Besarnya Kiprah Petrodollar Saudi di PBB
https://parstoday.ir/id/news/world-i54128-besarnya_kiprah_petrodollar_saudi_di_pbb
Pengeran Mahkota Arab Saudi, Muhammad bin Salman 27 Maret 2018 bertemu degan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres, di markas besar organisasi ini di New York.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Mar 29, 2018 09:28 Asia/Jakarta
  • bin Salman dan Guterres
    bin Salman dan Guterres

Pengeran Mahkota Arab Saudi, Muhammad bin Salman 27 Maret 2018 bertemu degan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres, di markas besar organisasi ini di New York.

Pertemuan Putra Mahkota Arab Saudi dengan Sekjen PBB itu masih dalam kerangka agenda kunjungan bin Salman ke Amerika Serikat. Bin Salman memulai tur dua minggu ke Amerika Serikat pada tanggal 20 Maret. Adapun pertemuan Putra Mahkota Arab Saudi dan Sekjen PBB mesinyalir beberapa poin penting.

 

Poin pertama adalah, 73 tahun berlalu sejak pembentukan PBB, namun lembaga internasional itu tetap belum independen. PBB dibentuk pada dekade 40-an dengan basis perspektif liberalisme institusional. Berdasarkan teori ini, pelembagaan hubungan internasional akan memperkuat kerjasama antar negara dan mengurangi krisis global.

 

Berseberangan dengan pandangan tersebut, adalah kelompok neorealis dalam hubungan internasional yang meyakini bahwa kancah global adalah medan kekuatan politik, dan pelembagaan termasuk pembentukan PBB, akan menjadi sarana melayani  kekuatan adidaya daripada mereduksi krisis atau meningkatakan kerjasama. Bahkan kekuatan-kekuatan tersebut akan memanfaatkan PBB guna mencapai tujuan mereka.

 

Indikasi paling jelas dalam pertemuan terbaru bin Salman dengan Guterres adalah dominasi pandangan neorealis di hadapan liberalis, mengingat Sekjen PBB, tidak sedikit pun menyinggung kejahatan Saudi di Yaman, dengan imbalan suntikan dana satu miliar dolar dari Pangeran Mahkota Saudi.

Muhammad bin Salman

 

Poin kedua adalah Arab Saudi masih menggunakan diplomasi petrodollar untuk menutupi kejahatannya. Meskipun Arab Saudi bukan kekuatan berpengaruh di PBB, namun ia mencoba mempengaruhi kinerja organisasi melalui diplomasi petrodollar.

 

Berdasarkan laporan terbaru dari Dana Anak-Anak PBB (UNICEF), hampir setengah juta anak-anak Yaman telah meninggalkan sekolah sejak tahun 2015, dan 4,5 juta anak Yaman berisiko tidak dapat belajar, serta lebih dari 2.500 sekolah tidak bisa digunakan. Dengan kata lain, anak-anak adalah korban utama agresi Arab Saudi di Yaman.

 

Pada awal tahun keempat perang Saudi di Yaman, Kantor Koordinasi Kemanusiaan PBB juga mengumumkan bahwa sekitar 80 persen infrastruktur Yaman hancur dan lebih dari satu juta warga Yaman terkena dampak kolera. Bin Salman berusaha mengucurkan bantuan satu miliar dolar untuk Yaman, di saat seluruh penderitaan dan kerusakan yang terjadi di Yaman adalah hasil dari politik Arab Saudi sendiri.

 

Poin pengting lainnya, Antonio Guterres menyebut bantuan satu miliar dolar Pangeran Mahkota Arab Saudi itu sebagai tindakan kemanusiaan, setelah dia sebelumnya berulang kali menyatakan bahwa Yaman sedang menghadapi krisis kemanusiaan terburuk dalam beberapa dekade terakhir. Kontradiksi nyata ini, menunjukkan bahwa PBB punya masalah akut dengan independensi.

 

Di satu sisi, kelemahan ini disebabkan oleh masalah finansial organisasi ini dan di sisi lain, karena pengaruh kekuatan-kekuatan besar Barat pada lembaga internasional tersebut. Amerika Serikat dan Inggris termasuk di antara pendukung terkuat Arab Saudi dalam agresi di Yaman, dan keduanya juga memiliki pengaruh besar di PBB.

 

Sekjen PBB membungkuk di hadapan petrodollar Arab Saudi, dan mengabaikan serangan brutal Riyadh ke negara jirannya, di saat Ban Ki-moon, mantan sekjen PBB sebelumnya, telah mencabut nama Arab Saudi dari daftar hitam negara-negara pelanggar hak-hak anak setelah mendapat suntikan dana dari Arab Saudi.(MZ)