Mengapa Trump Berbohong, Iran Ingin Capai Kesepakatan?
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengklaim bahwa Iran ingin segera mencapai kesepakatan.
Menurut Pars Today, meskipun Iran telah berulang kali menyatakan bahwa mereka tidak menginginkan negosiasi untuk mencapai kesepakatan dengan pemerintah Amerika Serikat, Trump dalam pernyataan terbarunya yang berlebihan mengklaim: “Iran ingin segera mencapai kesepakatan.” Presiden Amerika Serikat itu kemudian menambahkan dalam delusinya: “Kami akan memutuskan apakah akan berpartisipasi dalam negosiasi atau tidak, dan ini merupakan opsi yang siap kami lakukan.”
Klaim terbaru Donald Trump bahwa Iran menginginkan kesepakatan dengan cepat bersama Amerika Serikat tampaknya lebih merupakan bagian dari operasi politik, psikologis, dan ekonomi untuk mengelola dampak perang serta tekanan yang semakin besar terhadap Washington daripada mencerminkan posisi Tehran yang sebenarnya. Trump menyampaikan klaim tersebut ketika para pejabat Iran telah berulang kali menegaskan tidak adanya keinginan untuk melakukan negosiasi langsung dengan pemerintah Amerika Serikat. Bahkan, dalam laporan-laporan terbaru, posisi Iran mengenai negosiasi digambarkan bergantung pada perubahan kondisi dan terpenuhinya kepentingan nasional.
Tujuan terpenting Trump dalam menyampaikan klaim tersebut dapat dilihat dari upayanya menciptakan kesan bahwa inisiatif masih berada di tangan Washington dan bahwa Iranlah yang terburu-buru mengakhiri krisis serta mencapai kesepakatan. Gambaran ini memiliki arti penting secara politik. Jika opini publik Amerika Serikat dan sekutu-sekutu Washington meyakini bahwa Tehran berada dalam posisi lemah dan berada di bawah tekanan untuk bernegosiasi, Trump dapat memperkenalkan setiap kemungkinan kesepakatan bukan sebagai kemunduran Amerika Serikat dari posisi sebelumnya, melainkan sebagai hasil dari tekanan maksimum dan “penyerahan” pihak lawan. Ini merupakan pola mengubah negosiasi menjadi alat untuk menunjukkan keunggulan politik yang berulang kali ditempuh Trump dalam kebijakan luar negerinya.
Namun, bertepatan dengan pernyataan tersebut, kenaikan tajam harga minyak mengungkapkan hal yang lebih penting. Laporan-laporan terbaru menunjukkan bahwa harga minyak telah menembus angka 110 dolar, kondisi yang secara langsung berdampak pada perekonomian Amerika Serikat, harga bahan bakar, inflasi, dan biaya transportasi. Oleh karena itu, pembicaraan yang tiba-tiba mengenai negosiasi dan kesepakatan juga dapat dipandang sebagai pesan kepada pasar energi. Hal ini terlihat dari harga minyak yang turun beberapa dolar setelah cuitan Trump di Truth Social.
Pengalaman beberapa bulan terakhir menunjukkan bahwa setiap kali muncul kemungkinan penurunan ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran atau tercapainya gencatan senjata dan kesepakatan, pasar minyak memberikan respons terhadapnya. Bahkan, laporan-laporan ekonomi sebelumnya juga menunjukkan penurunan harga minyak setelah berita mengenai negosiasi dipublikasikan.
Dari sudut pandang ini, klaim Trump dapat menjadi alat untuk menurunkan ekspektasi inflasi dan mengendalikan dampak ekonomi perang. Ketika Presiden Amerika Serikat mengatakan bahwa Iran menginginkan kesepakatan dengan cepat, pesan tersirat kepada pasar adalah bahwa krisis mungkin segera berakhir dan pasokan minyak dapat kembali meningkat. Ekspektasi tersebut dapat mengurangi sebagian “premi risiko” yang terdapat dalam harga minyak. Dengan kata lain, Trump dengan menggunakan kata “kesepakatan” dapat mengurangi sebagian tekanan psikologis akibat kenaikan harga energi tanpa harus ada kesepakatan nyata yang benar-benar tersedia. Respons cepat pasar minyak terhadap berita politik juga menunjukkan bahwa diplomasi dan pasar energi dalam krisis saat ini sangat erat terkait satu sama lain.
