Prospek Ekonomi Dunia Terikat pada Penyelesaian Berkelanjutan Perang Iran
https://parstoday.ir/id/news/world-i197352-prospek_ekonomi_dunia_terikat_pada_penyelesaian_berkelanjutan_perang_iran
Pars Today - Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memperingatkan bahwa "prospek ekonomi dunia masih sangat bergantung pada tercapainya solusi berkelanjutan untuk perang Iran".
(last modified 2026-09-24T04:26:34+00:00 )
Sep 24, 2026 11:24 Asia/Jakarta
  • Harga minyak bergantung pada Iran dan AS
    Harga minyak bergantung pada Iran dan AS

Pars Today - Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memperingatkan bahwa "prospek ekonomi dunia masih sangat bergantung pada tercapainya solusi berkelanjutan untuk perang Iran".

Melansir IRNA dari The Guardian, Rabu, 23 September 2026, organisasi yang berbasis di Paris ini dalam laporan prospek ekonominya mengumumkan bahwa pertumbuhan ekonomi global sejak perang agresif Amerika dan rezim Zionis terhadap Iran dimulai pada akhir Februari, menunjukkan ketahanan yang lebih besar dari perkiraan. Lembaga ini menilai pasokan cadangan minyak dunia, penurunan drastis impor energi Tiongkok, dan beralih ke bahan bakar alternatif termasuk batu bara sebagai komponen yang membantu meredam dampak ekonomi akibat terbatasnya pasokan minyak Teluk Persia.

Namun, OECD memperingatkan bahwa kenaikan kembali harga minyak dan gas dalam beberapa pekan terakhir membawa risiko untuk bulan-bulan mendatang. Dalam sebagian laporan organisasi ini disebutkan, "Prospek ekonomi dunia masih sangat bergantung pada apakah solusi berkelanjutan untuk konflik Timur Tengah akan tercapai atau tidak."

Mathias Cormann, Sekretaris Jenderal organisasi ini, dalam kaitan ini mengatakan, "Ekonomi global melewati guncangan lain lebih baik dari perkiraan. Tetapi kapasitasnya untuk menyerap guncangan tidak terbatas. Cadangan energi menurun, ruang fiskal pemerintah menyempit, biaya pembiayaan meningkat, dan ketahanan saja tidak cukup."

Ia juga menyoroti risiko yang timbul dari meningkatnya biaya pembayaran utang pemerintah dalam kondisi kenaikan imbal hasil obligasi atau suku bunga di ekonomi-ekonomi besar.

Menurut Cormann, "Risiko finansial dan anggaran telah meningkat. Imbal hasil obligasi pemerintah 30 tahun di 6 dari 7 ekonomi G7 mencapai level tertinggi dalam 15 tahun atau lebih. Ini berarti peningkatan biaya pembayaran utang bagi pemerintah yang anggarannya sudah tertekan, dan juga berarti peningkatan biaya pinjaman bagi bisnis dan rumah tangga."

Rantai Guncangan Ekonomi; Tangga yang Tidak Menuju Surga!

Peringatan ini mencerminkan pernyataan Kristalina Georgieva, Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional. Georgieva kepada BBC World mengatakan bahwa ekonomi-ekonomi maju dunia harus bertindak untuk mengurangi pinjaman dan menurunkan tingkat utang mereka.

Menurut Direktur IMF, rantai guncangan ekonomi global telah meningkatkan tingkat utang seperti "tangga yang tidak menuju surga", dan pemerintah "tidak melakukan tindakan apa pun untuk mengekang biaya pembayaran utang ini. Sudah waktunya tindakan ini dilakukan dan para politisi harus berani mengambil langkah-langkah yang diperlukan."

OECD dalam pembaruan prediksi kuartalannya mengumumkan bahwa ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi global tahun ini mencapai 2,9 persen; angka yang 0,1 poin persentase lebih tinggi dari prediksi 2,8 persen organisasi ini pada bulan Juni. Pada saat yang sama, lembaga ini juga sedikit menurunkan prediksi pertumbuhan tahun depan dari 3,1 menjadi 3 persen.

Harga minyak hari Selasa (22/9) di tengah harapan akan kemungkinan tercapainya kesepakatan antara Amerika dan Iran, kembali turun di bawah 100 dolar per barel, tetapi berlanjutnya kebuntuan antara kedua pihak dalam beberapa pekan terakhir menyebabkan lonjakan biaya energi.

OECD memperingatkan bahwa meskipun diperkirakan dengan berkurangnya konflik, pasokan minyak lebih banyak ke pasar akan dilanjutkan, "gangguan berulang atau lebih lama dalam pasokan dapat menyebabkan baik peningkatan inflasi maupun penurunan pertumbuhan ekonomi".

Organisasi ini juga menilai fenomena iklim El Niño yang diperkirakan menjadi yang terkuat dalam seribu tahun terakhir sebagai "risiko penurunan yang signifikan" bagi ekonomi global dan memperingatkan bahwa fenomena ini dapat mengurangi produksi produk pertanian dan meningkatkan harga pangan.

"OECD memperingatkan bahwa prospek ekonomi dunia masih sangat bergantung pada tercapainya solusi berkelanjutan untuk perang Iran. Sejak perang agresif AS-Israel terakhir Iran dimulai akhir Februari, ekonomi global menunjukkan ketahanan lebih besar dari perkiraan, dibantu oleh pasokan cadangan minyak, penurunan drastis impor energi Tiongkok, dan peralihan ke bahan bakar alternatif (batu bara). Namun, kenaikan kembali harga minyak dan gas dalam beberapa pekan terakhir membawa risiko."(Sail)