Pencurian Museum di Eropa Kian Brutal, Pelaku Direkrut Lewat Medsos
https://parstoday.ir/id/news/world-i195610-pencurian_museum_di_eropa_kian_brutal_pelaku_direkrut_lewat_medsos
Pars Today - Badan Kepolisian Uni Eropa (Europol) melaporkan peningkatan kasus pencurian bersenjata di museum-museum Eropa. Metode kekerasan seperti penggunaan palu godam, kapak, bahan peledak, dan senjata api kini menjadi ciri khas aksi ini. Pelaku juga terlihat merekrut anggota baru melalui media sosial dalam model "kejahatan sebagai layanan" (crime-as-a-service).
(last modified 2026-08-26T04:49:04+00:00 )
Aug 26, 2026 11:44 Asia/Jakarta
  • Museum Louvre
    Museum Louvre

Pars Today - Badan Kepolisian Uni Eropa (Europol) melaporkan peningkatan kasus pencurian bersenjata di museum-museum Eropa. Metode kekerasan seperti penggunaan palu godam, kapak, bahan peledak, dan senjata api kini menjadi ciri khas aksi ini. Pelaku juga terlihat merekrut anggota baru melalui media sosial dalam model "kejahatan sebagai layanan" (crime-as-a-service).

Melansir ISNA, Rabu, 26 Agustus 2026, berdasarkan laporan dari Europol, pencurian di museum yang selama ini dianggap sebagai kejahatan terorganisir nonkekerasan, kini menunjukkan pergeseran yang mengkhawatirkan baik dalam metode maupun target sasaran. Laporan berjudul "Changing tactics, changing targets: the evolving nature of museum heists" ini menyoroti beberapa temuan kunci:

Meningkatnya Kekerasan

Pelaku kini menggunakan pendekatan yang lebih langsung dan konfrontatif. Mereka menggunakan berbagai alat keras untuk menerobos masuk, seperti palu godam, kapak, linggis, dan dalam beberapa kasus, bahan peledak. Selain itu, senjata api juga digunakan untuk mengintimidasi staf keamanan dan pengunjung, termasuk serangan fisik langsung seperti mengikat staf. Contoh nyata dari tren ini adalah perampokan di Museum Louvre, Paris, pada Oktober 2025, di mana para pelaku mengancam penjaga dan pengunjung sebelum mencuri perhiasan senilai sekitar €88 juta.

Pergeseran Target Sasaran

Para pencuri kini lebih terfokus pada barang-barang bernilai tinggi yang mudah dijual secara ilegal, seperti logam mulia, batu permata, dan artefak budaya bernilai tinggi. Logam mulia seperti emas dan perak menjadi sasaran utama karena dapat dilebur, sehingga jejak penjualan ilegal sulit dilacak. Sementara itu, artefak budaya Tiongkok kuno, seperti vas Dinasti Ming, juga menjadi incaran karena tingginya permintaan di pasar seni gelap.

Profil Pelaku Baru

Laporan Europol juga menunjukkan perubahan pada profil pelaku. Berbeda dengan jaringan pencuri barang seni tradisional yang terstruktur rapi dan nonkekerasan, pelaku kini sering kali merupakan kelompok yang direkrut secara spontan melalui media sosial dan platform komunikasi instan. Mereka mungkin adalah pelaku kriminal dari sektor lain yang melihat pencurian museum sebagai peluang kejahatan berisiko rendah dengan keuntungan tinggi. Beberapa kasus bahkan mengindikasikan model "kejahatan sebagai layanan" (crime-as-a-service).

Daftar Kasus yang Dicatat Europol

1. Pencurian Artefak Dacia yang terjadi di Belanda tahun 2025, di mana pelaku menggunakan bahan peledak untuk mencuri helm emas Dacia berusia 2.500 tahun.

2. Perampokan Louvre yang terjadi di Prancis tahun 2025, di mana pelaku mengancam staf dan pengunjung, mencuri perhiasan senilai €88 juta dalam waktu kurang dari 8 menit.

3. Pencurian Museum Cognacq-Jay yang terjadi di Prancis tahun 2024. Dalam kasus ini tidak ada rincian spesifik dalam teks, tetapi disebut sebagai contoh serangan kekerasan.

"Europol memperingatkan adanya perubahan signifikan dalam modus pencurian museum di Eropa, yang kini lebih brutal dan terencana. Pelaku menggunakan kekerasan dan alat berat untuk mencuri barang-barang berharga, terutama logam mulia dan artefak budaya, yang mudah dijual di pasar ilegal. Selain itu, munculnya perekrutan pelaku melalui media sosial menandakan adanya perubahan struktur jaringan kriminal, yang dapat menyulitkan upaya penegakan hukum dalam mengidentifikasi dan menangkap pelaku."(Sail)