Kekuatan Rudal dan Drone Iran Terus Berlanjut; Strategi Militer AS Gagal
-
Kekuatan rudal Iran
Pars Today - Kantor berita Bloomberg dalam sebuah laporan menulis: Iran meskipun berbulan-bulan dibombardir Amerika dan Israel, telah mempertahankan pabrik-pabrik produksi rudal dan drone-nya dan karena itulah mampu mengisi kembali gudang senjatanya.
Menurut laporan Pars Today, pejabat-pejabat Barat mengatakan Iran masih memiliki cadangan signifikan rudal balistik dan beberapa senjata anti-kapal dan dapat dengan cepat menambah jumlahnya. Rusia juga memasok rudal kepada Iran. Penilaian mereka menunjukkan Republik Islam Iran masih memiliki kekuatan tembak yang cukup untuk merespons kemungkinan serangan udara Amerika dan mungkin akan semakin beralih ke perang asimetris.
Laporan Bloomberg yang mengutip pejabat-pejabat Barat yang mengetahui tentang pemeliharaan pabrik produksi rudal dan drone Iran, kepemilikan Teheran atas cadangan persenjataan yang signifikan, dan kemampuan membangun kembali gudang senjata rudalnya, mengandung poin-poin penting tentang realitas kekuatan militer Iran dan keterbatasan strategi serangan udara Amerika dan rezim Zionis. Berdasarkan laporan ini, meskipun berbulan-bulan pemboman luas, Iran masih memiliki kapasitas industri yang diperlukan untuk memproduksi senjata dan mengkompensasi sebagian kerugian perang.
Penilaian ini bertentangan dengan klaim Donald Trump dan Pete Hegseth, Menteri Perang Amerika, tentang kehancuran total kemampuan industri militer dan infrastruktur pertahanan Iran dan menunjukkan bahwa penilaian kemampuan militer suatu negara tidak dapat dilakukan semata-mata berdasarkan tingkat kerusakan yang ditimbulkan pada fasilitas atau intensitas serangan udara.
Komponen terpenting dalam kelanjutan kekuatan militer Iran, adalah mempertahankan infrastruktur produksi dan pengetahuan teknis lokal di bidang rudal dan drone. Terdapat perbedaan mendasar antara penghancuran sejumlah rudal dan drone yang ada di gudang senjata suatu negara dan kehancuran kemampuannya untuk membuat senjata baru. Jika jalur produksi, tenaga kerja ahli, pengetahuan teknik, rantai pasokan, dan kapasitas desain serta pengujian masih aktif, kerusakan pada cadangan persenjataan tidak serta-merta berarti hilangnya kekuatan militer dalam jangka panjang.
Dalam kondisi seperti itu, bahkan serangan udara berat pun mungkin alih-alih menghilangkan kemampuan secara permanen, hanya memperlambat proses produksi atau meningkatkan biaya dan waktu pembangunannya. Dari perspektif ini, pentingnya laporan Bloomberg lebih terkait pada kelangsungan kapasitas produksi dan kemungkinan kelanjutan pengembangan senjata di dalam Iran daripada jumlah rudal yang tersisa.
Masalah ini menjadi lebih penting di bidang drone. Produksi banyak drone, dibandingkan dengan sistem udara canggih dan kompleks, memerlukan infrastruktur industri yang lebih kecil dan rantai pasokan yang berbeda. Juga kemungkinan penyebaran kegiatan produksi dan penggunaan komponen serta teknologi komersial, membuat identifikasi dan penghancuran total kapasitas produksi menjadi lebih sulit.
Tentu saja karakteristik ini bukan berarti kekebalan industri drone dari serangan atau ketidakbutuhannya pada komponen asing; melainkan menunjukkan bahwa penghancuran beberapa pusat tertentu, tidak serta-merta mengarah pada penghentian total produksi. Kombinasi rudal balistik, rudal jelajah, dan drone ofensif juga memungkinkan Iran menggunakan alat-alat yang lebih beragam untuk respons militer dan menghadapkan pihak lawan pada serangkaian ancaman yang berbeda.
