Upaya Baru Turki Mendekati Eropa
https://parstoday.ir/id/news/world-i48859-upaya_baru_turki_mendekati_eropa
Presiden Recep Tayyip Erdogan menekankan penguatan hubungan Turki dengan negara-negara Eropa.
(last modified 2026-04-16T09:59:01+00:00 )
Des 29, 2017 12:01 Asia/Jakarta

Presiden Recep Tayyip Erdogan menekankan penguatan hubungan Turki dengan negara-negara Eropa.

Media-media Turki, termasuk surat kabar Hurriyet baru-baru ini menerbitkan laporan tentang pendekatan kebijakan luar negeri Erdogan untuk memperkuat hubungan Ankara dengan negara-negara Eropa.

"Kami tidak punya masalah dengan Jerman, Belanda atau Belgia. Sebaliknya, mereka yang berada di pemerintahan negara-negara itu adalah teman lama saya," kata Erdogan seperti dikutip koran Hurriyet pada Kamis (28/12/2017).

Menurut Erdogan, pembicaraan terbarunya dengan para pemimpin Jerman, Belanda dan Belgia berjalan sangat baik. "Saya meminta dukungan mereka soal Al Quds dan kita semua memiliki pandangan yang sama," tambahnya.

Hubungan Turki dengan negara-negara Eropa telah memburuk dalam beberapa bulan terakhir. Beberapa negara Eropa melarang kegiatan kampanye pro-Erdogan untuk menggalang dukungan bagi referendum konstitusi Turki.

Negara-negara Eropa berpendapat, referendum amandemen konstitusi Turki adalah sebuah isu internal dan para pemimpin Ankara tidak boleh memanfaatkan wilayah Eropa untuk kegiatan kampanye mereka, yang menguntungkan Erdogan.

Dalam kasus ini, para pemimpin Jerman, Belanda dan Austria secara lantang menyatakan bahwa Eropa tidak boleh menjadi subyek propaganda pemerintah Turki.

Penolakan Eropa ini sudah cukup bagi Erdogan untuk menuduh para sekutunya di Eropa bersikap rasis, melindungi teroris dan mengulangi perilaku Nazi. Sikap ini telah memperburuk hubungan Turki dengan Eropa terutama dengan Jerman, dan bahkan para pemimpin oposisi Jerman mengecam perilaku pemerintah Ankara.

Eropa sudah menyiapkan langkah balasan terhadap pendekatan agresif Erdogan. Mereka secara serius menyoroti situasi hak asasi manusia di Turki dan sikap represif pemerintah terhadap lembaga-lembaga demokrasi. Menurut Eropa, pemerintahan Erdogan telah mengabaikan prinsip dan norma demokrasi yang baku.

Jerman juga membatasi bisnis dengan Turki dan mengambil langkah-langkah untuk mengakhiri atau menangguhkan perundingan keanggotaan negara itu di Uni Eropa.

Sebenarnya, perlakuan Turki telah memberi peluang kepada Eropa untuk kembali mempromosikan prinsip-prinsip demokrasi versi mereka dan secara praktis menjadikan Ankara sebagai sasaran kritik.

Di tengah perkembangan regional dan kondisi domestik yang tidak menguntungkan pemerintahan Erdogan, para pemimpin Ankara sekarang kembali berpikir untuk merekonstruksi hubungannya dengan Eropa. (RM)