Menteri Kebudayaan Iran: Shahriar Simbol Keterkaitan Jiwa dan Iman
Menteri Kebudayaan dan Bimbingan Islam Iran, dengan menekankan kedudukan bahasa dan puisi Persia dalam memperkuat identitas nasional, mengatakan: Profesor Mohammad-Hossein Behjat Tabrizi (Shahriar) bukan hanya seorang penyair ghazal yang mengungkapkan perasaan, tetapi juga simbol keterkaitan jiwa dan iman. Kenangan dan pemikirannya dapat menjadi sumber inspirasi bagi para penyair masa kini.
Menurut Pars Today, mengutip IRNA, Seyyed Abbas Salehi dalam pesannya pada Jumat malam untuk acara Hari Puisi dan Sastra Persia serta penghormatan kepada Profesor Shahriar mengatakan: Bahasa merupakan simbol solidaritas dan penguatan fondasi nasional, dan melestarikannya bukan sekadar pilihan, melainkan sebuah kebutuhan budaya dan nasional.
Ia menambahkan: Bahasa Persia bukan hanya poros persatuan, tetapi juga merupakan perwujudan pendidikan dan etika, tradisi dan mitologi, serta berbagai fondasi identitas nasional lainnya.
Menteri Kebudayaan dan Bimbingan Islam Iran, dengan merujuk pada kedudukan puisi Persia dalam budaya Iran, melanjutkan: Puisi Persia merupakan sari pati penderitaan dan kenikmatan, kebijaksanaan dan etika, tasawuf dan spiritualitas, serta perwujudan “keadilan” dalam menghadapi “kezaliman”. Ranah sastra yang luas ini telah bertahan menghadapi badai berbagai peristiwa selama berabad-abad dan melampaui batas-batas geografis. Namun demikian, puisi Persia pada tahun 1405 kalender Hijriah Syamsiah memperoleh makna dan dimensi yang semakin besar.
Salehi menambahkan: Pada hari-hari ketika debu fitnah imperialis menaungi kawasan, “Perang yang Dipaksakan Kedua dan Ketiga” menjadi titik balik dalam sejarah kontemporer Iran; sebuah epos yang menurutnya menunjukkan keterkaitan yang tak terpisahkan antara iman, kebijaksanaan, dan kekuatan Iran, serta akan tercatat dalam ingatan sejarah bangsa Iran.
Menteri Kebudayaan dan Bimbingan Islam Iran menegaskan: Shahriar, yang pada tahun-tahun terakhir hidupnya memuji kebesaran semangat pengorbanan rakyat Iran, kini dapat menjadi pelita penuntun bagi para penyair yang dengan bahasa seni menjadi penutur kemenangan-kemenangan besar Iran.
Salehi juga, dengan merujuk pada penekanan Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran mengenai perlindungan bahasa Persia, mengatakan: Saat ini, lebih dari sebelumnya, kita membutuhkan bakat yang mampu menyampaikan kekuatan nasional kepada generasi mendatang melalui tema-tema yang segar dan kata-kata yang luhur. Bahasa Persia merupakan anugerah Ilahi, penjamin kemerdekaan budaya, dan cerminan kemenangan-kemenangan besar bangsa Iran, sehingga harus semakin dijaga dan dilestarikan.