Kegagalan Sistem Keamanan Turki
https://parstoday.ir/id/news/world-i3928-kegagalan_sistem_keamanan_turki
Ledakan bom di Ankara, Ahad (13/3/2016) malam, merupakan serangan terbaru dari rentetan serangan teror yang mengancam keamanan dan stabilitas Turki selama beberapa bulan terakhir.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Mar 14, 2016 13:34 Asia/Jakarta
  • Kegagalan Sistem Keamanan Turki

Ledakan bom di Ankara, Ahad (13/3/2016) malam, merupakan serangan terbaru dari rentetan serangan teror yang mengancam keamanan dan stabilitas Turki selama beberapa bulan terakhir.

Berbeda dengan serangan sebelumnya di Turki, aksi bom bunuh diri di Bundaran Kizilay, Ankara secara khusus menargetkan warga sipil dan sejauh ini telah menewaskan 34 orang dan melukai 129 lainnya.

Dalam mereaksi insiden itu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menegaskan tekad Ankara untuk menumpas terorisme. Namun, berlanjutnya serangan teror di Turki mengindikasikan kegagalan upaya pemerintah untuk menjamin keamanan di negara itu.

Babak baru ketidakamanan di Turki dimulai setelah ledakan Juli 2015 di kota Suruc yang berbatasan dengan Suriah. Ledakan yang diklaim didalangi oleh kelompok teroris Daesh itu telah menyeret Turki ke dalam beberapa front pertempuran secara bersamaan.

Turki sebelumnya tidak begitu tertarik untuk menyertai Amerika Serikat dan sekutunya dalam kampanye udara terhadap Daesh di Irak dan Suriah, dan bahkan kerap dituding mendukung kelompok teroris tersebut. Namun setelah ledakan Suruc, pemerintah Turki untuk pertama kalinya berhadap-hadapan dengan Daesh.

Ledakan Suruc juga telah menggagalkan perundingan damai yang digagas oleh pemerintah Turki untuk menyelesaikan masalah Kurdi sejak Desember 2013. Perang antara militer Turki dan anggota Partai Pekerja Kurdi (PKK) kembali pecah sejak masa itu.

Kekhawatiran keamanan pasca ledakan Suruc telah membantu Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) untuk melanjutkan kekuasaannya di Turki dalam pemilu Desember lalu. Selama masa kampanye, AKP menyakinkan masyarakat bahwa mereka mampu memulihkan keamanan Turki, tapi pemerintahan AKP sejauh ini gagal menjamin keamanan dan stabilitas di negara itu.

Pertempuran justru melanda wilayah etnis Kurdi dan ledakan bom juga silih berganti mengguncang Turki. Dalam lima bulan terakhir saja, tiga ledakan mematikan terjadi di Ankara dan ledakan Oktober 2015 merupakan serangan teror yang paling ganas dalam sejarah Turki modern.

Selain melibatkan Daesh, sebagian dari serangan itu juga dilancarkan oleh kelompok-kelompok yang marah atas operasi militer Turki di wilayah etnis Kurdi di negara itu.

Para kritikus pemerintah menilai gangguan keamanan dan stabilitas di Turki sebagai dampak dari kebijakan AKP dalam menyikapi krisis di Suriah. Mereka menuding para pejabat Ankara mengadopsi kebijakan standar ganda terhadap terorisme, karena sejak awal pecahnya krisis di Suriah, penguasa Turki memberi dukungan penuh kepada kelompok-kelompok bersenjata yang ingin menggulingkan Presiden Bashar al-Assad.

Sementara kubu politik yang berafiliasi dengan Kurdi Turki, menganggap kebijakan pemerintah pimpinan AKP terhadap etnis Kurdi berperan dalam memperparah kekacauan di negara itu. Terlebih lagi, Erdogan pada Januari lalu melancarkan serangan verbal terhadap para perwakilan Kurdi di parlemen. Ia mengatakan tidak ada isu dengan nama masalah Kurdi di Turki.

Terlepas dari bentuk kebijakan yang diambil oleh Erdogan, ledakan Ankara kembali memperlihatkan bahwa pemerintah Turki gagal dalam memberi rasa aman kepada warganya. (RM)