Ancaman AS dan Kedekatan Korea Utara-Rusia
https://parstoday.ir/id/news/world-i54760-ancaman_as_dan_kedekatan_korea_utara_rusia
Menteri Luar Negeri Korea Utara, Ri Yong-ho, baru-baru ini setelah melawat Cina dan Azerbaijan, langsung bertolak ke Moskow, Rusia.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Apr 09, 2018 13:48 Asia/Jakarta
  • Ri Yong-ho
    Ri Yong-ho

Menteri Luar Negeri Korea Utara, Ri Yong-ho, baru-baru ini setelah melawat Cina dan Azerbaijan, langsung bertolak ke Moskow, Rusia.

Menlu Korea Utara dijadwalkan bertemu dengan sejawatnya dari Rusia, Sergei Lavrov hari Selasa (10/4/2018) untuk membicarakan perluasan kerja sama bilateral dan krisis di Semenanjung Korea.

Kunjungan Menlu Korea Utara ke Rusia yang dilakukan di tengah berlanjutnya dialog pejabat tinggi Korea Utara dan Selatan guna meredakan ketegangan dan santernya isu pertemuan Presiden Amerika Serikat dan Pemimpin Korea Utara, diyakini telah mengubah situasi di Semenanjung Korea.

Karena Rusia dan Cina selama ini adalah sekutu Korea Utara, maka lawatan terbaru Pemimpin Korea Utara ke Cina baru-baru ini dan kunjungan beberapa pejabat Pyongyang ke sejumlah negara termasuk Rusia, menjadi isu yang perlu diamati serius.

Korea Utara untuk pertama kalinya secara transparan kepada Amerika mengumumkan kesiapan untuk berdialog seputar upaya pemulihan hubungan terkait nuklir di Semenanjung Korea. Sepertinya, Korea Utara membutuhkan berlanjutnya dukungan Rusia dan Cina sebagai negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB, untuk memajukan program-programnya.

Korea Utara, Cina dan Rusia

Sementara Rusia tidak ingin krisis di Semenanjung Korea terus memanas, pasalnya hal itu akan membuka peluang bagi Amerika untuk meningkatkan kehadiran militer di wilayah tersebut dan menambah kekuatan di perairan sekitar Cina dan Korea Selatan yang dianggap mengancam keamanan Rusia secara serius.

Seorang pakar urusan Korea Utara, Leonid Petrov mengatakan, Korea Utara selama setengah abad bermain dengan kartu Cina dan Rusia, dan membiarkan keduanya bersaing untuk meningkatkan pengaruh atas negara itu.

Semakin ketatnya sanksi Amerika terhadap Korea Utara bersamaan dengan tekanan ekonomi Washington atas Cina, mendorong Korea Utara terus mendekat ke Rusia. Meskipun di saat yang sama Beijing menekankan upaya memperkokoh aliansinya dengan Rusia untuk melawan tekanan Amerika.

Di sisi lain, mengingat sanksi Barat terhadap Rusia, negara ini turut diuntungkan dari permainan dengan kartu Korea Utara, dan Moskow berusaha menunjukkan kepada Amerika bahwa ia berada dalam sebuah koalisi kuat dalam melawan Washington, dengan cara mendukung Pyongyang.

Pakar urusan Rusia, Samuel Ramani menuturkan, kerja sama dengan Korea Utara bisa sangat menguntungkan bagi Rusia. Ditambah selama ini Moskow membuktikan dirinya sebagai sekutu setia bagi sejumlah negara yang terkena sanksi Amerika dan Barat.

Rusia percaya, isu nuklir Korea Utara tidak boleh menjadi dalih bagi Amerika untuk menggulingkan pemerintahan negara itu dan Amerika harus menemukan solusi diplomatik guna menghakhiri krisis di Semenanjung Korea dengan menghentikan tekanan politik dan militer terhadap Pyongyang.

Sikap Rusia ini mendapat sambutan baik dari Korea Utara, dan Pyongyang saat ini tengah berusaha menjalin koordinasi dan melakukan negosiasi dengan Rusia dan Cina guna mengatur pertemuan antara Presiden Amerika dan Korea Selatan dengan Pemimpin Korea Utara. (HS)