Upaya AS untuk Membendung Pengaruh Iran di Kawasan
https://parstoday.ir/id/news/world-i46182-upaya_as_untuk_membendung_pengaruh_iran_di_kawasan
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat memulai kunjungan periodik ke negara-negara di kawasan Teluk Persia dan telah tiba di Riyadh, ibukota Arab Saudi pada Sabtu, 21 Oktober 2017.
(last modified 2026-07-16T10:11:38+00:00 )
Okt 22, 2017 12:18 Asia/Jakarta

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat memulai kunjungan periodik ke negara-negara di kawasan Teluk Persia dan telah tiba di Riyadh, ibukota Arab Saudi pada Sabtu, 21 Oktober 2017.

Menurut laporan media, di antara tujuan utama kunjungan Rex Tillerson ke kawasan adalah menindaklanjuti hubungan bilateral, mengurangi pertikaian antara Arab Saudi dan Qatar, memperkuat hubungan Riyadh dengan Doha serta menciptakan koalisi baru anti-Republik Islam Iran.

Menyusul hancurnya kelompok teroris takfiri Daesh (ISIS) di Asia Barat terutama di Suriah dan Irak, AS berusaha menyusun tatanan baru di kawasan sesuai dengan pandangannya. Penguatan Arab Saudi dan pelemahan Iran merupakan indikator utama tatanan yang diinginkan Donald Trump, Presiden AS di Asia Barat.

Atas alasan itulah Trump mengawali lawatan perdananya ke luar negari untuk mengunjungi Arab Saudi yang merupakan sekutu dekat AS dan menandatangani kontrak militer dengan Riyadh senilai lebih dari 400 miliar dolar. Konsentrasi kebijakan regional AS yang sepenuhnya mendukung Arab Saudi telah membuka konflik lama antara Riyadh dan Doha.

Perselisihan antara Riyadh dan Doha muncul ketika AS dan Arab Saudi berusaha memobilisasi kekuatan di Asia Barat untuk menarget Iran yang telah menjadi aktor besar regional. Menurut pandangan Washington dan Riyadh, adanya Iran yang independen dan kuat merupakan penghalang utama bagi terbentuknya tatatan yang diinginkan Trump di kawasan.

Untuk menghadapi Iran, para pejabat senior AS dan Arab Saudi mengelontorkan isu-isu dan tudingan terhadap Tehran seperti pelanggaran perjanjian nuklir, dukungan kepada terorisme dan ekspansi wilayah. Pada saat yang sama, rezim Zionis Israel melalui perantara AS telah berubah menjadi sekutu Arab Saudi untuk membendung pengaruh Iran di kawasan.

Yang pasti, upaya pemerintah Trump untuk menaklukkan Iran bukan hal yang baru, bahkan upaya itu telah dimulai AS sejak empat dekade lalu menyusul kemenangan Revolusi Islam di Iran. Kira-kira, hampir semua Presiden AS pernah mencoba peluang mereka untuk mengendalikan Iran, namun setiap upaya itu dilakukan, kekuatan dan pengaruh Iran di kawasan justru meningkat.

Letak geografis yang khusus, penduduk yang dinamis, infrastruktur industri dan model bernilai Iran telah menyebabkan bobot dan posisi negara ini kian hari meningkat meskipun selalu dibanjiri konspirasi, tekanan, ancaman dan sanksi.

Saat ini, AS menarget kemampuan dan pengaruh Pasukan Garda Revolusi Islam Iran (Pasdaran) dengan bantuan sekutu-sekutu regionalnya seperti Arab Saudi dan Israel. Dalam beberapa pekan terakhir, para pejabat Gedung Putih secara terang-terangan mengumumkan bahwa AS akan mengurangi peran Pasdaran di luar perbatasan Iran dengan cara mengembargo institusi ini. AS juga berusaha untuk menciptakan jarak antara Iran dan sekutunya, terutama dengan Irak.

Oleh sebab itu, dialog untuk memberlakukan sanksi terhadap Pasdaran dan rekonsiliasi antara Irak dan Arab Saudi menjadi poros aktivitas politik Menlu AS selama kunjungannya ke kawasan. Meski upaya maksimal telah dilakukan Washington dan sekutunya agar terbentuk koalisi anti-Iran yang sesuai dengan keinginan AS, namun koalisi tersebut tidak pernah bisa terbentuk dan di masa mendatang juga tidak akan terwujud. (RA)