Seoul Tolak Diplomasi Menyerah kepada AS
https://parstoday.ir/id/news/world-i198534-seoul_tolak_diplomasi_menyerah_kepada_as
Pars Today - Lee Jae-myung, Presiden Korea Selatan, pada hari Selasa menyusul perbedaan pendapat dengan pemerintah Amerika Serikat mengenai pengungkapan informasi terkait fasilitas nuklir Korea Utara, dengan menegaskan bahwa aliansi dengan Amerika Serikat adalah batu fondasi politik luar negeri Seoul, menolak segala bentuk "diplomasi menyerah" dan mengatakan bahwa kepentingan nasional Korea Selatan harus diprioritaskan.
(last modified 2026-10-13T08:12:06+00:00 )
Okt 13, 2026 15:07 Asia/Jakarta
  • Lee Jae-myung, Presiden Korea Selatan
    Lee Jae-myung, Presiden Korea Selatan

Pars Today - Lee Jae-myung, Presiden Korea Selatan, pada hari Selasa menyusul perbedaan pendapat dengan pemerintah Amerika Serikat mengenai pengungkapan informasi terkait fasilitas nuklir Korea Utara, dengan menegaskan bahwa aliansi dengan Amerika Serikat adalah batu fondasi politik luar negeri Seoul, menolak segala bentuk "diplomasi menyerah" dan mengatakan bahwa kepentingan nasional Korea Selatan harus diprioritaskan.

Menurut laporan ISNA, Selasa, 13 Oktober 2026, Lee Jae-myung, Presiden Korea Selatan, sementara negaranya mempertahankan aliansi pentingnya dengan Amerika Serikat, dalam pidatonya sekaligus menolak apa yang disebutnya sebagai "diplomasi menyerah", menegaskan bahwa kepentingan nasional harus diprioritaskan.

Menurut laporan kantor berita Yonhap, Lee dalam rapat kabinet hari ini, Selasa, mengatakan bahwa Korea Selatan harus mengejar diplomasi pragmatis sambil mempertahankan martabatnya.

Lee mengatakan, "Diplomasi harus dijalankan sedemikian rupa sehingga selalu menjaga martabat Korea Selatan dan melindungi kepentingan nasionalnya." Ia menolak segala bentuk "sikap menyerah atau menundukkan kepala".

Presiden Korsel menambahkan, "Prinsip pemandu diplomasi Korea Selatan adalah pragmatisme. Hal terpenting bagi Korea Selatan adalah kepentingan nasionalnya."

Lee menggambarkan aliansi dengan Amerika Serikat sebagai "sangat penting" dan batu fondasi politik luar negeri Korea Selatan.

Namun ia mengakui bahwa perbedaan pendapat di antara sekutu tidak dapat dihindari dan harus diselesaikan melalui dialog serta koordinasi yang berkelanjutan.

Presiden Korsel menuntut agar perbedaan pendapat dijaga pada tingkat yang dapat dikelola dan menyatakan, "Perbedaan harus terus dibahas, dikemukakan, dan dikoordinasikan."

Pernyataannya disampaikan di tengah ketegangan mengenai pembatasan Washington dalam berbagi informasi tentang fasilitas nuklir Korea Utara.

Perbedaan ini muncul setelah Chung Dong-young, Menteri Unifikasi, secara terbuka menyebut Kusong sebagai situs yang dicurigai untuk pengayaan uranium. Menurut laporan, Washington menganggap pengungkapan itu sensitif, sementara Seoul bersikeras bahwa informasi tersebut tersedia secara terbuka. Pejabat intelijen Korea Selatan menegaskan bahwa kerja sama keamanan yang lebih luas masih tetap terjaga.

Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, baru-baru ini berupaya menghidupkan kembali hubungan dengan Kim Jong-un, pemimpin Korea Utara, dan berkali-kali menyebutkan pertemuan yang akan segera terjadi dengannya. Ia baru-baru ini mengatakan mungkin akan bertemu Kim pada bulan November. Presiden Amerika Serikat yang menurut laporan media, diplomasinya dengan Korea Utara pada tahun 2019 di pemerintahan pertamanya terbatas pada beberapa foto dengan pemimpin Korea Utara dan pernyataan-pernyataan akrab tentangnya, menggambarkan hubungan dengan Kim sebagai "sangat baik".

Trump baru-baru ini membatasi latihan bersama dengan Korea Selatan dengan mempertimbangkan posisi Korea Utara. Meskipun tidak mendapat respons yang menjanjikan dari Pyongyang, karena Korea Utara menggambarkan dan mengecam setiap latihan Amerika Serikat dengan Korea Selatan, dalam skala apa pun, sebagai tindakan yang memicu ketegangan di Semenanjung Korea.

"Lee Jae-myung, Presiden Korea Selatan, menolak segala bentuk "diplomasi menyerah" menyusul perbedaan pendapat dengan Amerika Serikat mengenai pengungkapan informasi terkait fasilitas nuklir Korea Utara. Ia menegaskan aliansi dengan AS adalah batu fondasi politik luar negeri Seoul, tetapi kepentingan nasional Korea Selatan harus diprioritaskan dan diplomasi harus dijalankan dengan pragmatisme sambil menjaga martabat."(Sail)