Menilik Kunjungan Deputi Menlu Rusia ke Korsel
https://parstoday.ir/id/news/world-i47365-menilik_kunjungan_deputi_menlu_rusia_ke_korsel
Igor Morgulov, deputi menlu Rusia dilaporkan tiba di Seoul, Korea Selatan untuk membantu proses penyelesaian krisis Semenanjung Korea.
(last modified 2026-04-16T09:59:01+00:00 )
Nov 27, 2017 15:42 Asia/Jakarta

Igor Morgulov, deputi menlu Rusia dilaporkan tiba di Seoul, Korea Selatan untuk membantu proses penyelesaian krisis Semenanjung Korea.

Morgulov selama kunjungannya tersebut akan bertemu dengan sejumlah petinggi Korea Selatan dan membicarakan transformasi penting Semenanjung Korea serta meredam tensi antara kedua Korea.

Igor Morgulov

Tensi antara Amerika Serikat dan Korea Utara dalam beberapa bulan terakhir mencapai puncaknya menyusul uji coba rudal dan nuklir Pyongyang, retorika dan ancaman Presiden AS Donald Trump serta langkah provokatif Washington di Semananjung Korea.

Kunjungan deputi menlu Rusia ke Korea Selatan menunjukkan bahwa petinggi Moskow masih tetap memantau transformasi Semenanjung Korea dan tensi di kawasan ini dengan penuh kekhawatiran.

Berlanjutnya konfrontasi Amerika dengan Korea Utara serta tensi antara Pyongyang-Seoul di mana Gedung Putih juga memiliki andil ditensi tersebut, sangat mengkhawatirkan bagi negara-negara kawasan khususnya Cina dan Rusia.

Donald Trump dan Kim Jong-un

Khususnya retorita Trump terhadap Korut termasuk ancaman untuk menghancurkan negara ini mendorong petinggi Pyongyang menemukan motivasi lebih besar dan tekad lebih kuat untuk mengembangkan dan menguji coba nuklir serta rudalnya.

Di kondisi seperti ini, ketika aksi-aksi provokatif Amerika di Semenanjung Korea meningkatkan tensi di kawasan, pemerintah Rusia dan Cina meyakini bahwa peran Korsel sangat urgen dalam meredam tensi dalam koridor konfrontasi negara ini dengan Korut dan Washington dengan Pyongyang.

Khususnya bahwa Seoul mampu memainkan peran penting dalam mereduksi kehadiran AS dan langkah-langkah provokatif negara ini di kawasan dengan menghentikan atau membatasi manuver gabungan.

Oleh karena itu, deputi menlu Rusia setelah dialog menlu negara ini dengan Korsel pada Agustus lalu, berkunjung ke Seoul untuk mengkaji mekanisme bantuan bagi solusi krisis Semenanjung Korea dengan petinggi Korsel.

Korea Selatan dan Korea Utara

Rusia sama seperti Cina, selain khawatir atas meningkatnya tensi dan konfrontasi antara Washington dan Seoul dengan Pyongyang, juga sangat khawatir atas penempatan peralatan logistik militer dan sistem anti rudal THAAD di Korea Selatan. Keduanya menilai hal tersebut sebagai ancaman bagi mereka dan penyebaran pengaruh militer Gedung Putih di kawasan yang akan merusak perimbangan keamanan regional.

Eugene Kim, pengamat Institut Riset Timur Jauh Rusia mengatakan, militer Amerika yang tidak puas akan pemangkasan anggaran pertahanan akibat krisis ekonomi negara ini, membutuhkan provokasi terhadap Pyongyang. Mereka dengan memercikkan api ingin menciptakan citra bahwa Korea Utara ingin menyerang Korsel dan pangkalan militer Amerika. Selain itu, Washington ingin memperkuat posisinya di Semenanjung Korea, karena dari sana mereka semakin mudah mengontrol peristiwa di Asia.

Kondisi saling mengancam Washington dan Pyongyang terjadi di saat kapal induk AS USS Carl Vinson ditempatkan di perairan Semenanjung Korea dan Kremlin sangat khawatir akan potensi meletusnya konfrontasi bersenjata di kawasan yang dekat dengan wilayahnya tersebut.

Pengulangan kekhawatiran serius Rusia akan langkah provokatif dan penyebaran pengaruh militer Amerika di Semenanjung Korea dan penjelasan dampak setiap potensi perang di kawasan bagi perekonomian dan keamanan Korea Selatan serta negara kawasan merupakan kebijakan Moskow dalam melobi petinggi Seoul. (MF)