" dan menekankan bahwa teks rinciannya harus mendapat persetujuan Kongres.
The Washington Post menyebut retorika "let the oil flow" Trump sebagai selebrasi atas "kembali ke status quo". Namun ironisnya, status quo sebelum 28 Februari itulah yang memicu perang. Jadi ini adalah "perang yang berakhir di titik awal", dengan korban jiwa dan miliaran dolar melayang sia-sia .
Yang lebih menarik adalah tekanan dari para sekutu Trump sendiri. Lindsey Graham, yang dulu paling vokal mendukung perang, kini mengancam akan memanggil Vance untuk bersaksi di Kongres. Ini adalah sinyal bahaya bagi pemerintahan Trump. Graham dengan cerdik menyebut Vance yang akan memimpin negosiasi putaran kedua di Pakistan, sebagai "arsitek kesepakatan". Jika nanti negosiasi 60 hari gagal, Vance akan menjadi "kambing hitam" yang sempurna.(Sail)