Wall Street Journal: Perang dengan Iran Ungkap Kelemahan Militer Amerika Serikat
https://parstoday.ir/id/news/world-i194672-wall_street_journal_perang_dengan_iran_ungkap_kelemahan_militer_amerika_serikat
Surat kabar Wall Street Journal dalam sebuah analisis menyatakan kekhawatiran atas terungkapnya kerentanan dan kelemahan militer Amerika Serikat dalam perang melawan Iran.
(last modified 2026-08-10T06:30:36+00:00 )
Aug 10, 2026 15:20 Asia/Jakarta
  • Wall Street Journal: Perang dengan Iran Ungkap Kelemahan Militer Amerika Serikat

Surat kabar Wall Street Journal dalam sebuah analisis menyatakan kekhawatiran atas terungkapnya kerentanan dan kelemahan militer Amerika Serikat dalam perang melawan Iran.

Wall Street Journal melaporkan bahwa serangan Iran terhadap pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat di Asia Barat, termasuk serangan baru-baru ini di Yordania yang dilancarkan Iran, menunjukkan meningkatnya ancaman dari rudal dan drone musuh.

Wall Street Journal menegaskan bahwa serangan-serangan tersebut menunjukkan Amerika Serikat tidak memiliki kesiapan yang memadai untuk mempertahankan pangkalan-pangkalan di luar negeri, infrastruktur vital, dan personelnya.

Dalam analisis tersebut diklaim bahwa sejak dimulainya perang, Iran telah melakukan lebih dari 2.000 serangan udara, rudal, dan drone di seluruh Asia Barat serta merusak sedikitnya 20 lokasi yang digunakan militer Amerika Serikat di 8 negara.

Surat kabar Amerika tersebut juga mengklaim bahwa Iran sejauh ini telah menimbulkan kerugian hingga 13 miliar dolar kepada Amerika Serikat hanya dalam hal kerusakan peralatan dan fasilitas.

Menurut Wall Street Journal, secara keseluruhan, Iran telah menghancurkan atau merusak lebih dari 42 pesawat militer Amerika Serikat.

Surat kabar New York Times juga kembali membahas berkurangnya persediaan persenjataan Amerika Serikat dan menulis: Lima bulan perang dengan Iran telah membawa persediaan persenjataan vital Amerika Serikat ke tingkat terendah. Lebih dari 1.500 rudal Patriot dan ribuan rudal jelajah serta rudal balistik jarak jauh telah digunakan dalam konflik ini, dan untuk mengisi kembali persediaan tersebut setidaknya diperlukan waktu dua tahun.

Kekurangan ini, yang bahkan sebelum perang telah terjadi akibat dukungan terhadap Ukraina, kini telah berubah menjadi krisis penuh yang sangat melemahkan kemampuan Amerika Serikat untuk merespons ancaman di Eropa dan Asia.

Rusia dan Tiongkok mengamati dengan cermat berkurangnya persediaan tersebut dan mungkin memanfaatkan kesempatan ini untuk melakukan tindakan strategis di wilayah-wilayah yang disengketakan seperti Taiwan atau Eropa Timur.

Skenario yang dapat mengubah tatanan keamanan global selama beberapa dekade mendatang.