Aspek lain dari kemampuan ini, adalah kemampuan membangun kembali gudang senjata Iran selama atau setelah perang terbaru. Laporan Bloomberg merujuk pada penilaian intelijen Barat yang berdasarkan itu, Iran hingga bulan Juni telah mempertahankan sebagian besar amunisi pra-perangnya. Pada saat yang sama, perkiraan jumlah rudal yang tersisa disertai ketidakpastian dan angka-angka terkait cadangan awal, jumlah yang ditembakkan, dan kapasitas produksi ulang tidak boleh dianggap sama.
Namun, bahkan tanpa akses ke statistik yang akurat, mempertahankan pabrik dan pengetahuan produksi dapat menyediakan kemungkinan mengkompensasi sebagian konsumsi persenjataan. Laporan juga mengklaim bahwa Rusia membantu memasok rudal untuk Iran; masalah yang jika dikonfirmasi secara independen, dapat mempengaruhi proses pembangunan kembali kemampuan rudal, meskipun tingkat dan jenis bantuan ini tidak jelas dalam informasi yang dipublikasikan.
Dari sudut pandang strategis, kelanjutan kapasitas produksi rudal dan drone, menghadapkan perhitungan Amerika dan rezim Zionis pada kesulitan. Strategi serangan udara dapat mencapai hasil yang berkelanjutan ketika selain menimbulkan kerusakan pada peralatan dan pasukan, juga menghilangkan kemampuan penggantian dan produksi ulangnya. Jika tidak, Amerika menghadapi siklus yang melelahkan di mana setiap putaran serangan mengarah pada penurunan sementara kemampuan militer Iran, tetapi kapasitas produksi dan pembangunan kembali menyediakan kemungkinan menghidupkan kembali sebagian kekuatan yang hilang. Kondisi seperti itu meningkatkan biaya mencapai keunggulan militer yang berkelanjutan dan meningkatkan kemungkinan kelanjutan konflik.
Masalah ini juga penting di bidang maritim dan keamanan energi. Kepemilikan Iran atas rudal anti-kapal dan kemampuan memproduksi atau membangun kembali senjata ini, bersama dengan posisi geografis Iran di dekat Selat Hormuz, dapat mempengaruhi perhitungan militer dan ekonomi pihak lawan. Bahkan kemungkinan gangguan pelayaran, tanpa semua ancaman benar-benar terwujud, mampu meningkatkan biaya asuransi, transportasi, dan penyewaan kapal tanker dan menekan pasar energi. Namun, tingkat efektivitas kemampuan semacam itu juga bergantung pada faktor lain seperti informasi penargetan, status operasional sistem, pertahanan lawan, dan kondisi lapangan.
Tampaknya laporan Bloomberg menyajikan gambaran tentang keterbatasan strategi mengandalkan pemboman untuk menghancurkan secara berkelanjutan kemampuan militer Iran. Keunggulan utama Iran tidak terbatas pada jumlah rudal dan drone yang ada, melainkan pada keterkaitan antara pengetahuan teknis, kapasitas produksi domestik, kemungkinan pembangunan kembali cadangan, dan kemampuan menggunakan metode asimetris untuk menghadapi keunggulan udara musuh.
Tentu saja mempertahankan pabrik saja tidak menjamin pembangunan kembali gudang senjata yang cepat dan kekurangan bahan baku, komponen, tenaga ahli, dan tekanan ekonomi dapat mempersulit proses ini. Meskipun ada keterbatasan ini, selama kapasitas desain dan produksi utama tidak sepenuhnya hilang, klaim kehancuran definitif kemampuan rudal dan drone Iran akan dipandang dengan keraguan serius. Pesan utama dari situasi ini bagi Washington dan Tel Aviv adalah bahwa menghancurkan peralatan militer berbeda dengan menghilangkan kemampuan Iran untuk memproduksi ulang kekuatan militer dan mengabaikan kenyataan ini dapat mengarah pada perkiraan yang salah dan kelanjutan perang gerilya yang mahal. (MF)