Helium yang Terkatung-katung; Bagaimana Selat Hormuz Mengancam Revolusi AI
https://parstoday.ir/id/news/world-i194546-helium_yang_terkatung_katung_bagaimana_selat_hormuz_mengancam_revolusi_ai
Pars Today - Sebanyak 200 kontainer helium terapung-apung di Teluk Persia, memicu krisis dalam produksi chip AI canggih. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran telah memutus satu-satunya jalur ekspor helium dari Qatar, yang menyumbang sepertiga pasokan global.
(last modified 2026-08-08T07:30:53+00:00 )
Aug 08, 2026 14:20 Asia/Jakarta
  • Helium
    Helium

Pars Today - Sebanyak 200 kontainer helium terapung-apung di Teluk Persia, memicu krisis dalam produksi chip AI canggih. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran telah memutus satu-satunya jalur ekspor helium dari Qatar, yang menyumbang sepertiga pasokan global.

Melansir Tasnim News, Minggu, 8 Agustus 2026, gas yang selama ini lebih dikenal sebagai pengisi balon ini ternyata merupakan bahan baku paling vital bagi industri semikonduktor dan infrastruktur kecerdasan buatan.

Untuk memahami kedalaman krisis ini, kita perlu melihat empat dimensi yang saling terkait:

1. Fasilitas Ras Laffan; Mati Total Selama Bertahun-tahun

Serangan drone Iran pada 28 Februari 2026 menghantam kawasan industri Ras Laffan di Qatar, fasilitas penghasil helium terbesar di dunia. QatarEnergy (QatarGas) menghentikan produksi dan menyatakan force majeure hanya beberapa hari kemudian. Fasilitas ini terkena serangan berulang kali, dan pemerintah Qatar memperkirakan perbaikan total akan memakan waktu 3 hingga 5 tahun. Ras Laffan sebelumnya memproduksi sekitar 2,4 miliar kaki kubik helium per tahun, sepertiga dari total pasokan dunia.

2. 200 Kontainer Terperangkap di Teluk Persia; Tikus Menuju Kematian

Selain produksi terhenti, penutupan Selat Hormuz telah menjebak 200 kontainer khusus berisi helium cair di Teluk Persia. Kontainer-kontainer ini didinginkan hingga mendekati nol mutlak (-269°C) saat dimuat, tetapi dengan setiap hari tertahan, helium perlahan memanas. Para ahli memperingatkan bahwa gas ini akan menguap sepenuhnya dalam 35 hingga 48 hari, lenyap ke atmosfer selamanya. Nilai setiap kontainer diperkirakan mencapai 1 juta dolar AS. Selain kehilangan helium itu sendiri, krisis ini juga menyebabkan kelangkaan kontainer pengangkut di seluruh dunia.

3. Ketergantungan Korea Selatan dan Taiwan; Waktu yang Terus Berdetak

Korea Selatan dan Taiwan, dua negara produsen chip terbesar, sangat bergantung pada helium Qatar. Pada tahun 2025, Korea Selatan mengimpor 64,7% heliumnya dari Qatar, dan Taiwan sekitar 88% dari negara-negara Teluk Persia.

Raksasa seperti Samsung, SK Hynix, dan TSMC diperkirakan memiliki stok helium hanya untuk 4 hingga 6 bulan ke depan. Jika krisis berlanjut, produksi chip memori HBM (High Bandwidth Memory) yang sangat dibutuhkan untuk GPU AI bisa terancam, yang pada gilirannya akan memengaruhi pasokan ke Nvidia dan perusahaan AI lainnya.

4. Helium dalam Industri Chip; Peran Kunci di Balik Layar AI

Helium tidak tergantikan dalam berbagai tahap produksi semikonduktor. Fungsinya antara lain mendinginkan mesin litografi EUV, mendeteksi kebocoran di ruang hampa, dan menciptakan lingkungan ultra-bersih. Tidak ada gas lain yang bisa menggantikannya untuk aplikasi ini.

Bahkan jika konflik berakhir dan Selat Hormuz dibuka kembali, para ahli memperkirakan butuh waktu sekitar tiga bulan bagi rantai pasok helium untuk pulih. Biaya logistik dan perbaikan infrastruktur akan terus menjadi penghambat bagi industri AI selama bertahun-tahun mendatang.(Sail)