Bumerang Ekonomi Trump: Perang Iran Mengancam Dompet dan Politik AS Sendiri
https://parstoday.ir/id/news/world-i195530-bumerang_ekonomi_trump_perang_iran_mengancam_dompet_dan_politik_as_sendiri
Pars Today - Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Republik Islam Iran, menyamakan peta baru tekanan ekonomi AS terhadap Iran dengan bumerang yang akan kembali mengenai para perancangnya.
(last modified 2026-08-24T12:52:01+00:00 )
Aug 24, 2026 19:20 Asia/Jakarta
  • Bumerang Ekonomi Trump: Perang Iran Mengancam Dompet dan Politik AS Sendiri

Pars Today - Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Republik Islam Iran, menyamakan peta baru tekanan ekonomi AS terhadap Iran dengan bumerang yang akan kembali mengenai para perancangnya.

Menurut laporan Pars Today, Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran, dalam sebuah pesan di platform media sosial X menulis: "Kebijakan luar negeri yang beku dan tanpa inisiatif, akan menghasilkan ekonomi yang beku dan stagnan. Satu-satunya hal yang masih bergerak? Bumerang Iran yang akan kembali mengenai wajah kalian sendiri." Perumpamaan ini secara tepat menunjuk pada realitas yang lebih disukai oleh para pejabat Gedung Putih untuk diabaikan: kampanye tekanan ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya yang dilancarkan oleh Donald Trump, Presiden AS, dan Scott Bessent, Menteri Keuangan AS, terhadap Iran, tidak hanya tidak akan membuat Tehran berlutut, tetapi juga akan membebani ekonomi AS dan sekutu-sekutunya dengan biaya-biaya yang berat.

 

Trump pada 19 Agustus 2026, dengan mengumumkan "hari invasi ekonomi" terhadap Iran, menjanjikan "operasi ekonomi paling menghancurkan yang pernah dilakukan terhadap negara mana pun." Bessent juga, sehari kemudian dalam wawancaranya dengan CNBC, meminta sekutu-sekutu AS untuk berpartisipasi dalam "isolasi ekonomi terkoordinasi terbesar dalam sejarah dunia," dan menekankan bahwa Washington akan memberlakukan "sanksi terberat dalam sejarah" terhadap Iran. Dengan nada mengancam, ia memperingatkan negara-negara dan perusahaan-perusahaan yang berdagang dengan Iran bahwa mereka akan menghadapi "seluruh kekuatan Departemen Keuangan dan pemerintah AS."

 

Tetapi apakah ancaman-ancaman ini dalam praktiknya akan menghasilkan apa pun selain memperburuk krisis bagi AS sendiri? Bukti-bukti yang ada menunjukkan bahwa jawabannya adalah ya. Manifestasi pertama dan paling jelas dari kembalinya bumerang ini, terlihat di pasar energi global. Eskalasi ketegangan ekonomi terjadi sementara perang enam bulan AS melawan Iran telah sangat mengganggu lalu lintas di Selat Hormuz. Selat Hormuz biasanya mengangkut sekitar seperlima dari minyak yang dikonsumsi dunia, dan berkurangnya lalu lintas kapal tanker dari jalur air ini telah mengguncang pasar energi. Harga minyak Brent, menyusul pengumuman perang ekonomi baru, melampaui batas 93 dolar per barel, dan beberapa analis memperkirakan kemungkinan kenaikannya hingga 100 dolar. Kenaikan harga ini secara langsung mempengaruhi kantong konsumen Amerika: harga bensin di AS telah melampaui batas 4 dolar per galon dan meningkat sekitar 29 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, Trump menjelang pemilihan paruh waktu November 2026, karena biaya-biaya yang dibebankan perang kepada konsumen Amerika, berada di bawah tekanan berat, dan popularitasnya berdasarkan jajak pendapat Reuters/Ipsos telah turun ke tingkat terendah selama masa kepresidenannya, yaitu 33 persen.

