Wakil Zoroaster: Sejarah Bukan Alat Propaganda
-
Behshid Berkhordar, wakil komunitas Zoroaster Iran di Majelis Syura Islam Iran
Pars Today - Wakil komunitas Zoroaster di Majelis Syura Islam Iran dalam sebuah catatan memberikan reaksi terhadap klaim Marco Rubio, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat.
Menurut laporan Pars Today mengutip Kantor Berita IRIB, Selasa, 13 Oktober 2026, Behshid Berkhordar, wakil komunitas Zoroaster Iran di Majelis Syura Islam Iran, dalam catatan sebagai reaksi terhadap klaim Marco Rubio di Athena mengenai ekspedisi militer Xerxes dan pembakaran kuil-kuil Athena, dengan menegaskan perlunya menghindari pembacaan sejarah secara selektif, menyatakan, "Iran adalah negeri budaya, peradaban, dan keteguhan, dan ancaman serta penghinaan tidak dapat menghancurkan kehendak bangsa Iran."
Ia mengatakan, "Jika hendak berbicara tentang sejarah, seluruh narasinya harus didengar, bukan hanya bagian yang hari ini melayani politik dan kekuasaan. Maka izinkan saya merujuk Anda pada buku yang ditulis bukan oleh seorang Iran, melainkan oleh Herodotus, sejarawan Yunani, sejarah yang sama yang di dalamnya tercatat narasi serangan Athena dan Ionia terhadap Sardis, salah satu pusat penting Kekaisaran Akhemeniyah.
Behshid Berkhordar menegaskan, "Tuan Rubio! Sejarah bukan kantor propaganda pemerintah mana pun. Ia adalah cermin yang setiap orang harus melihat wajahnya sendiri di dalamnya sebelum menunjuk kepada orang lain."
Ia mengatakan, "Saya, sebagai wakil komunitas Zoroaster Iran di Majelis Syura Islam, berbicara dari posisi sebuah bangsa yang akar budayanya menjangkau kedalaman sejarah, bangsa yang dalam warisan pemikirannya menempatkan kebenaran di hadapan kebohongan, kebijaksanaan di hadapan kebodohan, dan kemakmuran di hadapan kehancuran. Dalam budaya Zoroaster, pikiran baik, perkataan baik, dan perbuatan baik bukan sekadar kata-kata untuk memperindah ucapan, melainkan tolok ukur untuk menilai perilaku dan kekuasaan manusia.
Berkhordar menambahkan, "Dari posisi inilah kami mengatakan: Jika Anda berbicara tentang peradaban, hormatilah peradaban; jika Anda berbicara tentang sejarah, jangan memutarbalikkannya; dan jika Anda berbicara tentang perdamaian dan keamanan, jangan campurkan ancaman terhadap suatu bangsa dengan bahasa superioritas peradaban. Iran tidak lahir dengan satu pidato dan tidak akan lenyap dengan satu pidato. Iran adalah negeri budaya dan peradaban, negeri pemikiran dan puisi, negeri ilmu dan arsitektur, negeri warisan yang melewati pasang surut sejarah dan masih hidup.
Ia mengatakan, "Bangsa Iran berkali-kali melihat badai zaman, tetapi tidak kehilangan identitasnya. Kota dan bangunan mungkin mengalami kerusakan, perbatasan mungkin mengalami perubahan, tetapi ingatan sejarah suatu bangsa tidak dapat dibungkam dengan ancaman dan penghinaan."
Wakil komunitas Zoroaster Iran di Majelis Syura Islam mengatakan, "Era orang yang menyangka dapat menghancurkan kehendak suatu bangsa dengan pamer kekuatan telah berakhir. Iran tidak dapat diringkas dalam beberapa kalimat politik, sebagaimana tidak ada peradaban yang dapat dikenal hanya dari perang dan kekalahan sejarahnya. Kami tidak menyambut perang, tetapi kami juga tidak menganggap menyerah terhadap ancaman sebagai keutamaan. Kami menginginkan saling menghormati, keamanan yang berkelanjutan, dan masa depan di mana bangsa-bangsa berbicara satu sama lain bukan dengan bahasa penghinaan, melainkan dengan bahasa kebijaksanaan; dan kepada mereka yang meremehkan Iran, saya katakan: Jangan mengukur Iran dengan peta hari ini; Iran adalah hasil ribuan tahun ingatan, budaya, pengalaman, dan kehendak nasional."
Ia menambahkan, "Jika seseorang membayangkan dapat membuat bangsa ini berlutut dengan ancaman, ia harus tahu bahwa kekuatan sejati suatu negara tidak hanya terletak pada jumlah senjata dan peralatannya, tetapi juga pada ikatan rakyatnya dengan tanah air, pada modal budayanya, pada kemampuan bertahan, dan pada kehendak membangun masa depan, yang hari ini telah dibuktikan oleh bangsa Iran yang mulia dengan kehadiran lebih dari 220 hari di lapangan.
Berkhordar mengatakan, "Kami adalah anak-anak negeri yang dalam ingatan peradabannya, dari Cyrus dan Darius hingga Ferdowsi serta para pemikir dan pejuang zaman kontemporer, seperti Hemmat, Bakeri, Soleimani, dan Bagheri, para pelajar Minab dan Lamerd, jutaan tentara tak dikenal, tentara di belakang peluncur, dan keberadaan pemimpin syahid revolusi di barisan terdepan, menyimpan berbagai narasi tentang kekuatan, kebijaksanaan, dan identitas."
Ia menambahkan, "Saya dari posisi wakil Zoroaster Iran, dengan bersandar pada warisan kebenaran dan kebijaksanaan, menyatakan pesan ini dengan jelas: Iran menginginkan penghormatan, bukan belas kasihan; menginginkan keamanan, bukan ancaman, dan menginginkan hubungan yang didasarkan pada saling menghormati, bukan hierarki di mana suatu bangsa menganggap dirinya sebagai hakim peradaban bangsa lain, dan jika seseorang masih memilih bahasa ancaman, jawaban kami jelas: Bangsa Iran, dengan bersandar pada kesadaran, solidaritas, dan kehendaknya, akan membela hak menentukan nasib sendiri dan kemerdekaannya.
Wakil komunitas Zoroaster Iran di Majelis Syura Islam pada akhirnya menegaskan, "Tuan Rubio, saya menyarankan Anda alih-alih menyumpahkan orang-orang Barat atas nama jenggot putih Socrates untuk bergabung dengan Anda dalam menyerang Iran, berlakulah bijaksana. Hari ini dalam catatan saya ini, saya mengingatkan perkataan Darius Agung yang sebaiknya Anda ulangi tiga kali sehari untuk diri Anda sendiri; yaitu bahwa kemarahan bangsa yang telah dibangkitkan akan membakar setiap kejahatan. Maka takutlah dan ketahuilah bahwa kami pasti menang."
"Behshid Berkhordar, wakil komunitas Zoroaster Iran di Majelis Syura Islam, memberikan reaksi terhadap klaim Marco Rubio di Athena mengenai ekspedisi Xerxes dan pembakaran kuil Athena. Ia menekankan perlunya menghindari pembacaan sejarah secara selektif dan merujuk pada buku Herodotus yang mencatat serangan Athena dan Ionia terhadap Sardis. Berkhordar menegaskan sejarah bukan kantor propaganda pemerintah mana pun, dan Iran adalah negeri budaya, peradaban, serta keteguhan yang tidak dapat dihancurkan dengan ancaman dan penghinaan."(Sail)