Tanda-tanda Kelemahan Ekonomi Muncul pada Tiongkok
https://parstoday.ir/id/news/world-i196866-tanda_tanda_kelemahan_ekonomi_muncul_pada_tiongkok
Pars Today - Indikator ekonomi domestik Tiongkok semakin melemah bulan lalu, meningkatkan tekanan bagi para pembuat kebijakan untuk mengambil langkah-langkah yang lebih tegas guna memulihkan pertumbuhan ekonomi terbesar kedua di dunia ini.
(last modified 2026-09-16T04:23:54+00:00 )
Sep 16, 2026 11:21 Asia/Jakarta
  • Ekonomi Tiongkok
    Ekonomi Tiongkok

Pars Today - Indikator ekonomi domestik Tiongkok semakin melemah bulan lalu, meningkatkan tekanan bagi para pembuat kebijakan untuk mengambil langkah-langkah yang lebih tegas guna memulihkan pertumbuhan ekonomi terbesar kedua di dunia ini.

Menurut ISNA, Rabu, 16 September 2026, data yang dirilis oleh Biro Statistik Nasional pada hari Selasa (15/9) menunjukkan bahwa penjualan ritel tumbuh sebesar 0,4% secara tahunan (year-on-year) pada bulan Agustus. Angka ini mencerminkan perlambatan dibandingkan pertumbuhan 0,6% pada bulan Juli dan berada di bawah perkiraan median analis sebesar 0,8% dalam survei Bloomberg.

Investasi aset tetap turun sebesar 7,2% dalam delapan bulan pertama tahun ini dibandingkan periode yang sama pada tahun 2023. Angka ini menunjukkan semakin dalamnya penurunan, lebih buruk daripada penurunan 6,7% yang tercatat hingga bulan Juli, dan sedikit lebih lemah dibandingkan perkiraan median analis yang memprediksi penurunan sebesar 7,1%.

Sementara itu, output industri menguat dengan pertumbuhan sebesar 5,2% secara tahunan pada bulan Agustus. Tingkat pertumbuhan ini melampaui angka 4,5% pada bulan Juli maupun perkiraan median analis sebesar 4,8%, didorong oleh momentum kencang mesin ekspor Tiongkok dalam beberapa bulan terakhir.

Lynn Song, Kepala Ekonom untuk wilayah Tiongkok Raya di ING, menyatakan, "Divergensi dan ketidakseimbangan dalam ekonomi Tiongkok semakin tajam pada bulan Agustus. Kinerja sektor konsumsi dan investasi berada di bawah perkiraan pasar, sedangkan ekspor dan output industri justru lebih kuat dari yang diperkirakan."

Dalam beberapa tahun terakhir, Tiongkok mengandalkan produksi industri dan ekspor, yang melonjak 25% pada bulan Agustus, untuk menggerakkan aktivitas ekonomi. Hal ini disebabkan oleh kemerosotan sektor perumahan selama lima tahun yang telah mengikis kepercayaan rumah tangga dan menyebabkan penurunan konsumsi domestik.

Yuhan Zhang, ekonom senior di The Conference Board’s China Center, menyatakan, "Data terbaru menunjukkan bahwa sektor manufaktur strategis masih mampu menghasilkan pertumbuhan output yang kuat, tetapi basis permintaan domestik yang diperlukan untuk menyerap kapasitas produksi yang terus berkembang ini masih lemah. Untuk memanfaatkan kapasitas industri baru tersebut, ekonomi Tiongkok semakin bergantung pada peningkatan produktivitas, pembaruan teknologi, dan permintaan eksternal."

Pertumbuhan ekspor Tiongkok juga telah memperlebar surplus perdagangan negara ini, khususnya dalam hubungan dagang dengan Uni Eropa. Hal ini telah memicu ketegangan, karena pemerintah negara-negara asing khawatir bahwa persaingan dari barang-barang Tiongkok yang berkualitas tinggi, tetapi berbiaya rendah dapat melemahkan dan menggerogoti industri dalam negeri mereka sendiri.

Zhang mencatat bahwa perlambatan pertumbuhan ekonomi domestik dan "globalisasi kapasitas industri Tiongkok" merupakan "dua sisi dari mata uang yang sama", yang membawa implikasi bagi investasi luar negeri, hubungan perdagangan, dan daya saing Tiongkok di kancah manufaktur global.

Indikator ekonomi domestik yang lesu telah mendorong Beijing untuk mengumumkan rencana percepatan belanja pemerintah tahun ini. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua tercatat sebesar 4,3 persen, salah satu angka terendah dalam beberapa dekade terakhir, akibat lemahnya permintaan konsumen dan penurunan investasi yang membebani prospek ekonomi.

Song, seorang ekonom di ING, menyoroti bahwa langkah-langkah dukungan kebijakan pemerintah masih terbatas, yang mengisyaratkan bahwa "tekanan penurunan terhadap pertumbuhan ekonomi terus berlanjut". Ia menambahkan bahwa kecuali jika ekonomi mengalami pertumbuhan yang "kuat secara tak terduga" pada bulan September, tingkat pertumbuhan PDB untuk kuartal ketiga kemungkinan besar akan berada di kisaran batas bawah target pertumbuhan tahunan pemerintah (4,5% hingga 5%) atau bahkan di bawahnya.

Sementara itu, sektor perumahan juga menunjukkan tanda-tanda pelemahan lebih lanjut. Data yang dirilis oleh Biro Statistik Nasional (NBS) pada hari Selasa (15/9) menunjukkan bahwa harga rumah baru di 70 kota turun sebesar 0,17%, menyusul penurunan 0,18% pada bulan Juli. Harga rumah yang sudah ada (pasar sekunder) juga turun sebesar 0,31%, dibandingkan dengan penurunan 0,29% pada bulan sebelumnya.

Menurut Financial Times, Fu Linghui, Juru Bicara sekaligus Kepala Ekonom NBS Tiongkok, menyatakan bahwa ekonomi Tiongkok berada pada jalur positif dan bahwa "meskipun kinerja ekonomi tetap stabil, kualitas pembangunan diharapkan akan terus membaik secara bertahap".

Namun, ia menambahkan, "Tentu saja, kita harus mengakui bahwa masih banyak risiko dan tantangan di masa depan. Lingkungan eksternal sangat kompleks dan sulit, serta tekanan akibat reformasi struktural domestik masih terus berlanjut."

Dalam pernyataan yang tampaknya menanggapi kekhawatiran pihak asing mengenai surplus perdagangan Tiongkok, Fu juga mengatakan, "Ke depannya, kita harus mendorong pengembangan perdagangan yang seimbang."(Sail)