Matahari Tak Lagi Jadi Primadona Liburan
-
Destinasi wisata yang lebih dingin di musim panas
Pars Today - Meningkatnya suhu udara di berbagai belahan dunia juga mengubah peta perjalanan musim panas. Semakin banyak wisatawan yang memilih negara-negara yang lebih sejuk sebagai tujuan, alih-alih kota-kota yang terik matahari. Tren ini dikenal sebagai "coolcation" atau "liburan dingin".
Melaporkan dari ISNA, Kamis, 13 Agustus 2026, selama bertahun-tahun, gambaran liburan musim panas yang ideal selalu identik dengan sinar matahari, pantai, dan cuaca hangat. Namun, dengan meningkatnya suhu udara dan gelombang panas ekstrem yang melanda berbagai belahan dunia, gambaran itu kini mulai berubah.
Sekarang, sekelompok wisatawan di musim panas justru mencari destinasi paling dingin, sebuah tren yang oleh industri pariwisata disebut "coolcation", gabungan dari kata "cool" dan "vacation" untuk menggambarkan perjalanan yang tujuan utamanya adalah melarikan diri dari panas yang menyengat.
Dalam beberapa tahun terakhir, negara-negara Eropa utara seperti Norwegia, Finlandia, dan Islandia semakin diminati oleh para pelancong yang ingin menghabiskan liburan musim panas mereka di udara yang lebih sejuk.
Perubahan selera ini bukan sekadar mode sesaat dalam industri perjalanan. Panas ekstrem di banyak destinasi Eropa yang populer, dari Spanyol selatan dan Italia hingga Yunani, kini menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keputusan wisatawan tentang kapan dan ke mana mereka akan bepergian.
Dulu, panasnya musim panas dianggap sebagai bagian dari daya tarik destinasi wisata. Namun kini, meningkatnya suhu, terutama pada bulan Juli dan Agustus, bagi sebagian pelancong justru menjadi faktor penghalang.
Wisatawan yang dulu pergi ke Mediterania untuk liburan musim panas, kini mungkin memilih destinasi seperti Norwegia atau Finlandia, yang selain cuaca lebih sejuk, juga menawarkan alam yang luas, danau, hutan, serta aktivitas luar ruangan.
Di Norwegia, misalnya, daya tarik bepergian bukan hanya sekadar melarikan diri dari panas. Pegunungan dan jalur pendakian di negara ini memungkinkan wisatawan merasakan liburan yang berbeda dari pola tradisional "pantai dan matahari".
Finlandia juga dengan danau-danau yang melimpah, hutan, dan musim panas yang relatif sejuk, menjadi salah satu pilihan menarik bagi wisatawan yang tidak menyukai panas ekstrem.
Islandia juga diuntungkan oleh perubahan selera ini. Negara yang selama bertahun-tahun dianggap sebagai destinasi yang agak khusus dan berbeda di pasar wisata Eropa, kini dapat memanfaatkan keinginan pelancong untuk merasakan cuaca yang lebih sejuk di bulan-bulan panas.
Pemanasan global tak hanya mengubah destinasi wisatawan; waktu perjalanan pun mulai bergeser.
Beberapa pelancong lebih memilih merencanakan liburan mereka pada bulan Mei, Juni, September, atau bahkan Oktober, alih-alih bepergian di puncak musim panas, saat banyak destinasi Eropa lebih sepi dan suhu udara lebih bersahabat.
Perubahan ini dapat berdampak besar bagi industri pariwisata. Jika wisatawan menyebarkan perjalanan mereka sepanjang tahun, tekanan akibat kepadatan di musim puncak akan berkurang, dan destinasi dapat mempertahankan pendapatan pariwisata dalam periode yang lebih panjang.
Panas Menulis Ulang Peta Pariwisata
Maraknya "coolcation" pada akhirnya menunjukkan bahwa perubahan iklim bukan lagi persoalan yang hanya berkaitan dengan masa depan, melainkan telah memengaruhi keputusan sehari-hari masyarakat, termasuk di mana dan kapan mereka bepergian.
Jika tren pemanasan global berlanjut, definisi "liburan musim panas" mungkin akan berubah di tahun-tahun mendatang. Destinasi tradisional dengan sinar matahari dan pantai akan tetap memiliki pengunjungnya, tetapi sebagian wisatawan mungkin akan lebih memilih menghabiskan musim panas di tempat yang memungkinkan mereka berjalan-jalan di luar ruangan, bersepeda, atau menikmati alam tanpa harus menahan terik yang menyiksa.
"Perubahan iklim mengubah preferensi wisatawan: daripada mencari pantai dan terik matahari, semakin banyak orang memilih liburan ke negara-negara sejuk seperti Norwegia, Finlandia, dan Islandia, fenomena yang disebut "coolcation". Panas ekstrem di Eropa selatan kini menjadi faktor penghalang, dan wisatawan pun mulai menyebarkan waktu perjalanan mereka di luar bulan-bulan puncak musim panas. Ini bukan tren sesaat, melainkan sinyal bahwa iklim telah secara nyata membentuk ulang peta dan perilaku pariwisata global."(Sail)