 

Manifestasi kedua dari kembalinya bumerang ini, berakar pada ketidakefektifan historis sanksi-sanksi AS terhadap Iran. Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran, dalam menanggapi ancaman-ancaman baru Trump, dengan merujuk pada sejarah kegagalan kebijakan-kebijakan tekanan Washington, menulis: "Empat belas tahun lalu: 'sanksi paling melumpuhkan dalam sejarah'; gagal. Delapan tahun lalu: 'tekanan maksimum'; gagal. Lima bulan lalu: 'penyerahan tanpa syarat'; gagal. Hari ini: 'operasi ekonomi paling menghancurkan dalam sejarah'; nasibnya pasti adalah kegagalan." Narasi historis ini, yang menunjukkan bahwa Iran selama empat dekade sanksi, telah menemukan ketahanan terhadap tekanan bukan sebagai pilihan, tetapi sebagai satu-satunya jalan untuk bertahan hidup, menunjukkan bahwa ancaman-ancaman baru juga berada di jalur nasib yang sama yang tak terelakkan. Para analis Chatham House juga percaya bahwa Trump sekali lagi "meremehkan tekad kepemimpinan Iran; kepemimpinan yang menganggap ketahanan, bukan penyerahan, sebagai satu-satunya jalan yang mungkin untuk bertahan hidup."

 

Tanda ketiga dari kembalinya bumerang adalah isolasi AS yang semakin meningkat di arena internasional. Bessent telah meminta sekutu-sekutu dan bahkan Tiongkok untuk berdiri di samping Washington, tetapi Beijing dengan tegas menolak permintaan ini. Tiongkok, yang membeli lebih dari 80 persen minyak ekspor Iran, telah menyatakan bahwa "sanksi dan tekanan tidak menyelesaikan masalah" dan meminta semua pihak untuk menyelesaikan krisis melalui diplomasi. Sikap ini menunjukkan bahwa klaim AS tentang "bersama kami atau melawan kami" dalam praktiknya tidak mendapatkan sambutan yang luas.

 

Manifestasi keempat dan terpenting dari kembalinya bumerang ini, terletak pada frasa "tekanan ekonomi yang menghancurkan" itu sendiri. Ghalibaf, dengan merujuk pada tindakan terbaru Trump untuk mengimpor daging beku untuk mengendalikan harga, mengajukan pertanyaan kunci: "Apa rencana Anda untuk obligasi? Apakah Anda akan mengimpor imbal hasil beku? Untuk perumahan, apakah Anda akan mengimpor pembeli beku?" Pertanyaan-pertanyaan ini mengungkap kontradiksi mendasar dari strategi AS: sementara Gedung Putih bersikeras pada eskalasi perang ekonomi terhadap Iran, ekonomi domestik AS sendiri bergulat dengan inflasi kronis, kenaikan suku bunga, dan pertumbuhan utang nasional. Eskalasi ketegangan di Asia Barat meningkatkan biaya energi, meningkatkan tingkat inflasi di AS, dan membuat kebijakan Federal Reserve menghadapi lebih banyak kompleksitas. Dengan kata lain, setiap langkah baru dalam jalur tekanan ekonomi terhadap Iran, akan menjadi langkah dalam memperburuk krisis-krisis ekonomi AS sendiri.

 

Pada akhirnya, apa yang dirujuk oleh Ghalibaf dengan gambaran bumerang, bukanlah klaim sloganis, tetapi analisis strategis dari realitas-realitas geopolitik dan ekonomi dunia saat ini. Kebijakan luar negeri AS yang "beku dan tanpa inisiatif" terhadap Iran, tidak hanya gagal mencapai tujuannya, tetapi juga telah menjadi faktor ketidakstabilan ekonomi di AS sendiri. Mulai dari kenaikan harga bensin bagi konsumen Amerika hingga penurunan popularitas presiden menjelang pemilu, dan dari isolasi internasional Washington hingga ketidakefektifan historis sanksi, semuanya bersaksi atas kebenaran bahwa tekanan ekonomi terhadap Iran adalah bumerang yang kembali kepada pelemparnya dengan kekuatan ganda. Iran di arena ini, tidak hanya berdiri, tetapi dengan memperluas hubungan dagang dengan tetangga-tetangganya dan merancang skenario-skenario alternatif untuk menghindari sanksi, telah membuktikan bahwa ia telah mempelajari dengan baik cara-cara untuk melarikan diri dari tekanan. (MF)