Mengapa AS Gagal Taklukan Iran dan Yaman?
https://parstoday.ir/id/news/world-i198436-mengapa_as_gagal_taklukan_iran_dan_yaman
John Mearsheimer, profesor di Universitas Chicago, mengatakan bahwa Amerika Serikat tidak memiliki strategi untuk meraih kemenangan dalam menghadapi Iran dan Ansarullah Yaman.
(last modified 2026-10-12T04:18:45+00:00 )
Okt 12, 2026 11:14 Asia/Jakarta
  • Mengapa AS Gagal Taklukan Iran dan Yaman?

John Mearsheimer, profesor di Universitas Chicago, mengatakan bahwa Amerika Serikat tidak memiliki strategi untuk meraih kemenangan dalam menghadapi Iran dan Ansarullah Yaman.

Pakar terkemuka hubungan internasional ini menilai kebuntuan yang dihadapi Washington saat ini merupakan akibat dari kesenjangan antara kekuatan militer dan kemampuan untuk mencapai tujuan politik. Amerika Serikat masih memiliki daya tembak yang besar, tetapi tidak dapat menjamin bahwa serangan yang lebih intensif akan membuat pihak lawan menyerah. Persoalan utama Washington saat ini adalah bagaimana mengakhiri perang yang tidak memiliki strategi kemenangan yang jelas.

Pengalaman konfrontasi Amerika Serikat dengan Ansarullah pada musim semi 2025 memperlihatkan kenyataan ini. Pemerintahan Donald Trump memulai operasi militer berskala besar dengan janji akan mengalahkan pasukan Yaman. Sekitar tujuh minggu kemudian, operasi tersebut berakhir dengan kesepakatan penghentian serangan yang dimediasi Oman. Trump menggambarkan perkembangan ini sebagai kemenangan Amerika Serikat, tetapi Ansarullah tetap menjadi aktor berpengaruh dalam dinamika politik Yaman dan keamanan Laut Merah. Kesenjangan antara klaim kemenangan dan hasil nyata operasi tersebut merupakan inti kritik Mearsheimer. Keunggulan udara saja tidak mampu mematahkan tekad politik pihak lawan. Penghancuran sasaran militer tidak serta-merta membuat lawan menyerah. Washington telah mengalami kenyataan ini di Yaman dan kini menghadapi tantangan yang lebih besar dalam berhadapan dengan Iran.

Pembukaan kembali front Yaman akan meningkatkan biaya militer Amerika Serikat. Perang dengan Iran juga telah menekan persediaan persenjataan Washington. Rudal jelajah, amunisi berpemandu presisi, dan pencegat canggih bukanlah sumber daya yang tidak terbatas. Penggantiannya membutuhkan waktu dan biaya yang besar. Terlibat dalam perang berkepanjangan melawan Ansarullah tanpa prospek kemenangan yang menentukan berarti menghabiskan persenjataan yang juga dibutuhkan militer Amerika Serikat di medan-medan lain.

Mearsheimer memandang persoalan ini dari sudut tersebut. Ketika biaya operasi meningkat, tetapi hasil politik yang jelas tidak tercapai, kekuatan militer justru berubah menjadi faktor yang menguras sumber daya, alih-alih menyelesaikan krisis.

Posisi geografis Yaman juga membuat situasi ini semakin rumit. Selat Bab el-Mandeb merupakan salah satu jalur penting bagi perdagangan global dan pengangkutan energi. Dengan kemampuannya mengancam pelayaran dan infrastruktur vital Arab Saudi, Ansarullah dapat memperluas biaya konflik hingga melampaui perbatasan Yaman. Bersamaan dengan itu, ketidakamanan di Laut Merah dan krisis di Selat Hormuz meningkatkan tekanan terhadap pasar energi dan perdagangan global. Semakin luas perang berlangsung, semakin besar pula biaya untuk melindungi jalur pelayaran dan fasilitas energi milik sekutu Amerika Serikat. Dalam kondisi seperti ini, Washington menghadapi kontradiksi serius: Amerika Serikat memasuki perang untuk menjamin keamanan sekutunya, tetapi intervensi militer justru dapat membuat keamanan tersebut semakin rapuh.

Bahaya yang lebih besar adalah keterkaitan antara front Yaman dan perang Amerika Serikat melawan Iran. Mearsheimer memperingatkan bahwa serangan berskala besar terhadap Ansarullah dapat mendorong Iran untuk memberikan dukungan yang lebih aktif kepada sekutunya tersebut. Dalam situasi demikian, Washington justru memperluas cakupan krisis, bukannya meredamnya. Bahkan keberhasilan militer pada tahap awal tidak akan menjamin kemenangan akhir. Hasil perang tidak hanya ditentukan oleh besarnya kerusakan yang ditimbulkan. Kemampuan pihak lawan untuk terus bertahan dan membebankan biaya kepada lawannya juga menjadi faktor penentu. Kenyataan inilah yang membuat keunggulan persenjataan Amerika Serikat berubah dari sebuah kelebihan militer menjadi sesuatu yang tidak cukup untuk menjamin kemenangan.

Kebuntuan yang dihadapi Washington kini semakin jelas. Perluasan perang akan semakin menguras persediaan persenjataan, membahayakan keamanan sekutu-sekutu regional, dan meningkatkan biaya ekonomi. Sementara itu, mundur dari perang juga menimbulkan konsekuensi politik bagi pemerintahan yang memulai perang dengan janji kemenangan. Namun, melanjutkan perang tanpa tujuan yang dapat dicapai justru akan membuat biaya untuk keluar dari konflik semakin besar. Setiap front baru berpotensi menyeret Amerika Serikat lebih dalam ke dalam krisis yang tidak jelas kapan akan berakhir.

Dengan demikian, peringatan Mearsheimer menyoroti kelemahan mendasar strategi Washington. Amerika Serikat kini menghadapi pertanyaan penting: bagaimana keluar dari perang yang tidak memiliki strategi kemenangan yang jelas?