Sidang Umum PBB, Mimbar untuk Menuntut Keadilan bagi Iran
https://parstoday.ir/id/news/iran-i197300-sidang_umum_pbb_mimbar_untuk_menuntut_keadilan_bagi_iran
Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran mengatakan: “Tahun ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menjadi mimbar untuk menjelaskan ketidakadilan yang dialami rakyat Iran, para syuhada Sekolah Minab, dan pemimpin yang gugur sebagai syahid.”
(last modified 2026-09-23T08:19:39+00:00 )
Sep 23, 2026 16:03 Asia/Jakarta
  • Sidang Umum PBB, Mimbar untuk Menuntut Keadilan bagi Iran

Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran mengatakan: “Tahun ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menjadi mimbar untuk menjelaskan ketidakadilan yang dialami rakyat Iran, para syuhada Sekolah Minab, dan pemimpin yang gugur sebagai syahid.”

Pernyataan Sayyed Abbas Araghchi tersebut menjadi peta jalan bagi kehadiran Republik Islam Iran dalam Sidang Umum PBB di New York. Tahun ini, Iran datang ke New York untuk meneriakkan sebuah kenyataan yang jelas: Amerika Serikat dan rezim Zionis melakukan agresi militer terhadap Iran, dan rakyat Iran menanggung akibat dari serangan tersebut. Perang ini bagi Iran bukan sekadar pertempuran militer. Ini merupakan ujian besar bagi tatanan internasional. Iran mempertahankan wilayahnya di medan militer, dan kini mempertahankan kebenaran tentang perang tersebut di medan diplomasi.

Araghchi menambahkan bahwa situasinya masih dalam kondisi perang. Oleh karena itu, perjalanan delegasi Iran ke New York bukanlah perjalanan diplomatik biasa. Ini merupakan kelanjutan dari pertahanan Iran di medan lain. Kali ini medannya adalah PBB, opini publik dunia, dan media internasional. Medannya adalah mencatat kebenaran dan mencegah terjadinya distorsi terhadap kebenaran tersebut.

Di urutan teratas dalam daftar ini adalah pemimpin Republik Islam Iran yang gugur sebagai syahid. Gugurnya pemimpin sebuah negara dalam suatu agresi militer bukanlah persoalan yang dapat dipisahkan dari perkara perang. Peristiwa ini merupakan bagian dari realitas perang yang dihadapi rakyat Iran. Serangan musuh terhadap Sekolah Minab juga berada di jantung kenyataan tersebut. Sebanyak 168 anak dan guru gugur sebagai syahid. Mereka adalah anak-anak yang sedang berada di ruang kelas, bukan di medan perang. Kematian mereka bukan sekadar angka statistik. Itu adalah kejahatan yang harus dimintai pertanggungjawaban. Atas dasar itu, Menteri Luar Negeri Iran mengajukan pertanyaan yang lebih besar kepada PBB, yaitu: bagaimana kepercayaan yang telah hilang terhadap organisasi ini dapat dipulihkan?

Slogan Sidang Umum PBB tahun ini adalah memulihkan kepercayaan terhadap PBB. Slogan ini dikemukakan dalam kondisi ketika kredibilitas lembaga-lembaga internasional berada di bawah tekanan serius. Ketika agresi militer terjadi dan respons masyarakat internasional tidak sebanding dengan skalanya, kepercayaan pun rusak. Ketika dukungan terhadap hak asasi manusia dilakukan secara selektif, kepercayaan runtuh. Ketika hukum diterapkan secara ketat terhadap sebagian negara, tetapi dapat diabaikan terhadap negara lainnya, konsep keadilan internasional kehilangan kredibilitasnya. Persoalan Iran tepatnya adalah hal tersebut. Mengapa hukum internasional harus diabaikan terhadap rakyat Iran?

Pertanyaan-pertanyaan ini kini diajukan di New York. Iran tidak ingin perkara perang tersebut hilang di tengah berita-berita harian dunia. Iran tidak ingin gugurnya para syuhada Sekolah Minab dilupakan. Iran tidak ingin gugurnya pemimpin Iran hanya menjadi satu baris dalam sejarah perang. Teheran datang untuk mengatakan bahwa upaya menuntut keadilan bagi rakyat Iran belum berakhir. Karena itu, pertemuan Presiden Republik Islam Iran Masoud Pezeshkian dan rombongannya, pidato di Sidang Umum PBB, wawancara dengan media, pertemuan dengan para kepala negara, serta pertemuan-pertemuan multilateral, semuanya memiliki satu fungsi bersama, yaitu menyampaikan narasi Iran kepada dunia.

Diplomasi ini adalah diplomasi untuk menuntut keadilan. Rakyat Iran berdiri menghadapi agresi musuh, memberikan para syuhada, menanggung biaya, tetapi tidak menyerah. Kini para pejabat Iran pergi ke New York untuk menjadi suara bagi mereka yang tidak lagi memiliki kesempatan untuk berbicara: suara para syuhada Sekolah Minab, suara pemimpin yang gugur sebagai syahid, suara keluarga-keluarga yang berduka, dan suara suatu bangsa yang mengatakan bahwa kebenaran tentang perang tidak dapat diputarbalikkan.

PBB tahun ini berbicara tentang pemulihan kepercayaan. Iran juga memiliki jawaban yang jelas: kepercayaan tidak dipulihkan dengan slogan; kepercayaan dipulihkan dengan keadilan. Dipulihkan dengan penerapan hukum secara setara. Dipulihkan dengan meminta pertanggungjawaban pihak yang melakukan agresi. Oleh karena itu, New York tahun ini bagi Iran adalah mimbar untuk menuntut keadilan; mimbar bagi para syuhada Iran dan mimbar bagi kebenaran tentang perang yang dipaksakan kepada bangsa ini.