Presiden Duterte Usir Pasukan AS di Wilayah Selatan Filipina
https://parstoday.ir/id/news/world-i20410-presiden_duterte_usir_pasukan_as_di_wilayah_selatan_filipina
Hubungan AS dan Filipina kembali memanas setelah Presiden Rodrigo Duterte, Senin (12/9/2016), memerintahkan semua anggota pasukan khusus AS keluar dari Filipina Selatan.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Sep 13, 2016 08:07 Asia/Jakarta
  • Rodrigo Duterte, Presiden Filipina
    Rodrigo Duterte, Presiden Filipina

Hubungan AS dan Filipina kembali memanas setelah Presiden Rodrigo Duterte, Senin (12/9/2016), memerintahkan semua anggota pasukan khusus AS keluar dari Filipina Selatan.

Selama ini, pasukan khusus AS berada di kawasan konflik itu untuk melatih pasukan Filipina tetapi dilarang untuk terlibat dalam baku tembak kecuali untuk membela diri.

 

Pengusiran pasukan AS ini terjadi sepekan setelah Duterte melontarkan hinaan kepada Presiden AS Barack Obama yang memicu batalnya pertemuan mereka di Laos.

 

Duterte sendiri tidak merinci soal waktu dan jumlah personel militer AS yang harus meninggalkan negeri itu.

 

Dia hanya mengatakan, eratnya hubungan persekutuan Filipina dengan negara-negara Barat merupakan akar dari langgenggnya pemberontakan umat Muslim negeri itu.

 

"Pasukan khusus AS ini, mereka harus pergi dari Mindanao," ujar Duterte dalam pidatonya di hadapan para pegawai negeri Filipina.

 

AS adalah sekutu militer utama dan bekas penjajah Filipina hingga negeri itu merdeka pada 1946.

 

Dalam pidato itu juga, Duterte memperlihatkan sederet foto bersejarah yang memperlihatkan pasukan AS membunuh warga Muslim selama masa penjajahan pada awal 1900-an.

 

Sedangkan, juru bicara kepresidenan Ernesto Abella menjelaskan, pernyataan Duterte merefleksikan kebijakan baru menuju independensi kebijakan luar negeri.

 

Sementara itu, Pentagon mengatakan, pihaknya sudah mengetahui pernyataan Duterte itu tetapi belum mendapatkan kabar resmi dari pemerintah Filipina.

 

"Kami terus menjalin kontak dengan  Filipina untuk secara tepat memberikan bantuan sesuai apapun yang diinginkan pemerintahan baru," ujar juru bicara Pentagon, Gary Ross.

 

Sebelumnya sebanyak 500-600 personel militer AS berada di wilayah Mindanao, tetapi pada 2014 menteri pertahanan Filipina saat itu Voltaire Guzman memangkasnya menjadi hanya 200 personel.

 

Bulan lalu, Duterte memulai kembali pembicaraan damai dengan kelompok-kelompok separatis terbesar yaitu Front Pembebasan Islam Moro (MILF) yang memiliki kekuatan 12.000 orang.

 

Seperti halnya kelompok separatis Islam lainnya, MILF sudah mengangkat senjata melawan pemerintah Filipina sejak 1970-an. (Kompas)