Upaya Israel Mendominasi Afrika
-
Israel-Afrika
Rezim Zionis Israel berusaha keluar dari keterkucilan dan tengah menebarkan pengaruh serta memperluas hubungannya dengan negara-negara Afrika. Dalam hal ini, pejabat Tel Aviv berencana menggelar konferensi dengan tema "Sidang Pemimpin Afrika dan Israel" pada Oktober mendatang di Togo.
Menyusul kegagalan kebijakan hegemoni dan ekspansionis Israel di Timur Tengah dan kritik pejabat berbagai negara atas kebijakan haus perang serta tak manusiawi rezim ini, pejabat Tel Aviv berencana meningkatkan pengaruh dan hegemoninya di benua Afrika dan berbagai negara di benua ini.
Meski pemimpin rezim ini sejak bertahun-tahun lalu memiliki hubungan luas di berbagai level politik dan ekonomi dengan berbagai negara Afrika untuk mencapai ambisinya, namun mereka gagal meraih prestasi gemilang. Dalam hal ini, pejabat Israel dengan pandangan dan kebijakan baru berusaha menggapai ambisinya di Afrika.
Kunjungan sejumlah pejabat Israel ke negara-negara Afrika serta menghadiri berbagai pertemuan di kawasan ini, merupakan upaya Tel Aviv untuk meningkatkan kehadirannya di benua ini.
Benua Afrika sangat penting bagi Israel dari sisi politik, militer, keamanan dan ekonomi. Pejabat Israel sejak lama menjalin hubungan dengan negara Afrika demi memanfaatkan posisi dan suara mereka di berbagai pertemuan internasional untuk keuntungan Tel Aviv. Selain itu, Israel untuk menyelesaikan krisis legalitas internasional dan mencegah pembentukan front anti Israel di benua Afrika, berusaha mencegah pembentukan front ini dengan memperluas hubungannya dengan berbagai negara di kawasan tersebut.
Seperti yang diinginkan Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu beberapa waktu lalu dari para dubes rezim ini untuk berusaha mengubah mekanisme voting dari negara-negara Afrika di PBB serta organisasi internasional lainnya terhadap Tel Aviv.
Dari segi ekonomi, berbagai negara Afrika memiliki sumber alam yang kaya dan populasi tinggi. Namun mengingat kebijakan imperialis Barat, warga Afrika terhambat meraih kemajuan di berbagai bidang. Oleh karena itu, kini kemiskinan menjadi alasan tepat bagi pejabat Israel untuk memantapkan posisinya di benua ini dengan iming-iming bantuan finansial serta transfer teknologi.
Janji bantuan finansial kepada negara-negara Afrika digulirkan di saat berbagai laporan ekonomi mengindikasikan kondisi buruk perekonomian Israel. Tapi demikian, petinggi Israel optimis melalui lobinya di Amerika dan Eropa, rezim ini mampu mendapat keuntungan dari paket bantuan finansial dan hutang jangka panjang kepada negara Afrika.
Ketika pejabat Tel Aviv memusatkan upayanya untuk memperluas hubungan dengan negara-negara Afrika, mayoritas negara di benua ini selama bertahun-tahun hidup di bawah imperialisme sehingga secara tradisional memiliki ideologi independensi dan sikap anti imperialisme.
Mayoritas negara Afrika mendukung cita-cita bangsa Palestina, meski pejabat Israel berusaha mematahkan sikap ini. Menurut Sean Benfeldt, dubes Afrika Selatan di Lebanon, langkah Israel hanya sekedar upaya penyalahgunaan dan makar untuk menyelewengkan opini publik Afrika dari kejahatan rasis dan anti kemanusiaan Tel Aviv.
Meski upaya pejabat Israel untuk memperluas hubungan dengan berbagai negara Afrika terus berlanjut dalam beragam bentuk, namun sepertinya seluruh negara di benua ini, melalui pemahaman yang mendalam atas esensi sejati Israel, kecil kemungkinan menerima kebijakan dan bekerja sama dengan petinggi Tel Aviv. (MF)