Washington Post: Serangan ke Saudi Buktikan Kerapuhan Aliansi dengan AS
https://parstoday.ir/id/news/event-i197202-washington_post_serangan_ke_saudi_buktikan_kerapuhan_aliansi_dengan_as
Pars Today – Sebuah surat kabar Amerika menulis bahwa serangan-serangan Yaman terhadap Arab Saudi membuktikan keterbatasan dukungan pemerintah Amerika terhadap Riyadh di tengah eskalasi perang dengan Iran.
(last modified 2026-09-21T12:45:50+00:00 )
Sep 21, 2026 19:37 Asia/Jakarta
  • MBS dan Trump
    MBS dan Trump

Pars Today – Sebuah surat kabar Amerika menulis bahwa serangan-serangan Yaman terhadap Arab Saudi membuktikan keterbatasan dukungan pemerintah Amerika terhadap Riyadh di tengah eskalasi perang dengan Iran.

Menurut laporan Kantor Berita Mehr, surat kabar "Washington Post" dalam sebuah laporan menulis bahwa Arab Saudi menghadapi tekanan-tekanan yang meningkat; tekanan-tekanan ini meningkat setelah fasilitas-fasilitas minyak dan jalur pipa minyak menjadi sasaran serta serangan-serangan terhadap pangkalan-pangkalan militer dan infrastruktur energi. Hal ini terjadi sementara Ansarullah Yaman telah memperoleh pencapaian lapangan di pantai barat Yaman dan telah mendekati Selat Bab al-Mandab, yang merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting untuk perdagangan energi global.

 

Washington Post mengutip dua pejabat pemerintahan bayaran Yaman di Aden menulis bahwa permintaan bantuan Aden dari Washington tidak terjawab.

 

Surat kabar ini mengutip Michael Ratney, Duta Besar Amerika di Arab Saudi antara tahun 2023 hingga 2025, menulis bahwa Arab Saudi telah "beberapa dekade" menginvestasikan kemitraan militernya dengan Amerika, tetapi momen yang Riyadh persiapkan untuknya telah tiba, namun Washington tidak bertindak seperti yang diharapkan Arab Saudi.

 

Seorang pejabat tinggi di pemerintahan Trump yang tidak ingin namanya diungkapkan, mengatakan bahwa Amerika fokus pada perlindungan "kepentingan fundamental keamanan nasionalnya," termasuk kebebasan navigasi di Laut Merah. Ia mengatakan bahwa Washington memiliki dialog berkelanjutan dengan pemerintah Arab Saudi dan pemerintah Aden, tetapi tidak berkomentar tentang permintaan bantuan Arab Saudi atau rincian kontak Trump dengan Putra Mahkota Saudi.

 

Berdasarkan laporan ini, Riyadh karena ketergantungan yang meningkat pada jalur ekspor minyak melalui Laut Merah, menghadapi tekanan yang meningkat; karena perang dengan Iran telah mengganggu pergerakan pelayaran di Selat Hormuz. Pipa minyak timur ke barat Arab Saudi yang telah menjadi jalur vital untuk transfer minyak ke Laut Merah, masih sebagian besar tertutup setelah serangan minggu lalu. Di Yaman, Ansarullah telah memperkuat posisinya di pantai barat dan mengambil kendali atas wilayah-wilayah strategis dekat Bab al-Mandab.

 

Washington Post menambahkan bahwa pentingnya Bab al-Mandab bagi Arab Saudi telah berlipat ganda sejak gangguan pelayaran di Selat Hormuz, karena Riyadh sekarang lebih bergantung pada transfer minyaknya melalui jalur "timur ke barat" ke pelabuhan-pelabuhan Laut Merah dan kemudian ekspornya melalui jalur pelayaran yang terletak di pintu masuk selatan Laut Merah. Washington Post sebelumnya telah memperingatkan bahwa kombinasi gangguan di Hormuz dan ancaman terhadap Bab al-Mandab, menghadapkan jalur-jalur ekspor minyak Arab Saudi pada tekanan-tekanan simultan.

 

Andrew Leber, peneliti urusan Timur Tengah di "Carnegie Endowment for International Peace" percaya bahwa Trump berupaya menghindari konflik militer langsung dan memperkenalkan perang ini sebagai sengketa antara Arab Saudi dan Ansarullah. Hal ini terjadi sementara Arab Saudi membayangkan bahwa Amerika akan membantu dalam perang ini.

 

Leber percaya bahwa tidak adanya intervensi dalam perang khususnya dengan memperhatikan pentingnya strategis Yaman dan posisinya di jalur-jalur pelayaran internasional memiliki biaya-biaya potensial bagi Amerika.

 

Di sisi lain, "Ahmed Naji", analis senior urusan Yaman di "International Crisis Group" mengatakan: Salah satu tantangan yang dihadapi Arab Saudi adalah ketidaksiapan Amerika untuk menyerang Ansarullah.

 

Naji menambahkan bahwa Arab Saudi membutuhkan perluasan lingkup negara-negara yang terlibat dalam pengelolaan krisis ini, termasuk Amerika dan negara-negara Uni Eropa.

 

Washington Post di akhir menulis bahwa Arab Saudi melihat dirinya menghadapi persamaan keamanan yang lebih kompleks; persamaan yang mencakup ancaman-ancaman langsung terhadap fasilitas energi, gangguan pada jalur-jalur ekspor minyak dan perluasan pengaruh Ansarullah di pantai Laut Merah. Hal ini terjadi sementara Washington, meskipun ada kelanjutan kemitraan strategis dan militer lama antara kedua negara, tampaknya tidak begitu siap untuk melakukan intervensi militer yang luas. (MF)