Tujuan lain dari pembentukan persepsi ini dapat berupa upaya memengaruhi perhitungan para sekutu Amerika Serikat. Kenaikan harga minyak dan gangguan terhadap jalur energi sangat memengaruhi negara-negara Eropa dan Asia, dan semakin lama krisis berlangsung, semakin besar pula tekanan mereka terhadap Washington untuk menemukan jalan politik guna mengakhiri perang. Dengan memberikan kesan bahwa “Iran siap mencapai kesepakatan”, Trump pada dasarnya dapat mengalihkan tanggung jawab atas berlarut-larutnya krisis kepada Tehran dan menampilkan dirinya sebagai presiden yang cinta damai serta siap bernegosiasi. Padahal, berbagai laporan menunjukkan bahwa posisi kedua pihak mengenai persyaratan kesepakatan masih memiliki kesenjangan yang besar.
Klaim tersebut juga dapat menjadi bagian dari perang psikologis terhadap Iran. Mengaitkan keinginan kuat untuk bernegosiasi dengan Tehran dimaksudkan untuk menyampaikan pesan bahwa tekanan militer, ekonomi, dan politik Amerika Serikat telah membuahkan hasil dan bahwa Iran pada akhirnya terpaksa menerima negosiasi. Narasi semacam itu dapat ditujukan untuk memengaruhi opini publik di dalam Iran, menciptakan perbedaan dalam kalkulasi politik, dan menanamkan persepsi bahwa melanjutkan perlawanan tidak ada gunanya. Sebaliknya, jika Tehran menolak narasi tersebut, Washington dapat menyebutnya sebagai tanda tidak adanya kemauan Iran untuk mengakhiri krisis.
Hal penting lainnya adalah bahwa dengan menyatakan Amerika Serikat akan memutuskan apakah akan berpartisipasi dalam negosiasi atau tidak, Trump pada dasarnya bahkan menempatkan dirinya sebagai pengambil keputusan akhir dalam situasi ketika ia mengklaim Iran menginginkan kesepakatan. Pernyataan ini menunjukkan bahwa tujuan utamanya belum tentu memulai proses negosiasi yang setara, melainkan mempertahankan persepsi keunggulan dan menetapkan agenda dari pihak Washington. Oleh karena itu, pernyataan Trump sebaiknya dipandang bukan sebagai berita mengenai perubahan nyata dalam posisi Iran, melainkan sebagai bagian dari pengelolaan politik krisis, perang psikologis, dan upaya mengendalikan dampak ekonominya.
Demikian pula, hubungan temporal antara lonjakan harga minyak dan kembali diangkatnya isu negosiasi memiliki makna yang sangat penting. Ketika harga minyak mencapai kisaran 110 dolar, biaya melanjutkan perang bagi perekonomian Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya meningkat, dan setiap berita mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan dapat dengan cepat memengaruhi pasar. Oleh karena itu, klaim Trump mengenai keinginan Iran untuk segera mencapai kesepakatan dapat memiliki fungsi politik domestik sekaligus fungsi ekonomi dan psikologis. Tujuan utama narasi semacam ini kemungkinan besar adalah mengubah gambaran krisis dari “tekanan Amerika Serikat untuk mengakhiri perang” menjadi “upaya Iran untuk mencapai kesepakatan”; perubahan narasi yang dapat memperkuat posisi tawar Washington sekaligus mengurangi tekanan akibat kenaikan harga energi terhadap pemerintahan Trump.