Sambutan Cina atas Upaya Kedua Korea Pulihkan Hubungan
https://parstoday.ir/id/news/world-i49355-sambutan_cina_atas_upaya_kedua_korea_pulihkan_hubungan
Juru bicara Departemen Luar Negeri Cina, Geng Shuang menyatakan dukungannya dan menyambut upaya petinggi kedua Korea untuk memulihkan hubungan kedua negara serta mengembalikan kedamaian di Semenanjung Korea.
(last modified 2026-04-16T09:59:01+00:00 )
Jan 06, 2018 10:54 Asia/Jakarta
  • Korsel-Korut
    Korsel-Korut

Juru bicara Departemen Luar Negeri Cina, Geng Shuang menyatakan dukungannya dan menyambut upaya petinggi kedua Korea untuk memulihkan hubungan kedua negara serta mengembalikan kedamaian di Semenanjung Korea.

Menyusul perilisan laporan terkait kesepakatan Korea Utara dan Selatan untuk memulai perundingan remsi pekan depan, Geng Shuang mengatakan bahwa perundingan ini secara pasti akan efektif dan memiliki pengaruh signifikan dalam memulihkan kondisi di Semenanjung Korea.

Jubir Kemenlu Cina Geng Shuang

Kementerian Unifikasi Korea Selatan menyatakan, Korut menyetujui permintaan Seoul untuk berunding dalam waktu dekat demi menyelesaikan isu-isu bersama kedua negara. Ini untuk pertama kalinya setelah dua tahun, petinggi Seoul dan Pyongyang menyatakan kesiapannya untuk memulai perundingan resmi.

Kesepakatan pemerintah Pyongyang mengirim atletnya di pertandingan Olimpiade musim dingin Pyeongchang Korea Selatan pada 9 Februari 2018, menjadi peluang yang tepat bagi pendekatan Seoul dan Pyongnya untuk berunding. Di sisi lain, kondisi Semenanjung Korea saat ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya dan mengingat kebijakan ofensif Presiden AS Donald Trump terhadap Korut dan Cina, sekutu Washington di kawasan yakni Jepang dan Korea Selatan juga merasakan bahaya.

Leon Panetta, menteri pertahanan Amerika di era Presiden Barack Obama mengatakan, "Retorika dan perilaku Trump terhadap Korea Utara, meningkatkan peluang meletusnya perang di timur laut Asia serta mengancam nyawa jutaan orang. Kita memiliki potensi perang nuklir yang dapat mengambil nyawa jutaan orang. Saya pikir semua pihak harus berhati-hati."

Selain itu, pengalaman beberapa dekade krisis di Semenanjung Korea menunjukkan bahwa hanya dialog sebagai solusi tunggal untuk menyelesaikan krisis di kawasan ini, khususnya antara Seoul dan Pyongyang. Kedua pihak pun seraya menyadari masalai ini, berulang kali bergerak ke arah perundingan dan bahkan persatuan, namun Amerika yang menilai kepentingannya hanya dapat diraih melalui pengobaran krisis di kawasan, bukan saja tidak condong ke arah pendekatan perundingan antara kedua Korea, bahkan dengan menempatkan sistem anti rudal THAAD di Korea Selatan, Washington malah mengobarkan kontradiksi dan permusuhan. Meski demikian, manajemen krisis oleh Cina dan petinggi Korea Utara dalam melawan arogansi dan ketamakan Trump bukannya tidak berpengaruh dalam mendorong sekutu Amerika ke arah perundingan.

Abdul Bari Atwan, pengamat internasional

Abdul Bari Atwan, pengamat internasional mengatakan, "Mundurnya Trump dan sekutunya di krisis Korea berhubungan dengan ketegasan dan ketahanan pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un yang tegas dalam melawan Trump serta keberaniannya memberikan ancaman balik. Di sisi lain, Trump di kasus ini tidak mendapat respon dari sekutu Eropanya, tidak seperti Cina yang tetap menegaskan dukungannya terhadap Korea Utara."

Dalam hal ini, pendekatan Korea Selatan dan Utara untuk berunding kian membuka peluang dan optimisme untuk menyelesaikan krisis Semenanjung Korea. Tapi syaratnya adalah Korea Selatan tanpa intervensi Amerika dan melalui sikap independen serta dalam koridor kepentingan nasional dan regional terlibat dalam perundingan dengan Korea Utara. Sementara untuk kesuksesan perundingan ini, Korea Selatan harus bersedia mengambil keputusan berani yang nantinya bisa jadi bertentangan dengan kepentingan Amerika. (MF)