Kunjungan Menhan Rusia ke Iran
Menteri Pertahanan Rusia mengunjungi Republik Islam Iran untuk memperluas hubungan bilateral kedua negara dan membicarakan transformasi regional dan internasional dengan para pejabat tinggi Tehran.
Sergei Shoigu tiba di Tehran, ibukota Iran pada hari Minggu sore, 21 Februari 2016 dengan membawa pesan dari Vladimir Putin, Presiden Rusia kepada mitranya di Iran, Hassan Rouhani.
Menhan Rusia telah bertemu dengan Presiden Iran dan menyampaikan pesan Putin kepada Rouhani. Ia juga menjelaskan tentang perkembangan terbaru proses perudingan terkait krisis Suriah kepada Presiden Iran.
Shoigu juga bertemu dengan mitranya di Iran, Brigadir Jenderal Hossein Dehqan dan membicarakan proses terbaru pelaksanaan perjanjian pertahanan antara Moskow dan Tehran.
Kunjungan Menhan Rusia ke Tehran dilakukan sepekan setelah lawatan Menhan Iran ke Moskow. Kalangan politik berpendapat, kunjungan Shoigu ke Iran dan pesan Putin kepada Rouhani dalam konteks pembicaraan dan konsultasi tentang transformasi Suriah.
Bersamaan dengan kunjungan Menhan Rusia ke Iran, John Kerry, Menlu Amerika Serikat mengabarkan pembicaraannya dengan Sergei Lavrov, sejawatnya dari Rusia, tentang isi kesepakatan gencatan senjata di Suriah.
Menurut Kerry, perjanjian sementara untuk menggelar gencatan senjata di Suriah telah disepakati dan dapat dilaksanakan dalam beberapa hari mendatang, namun sebelum dilaksanakan, harus terlebih dahulu dilakukan dialog dengan pihak-pihak yang berseteru di Suriah.
Yang pasti, Iran dan Rusia memiliki hubungan dekat berdasarkan strategi keamanan. Oleh karena itu, perkembangan di kawasan telah mendorong peningkatan kerjasama antarkedua negara, terutama mengenai krisis Suriah.
Iran dan Rusia bisa dikatakan memiliki pandangan umum terkait kerjasama regional. Terkait dengan krisis Yaman, Iran meyakini bahwa Rusia dapat membantu untuk menghentikan serangan militer Arab Saudi ke negara tetangganya itu melalui Dewan Keamanan PBB.
Iran dan Rusia juga merupakan dua negara produsen minyak dan gas, sehingga Tehran dan Moskow dapat saling berkoordinasi di pasar migas. Kedua negara tersebut juga memiliki berbagai kerjasama jangka panjang yang menguntungkan di sektor ekonomi.
Sementara di sektor pertahanan, Iran dapat memanfaatkan berbagai potensi yang dimiliki Rusia untuk memperkuat kemampuan pertahanannya. Masalah ini dapat ditindaklanjuti melalui kunjungan dan pertemuan Menhan kedua negara serta kesepakatan-kesepakatan di sektor itu.
Selain kerjasama-kerjasama tersebut, hubungan antara Iran dan Rusia berkaitan dengan kondisi di kawasan saat ini. Menurut sejumlah pengamat, perubahan kondisi di medan-medan tempur Suriah untuk melawan ISIS yang menguntungkan militer dan pasukan relawan negara ini, menunjukkan transformsi penting regional.
Perubahan tersebut telah membuat koalisi Arab-Barat yang ingin menggulingkan Bashar al-Assad, Presiden Suriah menghadapi tantangan baru. Perkembangan yang terjadi menyusul keterlibatan Rusia untuk memberantas kelompok-kelompok teroris di Suriah telah menimbulkan perubahan dalam kebijakan AS di kawasan.
Meskipun Turki dan Arab Saudi telah melakukan berbagai manuver untuk menekan Suriah, namun kedua negara ini tidak akan mudah untuk memaksakan kebijakan-kebijakannya, bahkan Ankara dan Riyadh terpaksa menerima fakta yang terjadi di kawasan. Kritikan Menlu AS terhadap kebijakan regional Turki dan Arab Saudi dapat dievaluasi dalam konteks ini.
Pemerintah Tehran dan Moskow terus memantau transformasi di kawasan. Namun Presiden Iran dalam pertemuannya dengan Menhan Rusia menegaskan bahwa krisis Suriah hanya dapat diselesaikan melalui perundingan politik dan penghormatan terhadap hak-hak rakyat negara ini. Sebab, mereka adalah pengambil keputusan utama dan final tentang masa depan Suriah. (RA)