Bolton: "Trump Cuma Mikirin Bensin, Bukan Geopolitik. Iran Manfaatkan Itu"
https://parstoday.ir/id/news/world-i191620-bolton_trump_cuma_mikirin_bensin_bukan_geopolitik._iran_manfaatkan_itu
Pars Today - John Bolton, mantan penasihat keamanan nasional AS, mengkritik kesepakatan antara Washington dan Tehran dengan mengatakan bahwa Iran, dengan memahami keinginan kuat Donald Trump untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz, telah memperoleh lebih banyak konsesi.
(last modified 2026-06-16T17:03:31+00:00 )
Jun 16, 2026 23:25 Asia/Jakarta
  • John Bolton, mantan penasihat keamanan nasional AS
    John Bolton, mantan penasihat keamanan nasional AS

Pars Today - John Bolton, mantan penasihat keamanan nasional AS, mengkritik kesepakatan antara Washington dan Tehran dengan mengatakan bahwa Iran, dengan memahami keinginan kuat Donald Trump untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz, telah memperoleh lebih banyak konsesi.

Melansir ParsToday, 16 Juni 2026, John Bolton, mantan penasihat keamanan nasional AS, dalam wawancaranya dengan Euronews, menyatakan:

"Iran, setelah mengetahui keputusasaan Donald Trump, Presiden AS, untuk mencapai kesepakatan guna mengakhiri perang, berhasil memperoleh posisi tawar yang lebih unggul dalam negosiasi dan menciptakan kondisi yang jauh lebih menguntungkan bagi dirinya sendiri."

Ia menambahkan, "Kerangka kesepakatan yang dicapai menguntungkan Iran. Presiden AS lebih mengutamakan pertimbangan ekonomi daripada pertimbangan strategis."

Bolton melanjutkan, "Trump tidak memikirkan konsekuensi strategis dan geopolitik dari kesepakatan ini. Ia hanya menginginkan satu hal: Selat Hormuz tetap terbuka, minyak Teluk mengalir ke pasar global, dan harga bensin turun. Hanya itulah yang penting baginya."

Bolton, seraya mengatakan bahwa Tehran telah membuat penilaian yang tepat tentang posisi Trump, menambahkan, "Dia (Trump) sangat menginginkan kesepakatan, dan mereka (Iran) berhasil memanfaatkannya."

Pernyataan Bolton ini adalah kritik paling blak-blakan dari kalangan "elit keamanan" tradisional AS terhadap kebijakan Trump di Timur Tengah.

Kekuatan analisis Bolton terletak pada pengakuannya yang jujur: Iran berhasil "membaca" kelemahan Trump, yaitu keputusasaan untuk mengakhiri perang demi harga bensin yang turun menjelang pemilu. Ini adalah perangkap klasik yang sering terjadi dalam diplomasi: ketika salah satu pihak menunjukkan kegelisahan yang terlalu besar untuk menyelesaikan konflik, pihak lain akan memanfaatkannya untuk meraih keuntungan maksimal.(Sail)