Perang Asimetris Cerdas; Bagaimana Iran dan Yaman Mengubah Aturan Permainan
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i197320-perang_asimetris_cerdas_bagaimana_iran_dan_yaman_mengubah_aturan_permainan
Seorang pejabat senior keamanan siber rezim Zionis mengakui kemampuan Iran dan Yaman dalam menggunakan kecerdasan buatan (AI).
(last modified 2026-09-23T08:54:48+00:00 )
Sep 23, 2026 15:35 Asia/Jakarta
  • Perang Asimetris Cerdas; Bagaimana Iran dan Yaman Mengubah Aturan Permainan

Seorang pejabat senior keamanan siber rezim Zionis mengakui kemampuan Iran dan Yaman dalam menggunakan kecerdasan buatan (AI).

Menurut laporan Pars Today, Gil Messing, kepala staf siber Check Point dari rezim Zionis, dalam pernyataan yang patut diperhatikan di Channel 12 Israel mengatakan: “...Orang-orang Iran dan Yaman menggunakan teknologi kecerdasan buatan, baik dalam pengembangan rudal maupun dalam melakukan pengujian terkait rudal tersebut. Ini bukan sesuatu yang akan terjadi ‘suatu saat nanti’ atau ‘mungkin’; ini adalah sesuatu yang sedang terjadi sekarang, di depan mata kita, di semua front...”

Pernyataan Gil Messing, kepala staf siber perusahaan Check Point, di Channel 12 Israel bukan sekadar peringatan mengenai masa depan, melainkan gambaran tentang realitas yang saat ini sedang terbentuk di medan-medan perang kawasan. Penekanannya bahwa Iran dan Yaman “sekarang, di depan mata kita” menggunakan AI dalam pengembangan dan pengujian rudal menunjukkan perubahan mendasar dalam sifat persenjataan dan doktrin militer di kawasan.

Perkembangan ini harus dianalisis dalam kerangka yang lebih luas, yaitu peralihan dari persenjataan konvensional menuju sistem yang dapat mengambil keputusan secara otomatis, mengoreksi jalurnya sendiri, dan tetap berfungsi secara efektif dalam lingkungan elektronik yang kompleks.

Dalam kasus Iran, integrasi AI ke dalam industri kedirgantaraan telah melampaui tahap eksperimental dan mencapai tahap operasional. Para pejabat militer Iran secara terbuka menyatakan penggunaan rudal yang dilengkapi AI dalam latihan militer dan operasi nyata. Contoh utamanya adalah rudal Fattah dan drone Arash-2 yang, menurut juru bicara Angkatan Darat Iran, digunakan dalam operasi-operasi terbaru terhadap pangkalan-pangkalan Amerika Serikat dengan kemampuan AI.

Dalam konteks yang sama, drone Shahed-136 juga dilengkapi modul pemrosesan citra Nvidia “Jetson”, yang memungkinkan identifikasi dan penargetan visual secara otomatis pada fase akhir penerbangan serta mengurangi ketergantungan pada sinyal GPS yang rentan terhadap peperangan elektronik. Rudal hipersonik Fattah juga dilengkapi sistem AI yang mampu mengoreksi jalurnya di tengah penerbangan dengan kecepatan mendekati Mach 5; kemampuan yang secara khusus dirancang untuk menembus lapisan pertahanan rudal.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa Iran sedang mengembangkan doktrin “peperangan asimetris cerdas”, di mana sistem yang murah tetapi presisi digunakan, alih-alih bersaing secara langsung dengan keunggulan teknologi pihak lawan, untuk membuat biaya pertahanan lawan menjadi tidak tertanggungkan.

Di Yaman, terlihat pola penggunaan AI yang berbeda. Berbeda dengan Iran, pola tersebut bergantung pada perangkat komersial dan large language models (LLM). Laporan perusahaan Anthropic menunjukkan bahwa para spesialis militer Yaman menggunakan model AI “Claude” untuk mengembangkan perangkat lunak pemandu dan navigasi persenjataan, termasuk rudal balistik bertingkat dengan jangkauan lebih dari 2.000 kilometer dan glider hipersonik. Menurut klaim perusahaan tersebut, para spesialis ini menyembunyikan tujuan sebenarnya dari proyek untuk menghindari mekanisme perlindungan perusahaan dan membagi proses pengerjaan ke dalam beberapa sesi; sebuah metode yang menunjukkan kesadaran strategis terhadap sistem pengawasan algoritmik.

Meskipun Anthropic mengklaim bahwa upaya tersebut tidak menghasilkan senjata operasional dan pengujian sebuah roket berpemandu mengalami kegagalan, kembalinya para pelaku proyek tersebut ke “Claude” untuk menelusuri penyebab kegagalan menunjukkan munculnya suatu siklus pembelajaran dan perbaikan berbasis AI dalam pengembangan persenjataan. Fenomena ini menunjukkan bahwa aktor-aktor nonnegara kini memiliki akses terhadap kemampuan yang sebelumnya hanya dimiliki negara-negara maju, sehingga ketergantungan mereka terhadap pendukung eksternal berkurang.

Tampaknya, pengakuan pejabat senior siber Israel mengenai penggunaan AI oleh Iran dan Yaman bukan sekadar laporan intelijen, melainkan tanda dimulainya era ketika AI menjadi “pengganda kekuatan” yang dapat diakses oleh berbagai aktor dan secara fundamental mengubah persamaan keamanan di kawasan.