Araghchi: Agresor Harus Bertanggung Jawab atas Kejahatan Lingkungan
https://parstoday.ir/id/news/iran-i198412-araghchi_agresor_harus_bertanggung_jawab_atas_kejahatan_lingkungan
Pars Today - Menteri Luar Negeri Iran dengan menyatakan bahwa kita tidak boleh membiarkan para agresor lolos dari beban tanggung jawab atas tindakan kriminal mereka, mengatakan: Lingkungan hidup adalah warisan bersama umat manusia; bukan arena persaingan, bukan alat tekanan politik, dan bukan korban pertimbangan ekonomi serta militer jangka pendek.
(last modified 2026-10-11T11:13:56+00:00 )
Okt 11, 2026 18:11 Asia/Jakarta
  • Menlu Iran, Abbas Araghchi
    Menlu Iran, Abbas Araghchi

Pars Today - Menteri Luar Negeri Iran dengan menyatakan bahwa kita tidak boleh membiarkan para agresor lolos dari beban tanggung jawab atas tindakan kriminal mereka, mengatakan: Lingkungan hidup adalah warisan bersama umat manusia; bukan arena persaingan, bukan alat tekanan politik, dan bukan korban pertimbangan ekonomi serta militer jangka pendek.

Menurut laporan Pars Today yang dikutip dari Kantor Berita Fars, Sayid Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran pada hari (Minggu, 11/10) dalam Konferensi Internasional "Ekosedia; Kejahatan Perang yang Sunyi" mengatakan: Hari ini lingkungan hidup tidak lagi dapat dianggap sebagai korban perang yang sunyi. Perang dan konflik tidak hanya menargetkan nyawa manusia, kota-kota, dan infrastruktur ekonomi serta sosial, melainkan air, tanah, udara, hutan, lahan pertanian, sumber energi, habitat alami, dan keanekaragaman hayati juga terpapar dampak destruktifnya.

 

Araghchi menyatakan: Dalam tahun-tahun terakhir di Gaza, Lebanon, dan Iran kita telah menyaksikan bagaimana serangan-serangan militer, selain korban manusia dan kehancuran infrastruktur vital, meninggalkan dampak yang mendalam dan kadang permanen terhadap lingkungan hidup.

 

Ia menegaskan: Dari sudut pandang Republik Islam Iran, hukum internasional tidak boleh acuh terhadap perusakan lingkungan hidup dan pelanggaran hak-hak fundamental manusia dalam kondisi perang. Penerapan efektif prinsip-prinsip hukum humaniter internasional, termasuk prinsip pembedaan dan prinsip proporsionalitas, harus diperhatikan di samping perhatian serius terhadap dampak langsung, tidak langsung, dan jangka panjang dari tindakan-tindakan militer terhadap lingkungan hidup.

 

Araghchi mengatakan: Hukum humaniter internasional termasuk aturan-aturan terkait perlindungan lingkungan hidup alami dalam konflik bersenjata, harus dipatuhi dengan serius dan masyarakat internasional tidak dapat bersikap acuh terhadap konsekuensi lingkungan dari perang. Dokumentasi independen atas kerusakan, penilaian ilmiah atas dampak jangka panjang, dan penyediaan kemungkinan kompensasi serta rekonstruksi harus menjadi bagian yang tak terpisahkan dari respons internasional terhadap konflik.

 

Menteri Luar Negeri Iran menyatakan: Penyelenggaraan pertemuan ke-31 Konferensi Para Pihak Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (COP 31) adalah kesempatan yang tepat untuk menarik perhatian masyarakat internasional lebih dari sebelumnya pada dampak destruktif serangan-serangan agresif terhadap lingkungan hidup dan iklim negara-negara. Tujuannya harus memperkuat kerja sama internasional, meningkatkan akuntabilitas, tanggung jawab, dan perlindungan terhadap para korban, melindungi lingkungan hidup, dan menjamin hak-hak generasi mendatang. Republik Islam Iran siap dalam jalur ini, mengerahkan kapasitas ilmiah, hukum, dan diplomatiknya untuk memperkuat kerja sama internasional.

 

Ia mengatakan: Republik Islam Iran juga siap berpartisipasi dalam upaya-upaya kolektif untuk mencegah perusakan lingkungan hidup yang luas, memperkuat kerja sama regional, dan meningkatkan akuntabilitas internasional. Kita tidak boleh membiarkan para agresor lolos dari beban tanggung jawab atas tindakan kriminal mereka. Kita harus dengan kerja sama dan partisipasi kolektif meminta pertanggungjawaban mereka. Alam tidak memiliki suara di meja negosiasi atau perang. Ini adalah tanggung jawab kita untuk tidak membiarkan keheningan mereka berakhir dengan harga kehancuran masa depan umat manusia. (MF)