Dari Bertahan ke Menyerang: Mengapa Ansarullah Kini di Atas Angin?
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i196880-dari_bertahan_ke_menyerang_mengapa_ansarullah_kini_di_atas_angin
Pars Today - Sebuah situs berita menulis bahwa perkembangan terbaru Yaman menunjukkan perubahan arah strategis perang yang menempatkan Ansarullah pada posisi unggul dan proaktif, bukan lagi operasi defensif.
(last modified 2026-09-16T06:13:50+00:00 )
Sep 16, 2026 13:12 Asia/Jakarta
  • Pasukan Ansarullah Yaman
    Pasukan Ansarullah Yaman

Pars Today - Sebuah situs berita menulis bahwa perkembangan terbaru Yaman menunjukkan perubahan arah strategis perang yang menempatkan Ansarullah pada posisi unggul dan proaktif, bukan lagi operasi defensif.

Melansir kantor berita Mehr News, Rabu, 16 September 2026, situs berita-analisis Al-Ahd, dengan merujuk pada perkembangan beberapa hari terakhir di front konflik Yaman dan "penerapan persamaan baru" di front ini, menegaskan bahwa jatuhnya barak "Khalid bin Walid", kemajuan dan penguasaan atas persimpangan "Mokha" dan "Al-Wazi'iyah", serta kendali atas wilayah "Dhubab", semuanya adalah tanda-tanda bahwa arah strategis telah berubah dan Riyadh, yang berupaya memperluas lingkup konflik di Yaman, kini mendapati dirinya menghadapi kebuntuan strategis yang rumit tanpa alat untuk keluar dengan mudah.

Al-Ahd menambahkan bahwa target serangan angkatan bersenjata Ansarullah Yaman dalam beberapa hari terakhir adalah pilar ekonomi dan militer Arab Saudi di selatan, dan pesan jelas dari serangan ini adalah bahwa setiap eskalasi dari Arab Saudi akan direspons dengan serangan berlipat ganda dari Yaman.

Perubahan Persamaan dari Bertahan ke Serangan Proaktif

Sanaa yang sebelumnya merespons serangan rezim Al Saud dengan persamaan defensif, kali ini tidak hanya puas merespons serangan udara Arab Saudi, melainkan sebelum mencapai tujuan utamanya, menargetkan pasukan tentara bayaran Arab Saudi di "Al-Abr", "Al-Jawf", "Al-Bayda", dan pesisir barat. Ini adalah operasi proaktif yang menunjukkan kemampuan intelijen dan militer tinggi serta analisis tepat terhadap niat pihak lawan.

Keruntuhan Struktur Tentara Bayaran Saudi

Perkembangan front Yaman bukan hanya menunjukkan mundurnya pasukan Tariq Saleh, melainkan keruntuhan struktur militer lengkap yang dibangun Arab Saudi dan UEA selama 12 tahun. Pasukan "Al-Amaaliqah", "Dir al-Watan", formasi Tihamah, dan pasukan Ikhwan di Taiz, semuanya berpartisipasi dalam pertempuran ini dan semuanya mengungkapkan kerentanan mereka.

Lebih penting lagi, keruntuhan ini tidak terbatas pada pesisir barat. Pasukan Yaman di Al-Jawf menggagalkan upaya infiltrasi ke pasar "Al-Yatmah" dan menghancurkan puluhan kendaraan militer. Di Al-Bayda, mereka merebut kembali titik-titik di "Al-Zahir" dan menggagalkan upaya eskalasi di beberapa poros.

Bab al-Mandab; Dari Jalur Pelayaran Menjadi Kartu As Strategis

Wilayah yang berada di bawah kendali Ansarullah di Mokha dan Dhubab adalah posisi strategis yang menghadap Selat Bab al-Mandab, salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia. Kekuatan yang menguasai pesisir ini tidak hanya akan menguasai perdagangan, tetapi juga logika perang dan perdamaian di Laut Merah. Hal ini memberikan beberapa keuntungan bagi Sanaa: mengurangi jarak untuk sistem penargetan, memperluas kemampuan menekan pesisir dan jalur pelayaran, menciptakan kedalaman geografis yang lebih besar alih-alih bergantung pada kemampuan jarak jauh, serta perlindungan yang lebih baik bagi kemampuan yang ditempatkan di pesisir.

