Menguatnya Potensi Perang Dagang AS Vs Dunia
https://parstoday.ir/id/news/world-i52799-menguatnya_potensi_perang_dagang_as_vs_dunia
Menteri Perdagangan AS, mengkonfirmasikan bahwa Presiden Donald Trump tidak berniat merevisi keputusannya mengenakan tarif impor baja dan aluminium.
(last modified 2026-07-16T10:11:38+00:00 )
Mar 05, 2018 11:33 Asia/Jakarta

Menteri Perdagangan AS, mengkonfirmasikan bahwa Presiden Donald Trump tidak berniat merevisi keputusannya mengenakan tarif impor baja dan aluminium.

Wilbur Ross mengatakan Donald Trump telah membicarakan keputusannya dengan para pemimpin banyak negara soal pemberlakuan bea cukai impor baja dan aluminium ke Amerika Serikat, namun dia juga tidak berniat mengurungkan rencananya. Pada saat bersamaan, Trump dalam Tweet-nya menilai industri baja dan aluminium Amerika telah mati, dan menulis: "Waktunya telah tiba untuk perubahan."

Amerika Serikat dan Eropa

 

Namun, keputusan Trump terkait apa yang disebutnya dengan Amerika Serikat sebagai pecundang dalam kontrak bisnis dengan kawan dan lawan, mendapat reaksi keras baik di dalam maupun luar negeri. Disebutkan bahwa bahkan Kementerian Perdagangan dan Departemen Pertahanan Amerika Serikat menentang keras kenaikan pajak bea 25 persen untuk impor baja dan 10 persen untuk impor aluminium.

 

Di dalam kabinet Trump, kekhawatiran akan munculnya perang dagang antara kekuatan ekonomi utama dunia semakin meningkat. Sejumlah tokoh Republikan juga memperingatkan soal konsekuensi serius dari perang tersebut. Keputusan cepat mitra dagang AS untuk mengambil tindakan balasan terhadap politik proteksionis Washington telah menciptakan ufuk yang mengkhawatirkan bagi politisi Amerika dan para pengusaha.

 

Tentu saja, Trump bersikeras menaikkan cukai barang impor murah demi melaksanakan janji kampanyenya. Demi menyelamatkan industri baja dan aluminium, dia berencana mendukung sekitar 150.000 buruh aktif pada industri logam. Sementara itu, sekitar empat setengah juta buruh AS terancam akibat perang dagang dan kenaikan tarif pada produk ekspor dari AS oleh mitra dagang negara ini.

 

Kanada mengancam akan mengenakan tarif yang sama untuk impor baja dan aluminium dari Amerika Serikat, dan orang Eropa juga berniat memberlakukan kenaikan tarif ekspor sebagian motor, pakaian dan dan jeans dari AS. Sebaliknya, Trump juga mengancam akan menunjukkan kebijakan balasan. Penerapan ancaman ini akan mempengaruhi nasib jutaan pekerja dan konsumen di dalam dan di luar Amerika Serikat. Itulah sebabnya sejumlah pihak meminta Trump merevisi keputusannya sebelum perang dagang itu benar-benar terjadi.

 

Josh Bolton, mantan kepala Kantor Staf Gedung Putih di era pemerintahan George W. Bush, mengatakan: "Terkadang presiden harus teguh pada prinsipnya, namun dia juga harus tahu bahwa sejumlah slogan yang mereka usung dalam kampanye tidak benar dan harus dianulir. Presiden Trump harus punya keberanian untuk melakukannya."

 

Namun, seperti yang telah ditekankan oleh Sekretaris Menteri Perdagangan AS, bahkan perundingan singkat sejumlah pemimpin negara dunia dengan Trump tidak mampu mempengaruhi keputusannya untuk memulai babak baru perang dagang, yang akan menjadi pukulan besar bagi perekonomian AS dan dunia.(MZ)