MIT Memperingatkan Dampak AI di Universitas
-
Kecerdasan Buatan
Pars Today - Kecerdasan buatan (AI) dengan cepat mengubah lanskap pendidikan tinggi, tetai kekhawatiran juga terus meningkat mengenai dampak teknologi ini terhadap kemampuan belajar dan berpikir kritis mahasiswa. Sebuah laporan dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) memperingatkan bahwa penggunaan alat AI secara luas dapat berujung pada kondisi yang disebut para peneliti sebagai "penyerahan kognitif" (cognitive surrender).
Menurut ISNA, Sabtu, 19 September 2026, sebuah komite MIT yang mengkaji penggunaan AI di lingkungan universitas menyatakan bahwa teknologi tersebut telah membawa "perubahan besar dalam budaya akademik". Laporan itu mencatat bahwa mahasiswa yang beralih ke chatbot untuk mendapatkan jawaban mungkin lebih jarang memanfaatkan waktu konsultasi (office hours) dengan profesor dan kurang terlibat dalam belajar kelompok. Dalam situasi seperti itu, memperoleh jawaban siap pakai dapat menciptakan "ilusi pembelajaran", di mana mahasiswa merasa telah menguasai suatu materi, padahal proses pembelajaran yang sesungguhnya dan keterlibatan mental belum benar-benar terjadi.
Kekhawatiran ini muncul di saat banyak pengelola universitas berpendapat bahwa AI tidak bisa begitu saja diabaikan. Wendy Hensel, Presiden University of Hawaii, menegaskan bahwa respons pendidikan tinggi terhadap AI tidak bisa sekadar penolakan mentah-mentah. Sebaliknya, universitas harus mengambil pendekatan yang terukur dan etis untuk memahami implikasi teknologi tersebut.
Penelitian terbaru memperkuat beberapa kekhawatiran ini. Sebuah studi yang melibatkan 26.000 siswa sekolah menengah di Tiongkok menemukan bahwa meskipun penggunaan AI meningkatkan nilai pekerjaan rumah sebesar 18 persen, nilai ujian yang dilakukan tanpa akses ke teknologi tersebut justru turun sebesar 20 persen. Para peneliti menduga bahwa ketergantungan pada chatbot untuk menyelesaikan tugas dengan cepat mungkin telah menghambat pembelajaran mendalam yang penting untuk keberhasilan dalam ujian mandiri.
Kendati demikian, menghapus AI dari universitas bukanlah tugas yang mudah. Banyak sistem pendidikan, termasuk Google Classroom dan berbagai platform pembelajaran daring, kini memiliki fitur berbasis AI, dan chatbot populer bahkan dapat menghasilkan makalah penelitian utuh atau tugas yang sudah selesai bagi mahasiswa.
Akibatnya, universitas menerapkan berbagai pendekatan yang beragam. Ohio State University mengintegrasikan AI di semua disiplin ilmu, serta mengajarkan mahasiswa kapan harus memanfaatkan teknologi tersebut dan kapan harus menghindari ketergantungan padanya. Harvard sedang menjajaki desain tugas yang meminimalkan peluang kecurangan dengan bantuan AI, kemungkinan dengan beralih ke lebih banyak ujian tatap muka dan lebih sedikit tugas yang dikerjakan di rumah (take-home assignments).
Sebaliknya, University of Chicago telah melarang penggunaan AI dalam mata kuliah ilmu sosial wajib tertentu, sementara fakultas hukum UC Berkeley melarang penggunaan kecerdasan buatan untuk kegiatan bertukar gagasan (brainstorming), penyusunan kerangka, penulisan draf, peninjauan, dan penyuntingan tugas-tugas akademik tertentu. Cornell University juga telah memilih pendekatan yang bersifat edukatif dan korektif untuk menangani pelanggaran ringan terkait AI; alih-alih mencatat pelanggaran tersebut dalam rekam jejak disipliner resmi, pihak universitas mewajibkan mahasiswa untuk mengakui tanggung jawab, mengikuti lokakarya, serta melakukan kegiatan reflektif.
Pada akhirnya, tantangan utama yang dihadapi universitas bukan lagi sekadar memilih antara melarang atau mengizinkan penggunaan AI, melainkan menentukan batasan antara penggunaan AI untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan penggunaannya sebagai pengganti kemampuan berpikir kritis. Sebagaimana dikemukakan oleh seorang profesor ilmu komputer di Oregon State University, mahasiswa mau tidak mau akan berinteraksi dengan teknologi ini. Persoalan sesungguhnya adalah bagaimana universitas dapat mengajarkan mereka untuk menggunakannya secara bertanggung jawab.(Sail)