Kebingungan Muhammad bin Salman dan Permintaan Bantuan kepada Trump

Menurut laporan-laporan Barat termasuk kantor berita Reuters dan majalah Axios, Muhammad bin Salman, Putra Mahkota Arab Saudi, meminta Donald Trump untuk melakukan intervensi militer terhadap Ansarullah. Namun Washington, yang sendiri terlibat dalam perang luas dengan Iran dan bergulat dengan krisis Selat Hormuz, tidak memiliki keinginan untuk membuka front baru. Perhitungan terkait pemilihan paruh waktu, risiko perluasan lingkup perang, dan peningkatan target yang harus dilindungi pasukan Amerika, merupakan faktor-faktor lain penolakan permintaan Muhammad bin Salman.

Tumpang Tindih Persamaan Hormuz dan Bab al-Mandab

Perkembangan Bab al-Mandab tidak terpisah dari krisis Selat Hormuz. Di kedua selat ini terdapat jaringan luas jalur energi dan perdagangan. Jika pergerakan pelayaran di Hormuz terhenti, tekanan akan diberikan pada ekspor minyak dan gas Teluk Persia. Dan jika kapal-kapal Saudi diusir dari Bab al-Mandab, mereka terpaksa memutar melalui Tanjung Harapan, yang berarti jarak lebih jauh, biaya bahan bakar lebih tinggi, dan waktu lebih lama untuk mencapai tujuan.

Terhentinya Pipa Minyak Arab Saudi; Masalah Besar di Puncak Krisis

Arab Saudi dengan membangun pipa minyak "Timur ke Barat" yang membentang sekitar 1.200 kilometer dari wilayah timur Buqayq hingga Pelabuhan Yanbu di pesisir Laut Merah, dengan kapasitas nominal mencapai sekitar 7 juta barel per hari, berupaya menghindari Selat Hormuz. Jalur ini adalah urat nadi penyelamat strategis kerajaan Arab Saudi yang hancur dalam serangan Ansarullah terbaru.

Perang Meluas dan Krisis yang Semakin Dalam di Arab Saudi

Al-Ahd dalam lanjutan laporannya menulis bahwa hari ini persamaannya tidak lagi seperti dulu. Di masa lalu, pembicaraannya adalah tentang blokade Yaman, mempersempit lingkaran pada Sanaa, dan maju dari semua front. Namun hari ini, kemajuan di Mokha dan Dhubab, masuknya ke barak Khalid bin Walid, dan mundurnya barisan formasi yang didukung Arab Saudi, semuanya menunjukkan bahwa arah strategis perang telah berubah.

Bab al-Mandab bukan lagi sekadar jalur lintas kapal, melainkan kartu as strategis bagi siapa pun yang menguasai pesisir dan pulau-pulaunya. Jika penguasaan menuju Pulau "Mayun" selesai, pembicaraan tentang keamanan Laut Merah tanpa kehadiran Sanaa tidak akan mungkin.

Perkembangan Yaman saat ini menunjukkan bahwa perhitungan Riyadh atas opsi-opsi militer, desakan pada berkas-berkas perdamaian dan blokade, serta eskalasi situasi domestik, telah berubah menjadi kebuntuan strategis yang rumit bagi Al Saud yang membebankan biaya berat dan berkelanjutan pada rezim Arab Saudi pada waktu yang sangat sensitif secara regional dan internasional.

"Al-Ahd menganalisis bahwa Ansarullah Yaman kini berada di posisi unggul dan proaktif setelah beralih dari operasi defensif ke serangan proaktif. Jatuhnya barak Khalid bin Walid, penguasaan Mokha, Al-Wazi'iyah, dan Dhubab menandai perubahan arah strategis. Serangan Ansarullah menargetkan pilar ekonomi dan militer Saudi di selatan sebagai pesan bahwa setiap eskalasi akan direspons berlipat ganda. Struktur militer Saudi-UEA yang dibangun 12 tahun runtuh, termasuk Al-Amaaliqah, Dir al-Watan, Tihamah, dan Ikhwan. Bab al-Mandab kini menjadi kartu as strategis."(Sail)