Masa Depan Hubungan Rusia-AS di Era Trump
Banyak pihak memperkirakan bahwa hubungan Rusia dan Amerika Serikat akan membaik pada masa pemerintahan Donald Trump. Namun, juru bicara Istana Kremlin, Dmitry Peskov justru berbicara lain dan menyebut hubungan antara kedua kekuatan mungkin lebih buruk dari era Perang Dingin.
Peskov dalam wawancara dengan ABC News, Sabtu (1/4/2017) mengatakan bahwa propaganda besar-besaran anti-Rusia telah mendorong AS untuk selalu mencari jejak hacker Rusia di setiap tempat.
Menurutnya, tujuan utama propaganda anti-Rusia di Amerika adalah opini publik negara itu. Ia juga kembali menolak tudingan campur tangan Rusia dalam pemilu presiden AS.
Perang Dingin yang disinggung oleh juru bicara Istana Kremlin berhubungan dengan sebuah era, di mana Uni Soviet dan AS terlibat perlombaan senjata, persaingan ekonomi dan propaganda media.
Namun dengan berakhirnya Perang Dingin setelah runtuhnya Uni Soviet, situasi keamanan dan ekonomi yang stabil tetap tidak tercipta untuk memulai sebuah babak baru kerjasama Moskow-Washington. Meskipun Pakta Warsawa telah bubar, NATO – yang berada di bawah komando AS – melakukan ekspansi di wilayah negara-negara bekas Soviet dan kehadirannya semakin mendekati perbatasan Rusia.
Jika pada era Perang Dingin, AS dan sekutunya menerapkan sanksi terhadap Uni Soviet dengan alasan ancaman dan tidak adanya kebebasan di blok tersebut, sekarang Rusia juga menghadapi sanksi dari Barat dengan dalih pelanggaran HAM, tidak adanya kebebasan dan penumpasan oposisi.
Pemerintahan Trump akan melanjutkan pendekatan anti-Rusia dan Presiden Vladimir Putin belum lama ini mengatakan bahwa protes oposisi dalam beberapa hari terakhir dilakukan atas dukungan AS dan dengan tujuan mengubah sistem pemerintahan di Rusia.
Trump – yang mewarisi berbagai masalah seperti perang dan keterpurukan ekonomi dari pemerintahan sebelumnya – berniat membangun kerjasama dengan Rusia untuk menyelesaikan masalah tersebut. Oleh karena itu, ia berbicara tentang pemulihan hubungan dengan Moskow.
Tapi, Trump meminta Rusia untuk bekerjasama dengan kebijakan AS sebagai syarat pemulihan hubungan kedua negara. Dengan begitu, dapat dikatakan bahwa hubungan kedua pihak akan tetap memburuk.
Para pejabat Washington sedang mengejar kebijakan Russophobia dengan menuding Moskow campur tangan dalam pemilu Presiden AS. Mereka juga mengkampanyekan kebijakan Russophobia di negara-negara Eropa sehingga bisa memperkuat kehadiran militer AS di dekat perbatasan Rusia.
Dengan cara menakut-nakuti opini publik Barat terhadap musuh era Perang Dinginnya yaitu Rusia, para pejabat AS terus menyebarkan peralatan tempurnya di negara-negara Eropa Timur yang berbatasan dengan Rusia.
Sebagai respon, Rusia juga memperkuat kehadiran militernya di dekat perbatasan negara-negara anggota NATO.
Pada dasarnya, pengerahan kekuatan militer, perang media dan propaganda serta sanksi ekonomi terhadap Rusia tetap dilanjutkan oleh Barat dan ia lebih parah dari era Perang Dingin.
Kebijakan melindungi kepentingan dan menghapus lawan yang diadopsi oleh para pejabat AS berpotensi menyeret kedua kekuatan dalam perang terbuka. (RM)